Mengikat Serat, Memintal Angan Bentara Budaya Jakarta menggelar pameran seni serat kontemporer. Tak lagi sekadar kriya. |
Bak tirai, 1.600 kertas tisu melayang di tengah ruangan Bentara Budaya Jakarta, pekan lalu. Kertas tipis putih itu tampak kaku tergantung: vertikal berjajar-jajar, membentuk ruang bujur sangkar. Utasan-utasan benang menggantung, membuat setiap helai tisu mudah bergoyang diembus angin. Ringan seperti awan, namun kaku saat disentuh.
Di lantai, tertempel judul Future Forest yang digagas Biranul Anas, sang kreator. Baginya, kertas-kertas tisu itulah wujud hutan masa depan. "Sekarang semua orang pakai tisu, padahal itu kan diambil dari hutan. Lama-lama hutannya makin tipis," kata Anas, sang seniman yang juga dosen.
Anas memang tengah melakukan kritik sosial. Lewat keindahan, ia me-nyindir minimnya kesadaran lingkungan kebanyakan orang yang saat ini begitu bergantung pada tisu.
Teknik pembuatan Future Forest lumayan mudah. Anas mengolesi setiap tisu dengan cairan kanji tapioka. Lantas dijemur sampai kering. Setelah kaku, kertas itu diremas-remas dan siap digantung di pameran Posting Fiber yang menampilkan karya seni rupa serat kontemporer bersama Tiarma Dame Ruth Sirait, Kahfiati Kahdar, dan John Martono.
Proses yang agak rumit dimunculkan Anas di karya-karya tapestry. Salah satunya bisa dilihat di karya Doa buat Nanggroe. Ia memintal benang besar semacam wol dengan teknik tenun pakan. Lantas ia menyerakkan bilah kayu hitam berujung lancip dan kasar di sela-sela benang. "Itu semacam gambaran banyaknya puing yang terhampar di Aceh sekarang," kata Anas.
Tapestry-nya yang lain juga mengalami perlakuan yang sama. Ia cenderung melakukan kolase dengan melibatkan materi-materi yang unsurnya sangat kontras dengan sifat serat yang cenderung lunak dan fleksibel. Anas menyisipkan bambu, plastik, ranting kering di permukaan tapestry. Hasilnya kombinasi meriah yang menyegarkan mata.
Karya instalasi lainnya bisa dilihat di sebuah manekin mengenakan baju bergaya pengantin wanita Eropa. Diciptakan Tiarma Sirait yang saat ini masih menyelesaikan program master di University College of Boras, Swedia, pakai-an manekin itu terbuat dari mendong?semacam jerami. Hasilnya memang cukup kontroversial. Patung ayu itu tampak menggugat konsep modernitas Barat yang dipaksakan diterapkan di dalam negeri dengan mengadopsi materi lokal.
John Martono juga memamerkan instalasi. Ia memasang tiang-tiang besi berujung lingkaran sebanyak 15. Berjudul Grow, karya itu berwujud kawat-kawat yang dibelit benang wol dan kawat cokelat. Instalasi ini sudah tiga kali dipamerkan. Pertama kali di Bandung pada 2000 dan di pameran Mapping Asia di Taiwan pada 2003. Namun karya-karya itu tak pernah sama persis?sesuai dengan konsep Grow yang dimilikinya.
Bertumbuh bagi John berwujud lingkaran. Bentuk ini mewakili konsep yang berkembang, dengan cetusan-cetusan perubahan yang berkaitan dan melibatkan aksi dan reaksi. Intinya sebuah proses. Tak mengherankan jika ia me-wujudkannya dengan pergumulan materi-materi mentah yang belum terolah?kerangka besi yang masih dililit benang.
John juga melakukan kolase lewat kain sutra. Ia memperlakukannya seolah kanvas. Pengajar Boras School of Textile, Swedia, ini mengupayakan beragam teknik untuk menciptakan berbagai warna dan imaji di atas sutra. Baginya, sutra tak hanya berkesan eksklusif, tapi mewakili produk dalam negeri. Meski untuk itu diperlukan ketelatenan teramat sangat. Warna yang sudah dicelup harus melalui proses steam untuk mempertahankan warna. "Saya gulung melingkari sebuah tongkat dan direbus secara berdiri. Jadi dandangnya harus besar dan tinggi," kata lelaki berambut keriting ini. Perebusan minimal dua jam.
