Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 47/XXXIII/17 - 23 Januari 2005
   
Nasional

Yang Bertumbuh Setelah Bencana

Secara sporadis kontak senjata kembali meletup di tengah operasi kemanusiaan di Aceh. Jalan perdamaian belum tertutup.

LILIN itu hampir tandas dimakan api, tapi Hadi Rangkuti, 64 tahun, masih belum bisa memicingkan mata. Malam itu, Meulaboh, kota di tepi pantai barat Aceh, sudah lima hari dilantak gempa dan tsunami. Listrik mati. Gelap membungkus kota dan juga bangunan SMA Unggul, tempat puluhan keluarga Polri korban bencana berteduh mengungsi. Sejumlah lelaki tertidur lelap di kursi sambil memeluk senapan Kalashnikov.

"Kami menunggu tiga kompi pasukan bantuan," ujar Hadi, relawan dari Organisasi Radio Amatir Republik Indonesia (Orari) Sumatera Utara. Mengaku bekas anggota Brigade Mobil dan kini menekuni hobi ngebrik, Hadi mungkin relawan pertama yang membuat Meulaboh tembus ke dunia luar. Dialah yang menyiapkan pemancar radio pada hari ketiga bencana. Saat itu semua saluran telepon putus. Tsunami membungkam total kota itu.

Hadi sudah melempar pesan penting itu ke udara, bahwa tempat pengungsian aparat sekaligus posko sementara Polres Aceh Barat itu butuh pengawalan khusus. "Daerah ini adalah basis pemberontak," kata dia. Bangunan itu berada di pinggiran hutan sunyi. Untuk berjaga-jaga, Hadi bahkan meminta sepucuk senjata. Di gedung itu, banyak aparat terluka dan pertahanan sangat lemah. Kalau saja ada serangan gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka malam itu, "Semua bisa tamat," katanya.

Untunglah, hari itu tak ada bencana lain yang datang. Juga tak ada serangan bersenjata. Meski begitu, di Meulaboh, aparat tampaknya memilih waspada. Begitu juga para prajurit yang memindahkan mayat dari reruntuhan rumah dan pertokoan. Meski tak sedang operasi tempur, senjata sepertinya tak lekang dari tangan mereka.

Di Aceh, sebelum bencana tiba, operasi militer memang masih gencar. Bahkan tsunami mahadahsyat itu ternyata cuma mampu meredam konflik bersenjata sebentar saja. Memang, sehari setelah bencana, markas besar Gerakan Aceh Merdeka di Swedia menyatakan gencatan senjata secara sepihak. "Agar rakyat Aceh bisa menerima bantuan kemanusiaan tanpa halangan," ujar Perdana Menteri GAM Malik Mahmud di Norsborg, kawasan di sebelah selatan Stockholm, ibu kota Swedia. Pernyataan sama diulangi dalam siaran pers resmi Rabu pekan lalu.

Tapi suasana tanpa letusan senjata hanya bertahan sepekan. Belakangan, dar-der-dor yang meletihkan saraf itu berjangkit lagi. Di Aceh Utara, misalnya, dilaporkan Tim Matador Batalion Infanteri 7 Marinir telah menembak dua anggota GAM. Gerilyawan itu mengendap-endap mendekati lokasi pengungsi di Desa Cot Kafiraton, Kecamatan Seuneudon, Aceh Utara, Kamis dua pekan lalu.

Menurut suara resmi TNI, aksi itu terjadi sewaktu Marinir melakukan patroli. Saat itu, enam orang anggota GAM tengah melintas di pematang sawah. Rupanya, kedua pihak itu beradu jalan. "Sewaktu disapa, mereka melepaskan tembakan," ujar Komandan Yonif 7 Marinir Letkol (Mar) Bambang. Lalu peluru pun berhamburan. TNI mengklaim dua gerilyawan tewas. Sisanya melarikan diri. Dua pucuk senapan AK-56 dan ratusan butir peluru disita aparat.

Tentu saja, di tengah konsentrasi pekerjaan membantu korban bencana di Aceh, kabar itu membuat kecut para relawan. Di Solo, misalnya, tim SAR Uni-versitas Sebelas Maret (UNS) menarik para relawannya kembali ke kampung. Mereka ketar-ketir menjadi sasaran baku tembak antara GAM dengan TNI. "Intensitas konflik itu mulai meningkat,'' kata Gatot Sugihartono, komandan tim SAR UNS.

Menurut Gatot, serangan kini telah merambah ke Banda Aceh. Kalau sudah begitu, nyawa para relawan sangat terancam. Daripada cari perkara, kata Gatot, relawannya berusaha menghindar. Tim yang dikirim UNS itu termasuk juga tenaga dokter. "Tak ada jaminan perlin-dungan bagi para relawan,'' kata Gatot. Menurut dia, ancaman utama adalah penyanderaan dokter oleh kelompok gerilyawan. Dia mengatakan, sewaktu di Aceh, ada dua anggotanya yang sempat kena todong senjata GAM. Sayang, Gatot tak mau cerita lebih banyak tentang hal ini.

Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Alwi Shihab mengakui, sejak empat hari setelah bencana, setidaknya terjadi satu kali penculikan dan dua kali kontak senjata. Dikatakan, penculikan terjadi pada hari kelima. Korbannya adalah petugas medis dari Dinas Kesehatan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Dokter Mulya.

Dokter yang juga menjadi kepala posko kesehatan itu pernah menerima laporan korban bencana membutuhkan bantuan medis di Krueng Raya, Aceh Besar. Mulya bergerak ke lokasi itu bersama rekannya. Lokasi itu ternyata jauh dari jalan raya, dan Mulya dikepung orang-orang tak dikenal. Merasa curiga, dia memutuskan melarikan diri. Sial, seorang temannya tertangkap dan tidak diketahui nasibnya hingga kini. Menurut Alwi, Mulya kini dievakuasi ke Medan.

Tapi juru bicara militer GAM Aceh Rayeuk Muksalmina, membantah adanya aksi penyanderaan dokter atau tenaga medis di kawasannya. Menurut Muksalmina, GAM tak akan melakukan sabotase bantuan kemanusiaan, karena banyak korban adalah keluarga mereka sendiri. Kata dia, aksi seperti itu justru merugikan GAM secara politik. Apalagi, selama bencana, Aceh dikunjungi banyak relawan asing plus militer dari berbagai belahan dunia. "Kami bisa hancur di mata internasional," katanya.

TNI pun mengencangkan kembali patroli mereka di daerah rawan. Ketua tim informasi satuan petugas TNI penang-gulangan bencana Aceh, Kolonel (CAJ) Ahmad Yani Basuki, mengatakan TNI dan GAM sudah beberapa kali kontak senjata, baik di Banda Aceh maupun di daerah pinggiran. Seorang polisi, kata Yani, tewas akibat diserang GAM, 1 Januari lalu. TNI juga menyatakan telah menangkap tujuh anggota GAM selama dua pekan terakhir ini. "Tidak ada jaminan penyerangan akan berhenti," ujar Yani.

Patroli ketat itu tentu saja rawan bentrokan. Di Aceh Timur, misalnya, keadaan sangat tegang. Kontak senjata kerap meletus belakangan ini. Menurut juru bicara militer GAM Wilayah Peureulak, Teuku Cut Kafrawi, mereka sudah memundurkan garis defensif sampai tiga kilometer dari jalan beraspal hitam. Artinya, gerilyawan dilarang mendekati jalan tempat bantuan kemanusiaan itu lalu-lalang. Mereka juga tak akan melepaskan tembakan kecuali jika diserang lebih dulu. "Itu perintah Panglima GAM Muzakkir Manaf," ujarnya.

Meski begitu, kabar ulah gerilyawan GAM tetap saja muncul. Kali ini dari Riau. Lima anggota GAM dibetot di sana karena berniat merampok mobil pem-bawa bantuan. M. Jamil Yunus alias Sili, Tarmizi alias Mentri, Ferry M. Nor, Tarmizin bin Mahmud, dan Muzakir diringkus di lapangan sesaat sebelum beraksi. "Hasil rampokan akan diberikan ke GAM di Aceh," ujar Letkol Infanteri Kamistan Hadirin, Komandan Kodim 0313/Kampar, Riau, Jumat pekan lalu. Dari tangan kelima orang itu, turut disita tiga pucuk senjata jenis AR 15, ratusan butir peluru, kaus kaki loreng TNI, dan dua buah badge GAM.

Soal hadang-menghadang itu bukan berita baru bagi konflik Aceh. Tetapi, ditindih oleh bencana seperti ini, tampaknya satu peta jalan baru bagi perdamaian sangat dibutuhkan. Tentu, tak ada yang setuju bantuan kemanusiaan itu terganggu. Wakil Presiden Jusuf Kalla, yang disebut-sebut sedang merintis upaya penyelesaian konflik dengan GAM, menyayangkan gangguan atas bantuan kemanusiaan itu. "Serangan itu akan membuat rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh terhambat," katanya Ahad pekan lalu.

Tak kurang, demi pembangunan Aceh kembali, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bahkan menawarkan secara terbuka perdamaian dengan GAM. "Mari kita bangun Aceh kembali secara bersama-sama," ujar Presiden dua pekan lalu di Istana Negara.

Uluran tangan itu sebetulnya juga sudah ditanggapi oleh GAM. Dari Swedia, Malik Mahmud menyatakan GAM mempersiapkan diri untuk bertemu dengan pemerintah Republik Indonesia. "Untuk menjamin keberhasilan gencatan senjata dan mengurangi penderitaan rakyat Aceh," ujar Malik dalam pernyataannya, Rabu pekan lalu.

Setelah berlarat-larat ditimpa bencana, niat damai itu rupanya baru bertumbuh lagi.

Nezar Patria, Anas Syahirul (Solo), Evalisa Siregar (Riau)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data