Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 47/XXXIII/17 - 23 Januari 2005
   
Nasional

Membaca Sinyal dari Lampung

Kedatangan Tsunami bisa diketahui hanya tiga menit setelah gempa. Sistem peringatan dini segera disiapkan.

AHAD pagi, tiga pekan lalu. Layar monitor di pusat informasi gempa Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) di Jakarta tak pernah berkedip. Begitulah selalu. Tepat pukul 08.00, stasiun pencatat gempa di Lampung, yang tersambung online dengan Jakarta, mengirimkan gambar: ada getaran tidak biasa.

Ketika itu pencatat gempa di tempat lain belum mengirim sinyal getaran. Dua karyawan piket pagi itu belum bisa menentukan pusat gempa: belum ada data pendukung dari alat pencatat lain. Satu menit kemudian mereka melihat sinyal dari stasiun pemantau di Jawa Barat. Setelah itu, susul-menyusul, 30 stasiun pencatat gempa yang tersebar di Indonesia mengirim sinyal.

Ada aliran gempa, pasti! Terakhir, data dari Papua diterima tujuh menit kemudian dengan getaran yang makin lemah. Melihat aliran getaran, kedua karyawan piket memastikan pusat gempa di wilayah Sumatera bagian utara. Mereka segera menghubungi stasiun gempa di Medan dan Banda Aceh, yang tidak tersambung online karena disambar petir beberapa bulan sebelumnya.

Melalui telepon, petugas di kedua tempat itu melaporkan getaran 8,9 pada skala Richter, satu menit sebelum pencatat gempa di Lampung mengirim sinyal. Piket di Jakarta segera memasukkan data dari semua stasiun pencatat gempa ke dalam komputer. Butuh waktu 30 menit bagi software buatan 15 tahun silam itu menentukan titik pusat gempa. Alangkah lambatnya.

Akhirnya ketemu juga: sumber getaran berada di Samudra Hindia, sebelah barat Kota Meulaboh, pada kedalaman 30 kilometer dari lantai samudra. Pada saat hampir bersamaan, Budi Waluyo, Kepala Sub-Bidang Informasi Gempa Bumi BMG, datang ke kantor. Hari itu mestinya ia libur. Tetapi, setengah jam sebelumnya, satu stasiun radio di Jakarta menanyakan informasi gempa yang dirasakan pendengar mereka di Medan.

"Pak, ada gempa," kata anak buahnya ketika melihat Budi masuk. "Ya, sudah tahu. Di mana?" Kedua anak buahnya menyerahkan hasil analisis mereka. Budi melaporkan hasil analisis ke Priharyadi. Kepala Pusat Sistem Data dan Informasi BMG ini meminta Budi memastikan ketepatan analisis sebelum berita gempa itu disebarkan. Butuh waktu sekitar 15 menit untuk meyakinkan perhitungan mereka tepat. Setelah itu, berita gempa disebarkan ke berbagai instansi pemerintah dan media untuk dipublikasikan.

***

PACIFIC Tsunami Warning Center di Honolulu, Hawaii, menerima laporan serupa dari stasiun deteksi gempa di Canberra, Australia. Pusat siaga tsunami itu segera mengirim peringatan kepada 26 anggotanya di kawasan Pasifik?termasuk Indonesia dan Thailand?melalui surat elektronik, 15 menit setelah gempa. Laporan itu hanya menginformasikan lokasi pusat gempa.

Sekitar 50 menit kemudian mereka mengirim peringatan kedua. Dalam peringatan ini mereka menyebut kemungkinan gawat: gelombang tsunami di kawasan sekitar pusat gempa. Namun, surat elektronik yang dikirim ke BMG di Jakarta baru dibuka sehari kemudian. Staf yang punya otoritas membuka surat itu sedang libur.?

DI Samudra Hindia, waktu bergerak lebih cepat dari permainan angka dan data di komputer. Pertemuan dua lempeng?Asia dan India?terban sekitar 20 meter sepanjang 1.000 kilometer. Gerakan itu melepaskan energi yang besarnya lebih dari 20 ribu kali kekuatan bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima pada 1945. Amuk gelombang yang diciptakannya menyebar ke seluruh Samudra Hindia.

