Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 47/XXXIII/17 - 23 Januari 2005
   
Olahraga

Tergoda Bakat-bakat Asing

Singapura berani menaturalisasi pemain asing untuk meningkatkan kualitas tim sepak bolanya. Targetnya ambisius.

AKHIRNYA Lala, 18 tahun, menemukan jawaban. Gadis Singapura penggila klub Liverpool ini sudah lama penasaran: mengapa di layar kaca begitu banyak gadis yang bertingkah urakan saat menyaksikan pertandingan di Stadion Anfield, Inggris. Jawaban dia dapatkan ketika untuk pertama kali dalam hidupnya menyaksikan secara langsung di lapangan. Lala menonton pertandingan semifinal Piala Tiger antara Singapura dan Myanmar yang digelar di Nasional Stadium, Singapura, awal Januari lalu.

Gadis yang biasa berpenampilan tenang itu tahu-tahu sudah larut bersama ribuan penonton lain: melonjak-lonjak, menjerit, bertepuk, dan berteriak menyemangati tim negaranya. Lala jadi paham, sepak bola bisa membuat orang bertindak hal-hal yang di luar kebiasaan.

Ketika keluar stadion, Lala puas karena Singapura menang 4-2. Dia pun mendapatkan tambahan seorang idola baru: Agu Casmir, 20 tahun. Selama ini dia hanya membaca tentang striker Singapura kelahiran Nigeria ini di koran atau melihat di televisi. "Banyak orang bilang dia seperti Cisse (Djibril Cisse, pemain Liverpool). Ternyata memang benar. Agu persis Cisse yang sering mendapat peluang tapi sering kali gagal membuat gol. Untung, akhirnya dia berhasil mencetak gol di babak kedua," katanya seperti dituangkan dalam sebuah forum obrolan di internet.

Agu Casmir yang digandrungi Lala merupakan sosok unik di tim Singapura. Bersama pemain sayap Itimi Dickson, 21 tahun, dan pemain belakang Mark Daniel Bennet, 26 tahun, ia adalah pemain asing yang kemudian mendapat kewarganegaraan Singapura. Casmir dan Dickson berasal dari Nigeria, adapun Daniel Bennet berasal dari Inggris. Ketiganya menjadi pilar tim Singapura yang diasuh oleh Raddojko Avramovic asal Sebia-Montenegro. Di ajang Piala Tiger, tim ini tampil memukau termasuk saat mengalahkan tim Indonesia dalam pertandingan final pertama di Jakarta dengan skor 1-3 pada 8 Januari lalu. Hingga pertandingan tersebut, Agu Casmir telah menyumbang lima gol, Bennet mencetak dua gol, dan Dickson menceploskan satu gol.

Itulah buah dari strategi Singapura dalam membangun sepak bolanya. Selain menguatkan pembinaan pemain muda dengan mendirikan Akademi Sepak Bola Nasional pada 2000, mereka tak segan-segan merangkul pemain-pemain asing. Sebelumnya, ada dua pemain yang sudah lebih dulu direkrut, yakni pemain Brasil Engmar Goncalves, 33 tahun, dan pemain Kroasia Mirko Grabovac, 33 tahun. Namun, karena usia yang sudah tua keduanya tak lagi disertakan pelatih Avramovic dalam timnya.

Singapura adalah negeri kecil dengan sumber daya terbatas. Itu sebabnya, pemanfaatan sumber daya asing menjadi pilihan di berbagai bidang kehidupan. Pemerintah Singapura telah mencanangkan program nasional bertajuk Kebijakan Skema Talenta Asing sejak 1998. Dengan kebijakan ini, mereka membuka pintu bagi tenaga asing berbakat yang sudah tinggal beberapa tahun di sana untuk menjadi warga negara Singapura. Sudah banyak yang terjaring lewat program ini. Di bidang olahraga terdapat puluhan atlet asing yang menjadi warga negara Singapura, termasuk Ronald Susilo, pemain bulu tangkis asal Indonesia.