Sebagian besar, John melakukan pencelupan warna kembali, menambahnya dengan kuas?seperti melukis di atas kanvas?hingga menambah aksen dengan teknik embroider. Tak jarang ia menisik dan menyulam suatu motif di atasnya. Berbeda halnya dengan Anas yang menggunakan tenaga orang lain, John mengerjakan sendiri karyanya sekitar 80 persen.
Hal ini juga dilakukan Kahfiati Kahdar, yang bahkan berani melakukan eksplorasi di atas kain bermotif. Sebagian besar motif yang dipilihnya batik. Namun tak semuanya. "Khusus batik yang saya anggap gagal. Maksudnya sudah rusak atau cacat," ujar Kahfiati, yang akrab dipanggil Fifi. Tujuannya untuk menyelamatkan.
Fifi sangat mencintai batik. Bagi gadis yang meraih gelar master dari St. Martins College of Art and Design, London, tahun lalu ini, batik mewakili sebuah konsep tentang identitas. Ia mewujudkannya dengan mencoba mempertahankan motif-motif asli. Bahkan tak jarang ia menggambarnya kembali. Namun Fifi tak sekadar mendaur ulang. Ada sebuah karya yang menampilkan konsep multi-culture. Ia mengkolasekan kain jins di atas kain sutra dan mencetak motif-motif etnis.
Bertahan dengan kain, Fifi menampilkan bermacam aplikasi yang berani. Gadis kelahiran 20 November 1975 ini bahkan menampilkan motif yang dihasilkan dari mencetak tanah liat di atas kain. Teksturnya menarik, antara bentuk kotak dan garis. "Bahkan saya pernah mencetak hak sepatu saya di atas kain. Tentunya setelah dicelup warna," katanya sambil tertawa. Eksperimennya juga muncul saat menjadikan irisan kentang sebagai stempel.
Dalam pameran tersebut, Fifi menampilkan pengolahan materi yang sangat beragam?tak hanya sutra dan katun. Fifi juga mencetak motif warna dan gambar di atas kulit domba dan bulu sintetis. "Bulu paling susah pengolahannya, membutuhkan cukup banyak waktu," katanya. Hasilnya memang tak sepenuhnya memuaskan. Di atas bulu-bulu itu, warna putih yang membentuk figur bunga tampak menggumpal dan berada di permukaan?mengesankan sewaktu-waktu bisa terburai.
Meski pameran ini terbilang berhasil mendudukkan karya serat tak sekadar kriya, tapi karya-karya itu tak bisa dilepaskan dari aspek fungsional. Serat-serat itu bagaimanapun bisa diterapkan sebagai produk awal industri fashion. Fifi contohnya. Ia menampilkan sampel-sampel kain olahannya yang biasanya dikirimkan ke industri?ia bekerja sama dengan sebuah butik di Bandung. "Saat saya sekolah di Inggris pun, perancang terkenal seperti dari Louis Vitton pun mengunjungi sekolah untuk melihat kain yang dihasilkan para siswa. Jika tertarik, mereka akan mengontraknya," kata Fifi.
Lewat kisah ini, Fifi mengangankan adanya sinergi antara seniman tekstil dan pihak industri, yang hingga sekarang tak terwujud di Indonesia. Padahal mereka telah berhasil membuktikan bagaimana sebuah materi tidak menghalangi imajinasi seni. Pemisahan fine art dan craft tak lagi relevan. Dengan penguasaan teknik?yang tak hanya diperlukan serat, namun juga lukisan?mereka tetap bisa mengeksplorasi warna, bentuk, dan tekstur.
Melihat karya-karya itu, mungkin "supremasi" lukisan tidak lagi bisa dipertahankan. Boleh jadi, lukisan bisa menggunakan dinding sebagai ruang pamer. Tapi serat-serat ini bisa diaplikasikan ke dalam tubuh di tempat-tempat publik. Kita tahu, lewat pameran ini, dikotomi seni tersebut sempit dan terbatas.
F. Dewi Ria Utari
|