Tak pernah ada peringatan dari otoritas bencana agar penduduk menjauhi pantai di kawasan sekitar gempa. Gelombang besar dengan kecepatan setara pesawat jet menggulung Kota Meulaboh ketika petugas jaga di Jakarta baru saja menemukan lokasi pusat gempa. Gelombang itu terus bergerak melibas pantai-pantai sisi barat Pulau Sumatera.

Ketika petugas BMG mengirimkan berita gempa melalui faksimile, air laut mulai menelan Banda Aceh. Peringatan ancaman tsunami dari Honolulu terkirim berbarengan dengan air bah yang sudah mendekati pantai-pantai Thailand?600 kilometer jauhnya dari pusat gempa. Di negeri itu, Selasa pekan lalu, Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra memecat Kepala Badan Meteorologi Thailand, Suparerk Tansriratanawong.

Thaksin mempertanyakan, mengapa badan meteorologi negerinya tak memberi peringatan. "Saya ingin tahu yang sebenarnya," kata Thaksin tentang bencana yang membunuh lebih dari 11.000 penduduk Thailand itu. Suparerk punya jawaban: dalam 300 tahun terakhir tak terdapat catatan sejarah yang menyebut Thailand pernah dilanda tsunami. "Siapa menyangka?" katanya, seperti dikutip Reuters.

***

KEPALA bidang gempa bumi di BMG, Suhardjono, menyatakan gempa tidak mungkin bisa diramal. Jika terjadi di dasar laut dan di atas 6 pada skala Richter, memang ada peluang tsunami. "Semua ahli geologi juga tahu," ujarnya. Masalahnya, belum tentu terjadi tsunami. Mereka tidak memperingatkan instansi terkait untuk mengungsikan penduduk karena tsunami masih dalam potensi "mungkin".?

Tsunami sangat bergantung pada jenis patahannya. Jika patahan itu hanya bergeser secara horizontal, kecil kemungkinan terjadi tsunami. Tetapi, kali ini patahan itu anjlok. Ancaman tsunami baru bisa dipastikan dengan tsunamimeter, alat pendeteksi gerakan tsunami. Di kawasan Samudra Hindia, alat itu belum terpasang.

Berbeda halnya dengan kawasan Pasifik. Di sana terpasang tiga tsunamimeter yang duduk bersiaga di lantai laut. Alat ini membaca gerak-gerik air laut, kemudian mengirimkan data melalui satelit. Data itu berisi besarnya energi gelombang, serta meramalkan waktu gelombang akan menyentuh pantai. Semua proses itu berlangsung tak lebih dari tiga menit.

Pemasangan alat yang harganya sekitar Rp 182 miliar inilah, di Samudra Hindia, yang diusulkan dalam KTT Tsunami di Jakarta, dua pekan lalu. Tetapi, tak kalah pentingnya menurut Suhardjono adalah pendidikan kepada masyarakat mengenai gempa dan tsunami, yang biayanya tentu lebih murah dari peralatan canggih itu.

Misalnya, ketika terjadi gempa disusul surutnya laut secara drastis, penduduk tahu tsunami bakal datang. Dalam tempo beberapa menit, mereka masih sempat menyelamatkan diri ke tempat-tempat yang lebih tinggi. Hal ini terbukti ampuh seperti yang dilakukan penduduk Pulau Simeulue, yang hanya berjarak 40 kilometer dari pusat gempa. Akibatnya, hanya lima orang yang tewas.

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur sedang menyiapkan rencana menarik. Mereka akan menempatkan mata pelajaran gempa bumi sebagai mata pelajaran wajib pada muatan lokal dalam kurikulum pendidikan di daerah itu, mulai tahun ajaran baru tahun ini. Provinsi lain yang punya kemungkinan dilanda gelombang maut itu juga sebaiknya berjaga-jaga dan menyusun sistem siaga yang paling tepat untuk kawasannya masing-masing. Bencana Aceh dan Sumatera Utara merupakan pengalaman yang sangat-sangat mahal.

Agung Rulianto, Dewi Anggraeni (Melbourne), Jem's de Fortuna (Kupang)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data