Sebagai pemain asing yang mendapat status istimewa, mereka dituntut selalu berprestasi cemerlang. Bila tidak, kritik pedaslah yang datang. Casmir pernah mengalaminya. Pria kelahiran Lagos, Nigeria, ini mulai berlaga di Singapura sejak 2002. Dia langsung menggebrak dengan menyumbangkan 26 gol untuk klubnya, Woodlands Wellington. Ketajamannya membuat Asosiasi Sepak Bola Singapura (FAS) merayu Casmir agar bersedia menjadi warga negara Singapura setahun kemudian. Tapi saat memperkuat tim nasional kemampuan pemain ini seolah menguap. Tak satu gol pun tercipta dalam delapan pertandingan pertamanya.

Media massa Singapura lalu berlomba-lomba mengkritik Casmir. Pelatih Avramovic pun ikut bersuara minor dan menyatakan dia sesungguhnya berharap sesuatu yang lebih dari pemain ini. Casmir sendiri telah berusaha tampil lebih baik meski baru sembuh dari cedera paha dan urat lutut. "Saya sesungguhnya masih butuh waktu, tapi saya juga sadar saya tak memilikinya," katanya. Di Piala Tiger 2004, ia mulai unjuk gigi. Berpasangan dengan Alam Shah di lini depan, Casmir telah menyumbangkan cukup banyak gol.

Itimi Dickson juga sempat bernasib sama. Memperkuat Jurong FC sejak 2000, ia dibidik FAS karena kecepatan dan kemampuannya mengolah bola. Tapi setelah menerima kewarganegaraan pada September lalu, Dickson justru lebih sering jadi cadangan saat timnya menjalani pertandingan-pertandingan awal Piala Tiger 2004. Dia baru menjadi pemain inti setelah memasuki partai semifinal dan final. "Kini ia makin matang dan mampu memberikan 100 persen kemampuannya bagi tim Singapura," puji pelatih Avramovic.

Tak sekadar mengejar uang, pemain asing bersedia menjadi warga negara Singapura juga demi mendapatkan kepuasan. Menurut Daniel Bennet, bila hanya memburu fulus, ia bisa mendapatkannya di S-League. Bennet menuturkan, bermain sepak bola dengan disaksikan ribuan penonton merupakan obsesi setiap pemain bola. Suasana seperti ini hanya didapatkan jika ia membela tim Singapura. Lihatlah saat timnya mengalahkan Indonesia 1-3 pada partai final di Jakarta. Ketika itu tak kurang dari 110 ribu penonton memadati stadion. Bennet pun tampil gemilang dengan mencetak gol pertama Singapura di menit awal lewat tendangan jarak jauh. "Hal seperti inilah yang mendorong saya jadi pemain bola. Kesempatan seperti ini saya akui susah didapat di negara kelahiran saya," katanya.

Lahir di Great Yarmouth, Inggris, Bennet tinggal di Singapura sejak usia 2 tahun, mengikuti keluarganya. Ketika berusia 17 tahun, tepat pada 1995, ia telah membela klub Tiong Bahru. Bennet pernah menjadi pemain terbaik Liga Singapura pada 2001. Setahun kemudian dia mendapat kewarganegaraan Singapura dan langsung memperkuat tim nasional di ajang Piala Tiger 2002. Sayang, dalam ajang yang digelar di Jakarta itu Singapura gagal lolos dari babak penyisihan. Itu sebabnya, kemenangan atas Indonesia dua pekan lalu sangat berarti baginya. "Saya berutang pada Singapura untuk menunjukkan yang terbaik," katanya.

Bertumpu pada pemain-pemain hasil naturalisasi, bangsa Singapura berharap sepak bola mereka maju lebih cepat. Bahkan pada 2000, FAS berani menentukan target yang ambisius: Singapura harus ikut Piala Dunia pada 2010. Tapi Juni tahun lalu impian ini menghadapi kenyataan pahit. Di ajang Pra-Piala Dunia, Singapura justru dibantai Oman 7-0.

Presiden FAS, Profesor Ho Peng Kee, mengakui target masuk Piala Dunia itu mungkin justru jadi beban dan berbalik jadi kontraproduktif. Karena itu, mereka pun memutuskan menetapkan target baru, yakni dalam lima tahun ke depan Singapura menjadi tim yang disegani di Asia Tenggara dan masuk 10 tim terbaik di level Asia. "Tapi bila ditanya apakah kami masih berusaha mengejar tiket ke Piala Dunia 2010, jawabannya adalah ya. Semangat ini akan mendorong kami untuk terus melangkah maju," katanya.

Nurdin Saleh


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data