Kisah Phil Butt dan Pasukan Australia |
RUMAH Sakit Zainoel Abidin masih seperti kolam lumpur. Di rumah sakit terbesar di Aceh itu, 18 hari setelah bencana gempa dan tsunami, ranjang pasien masih terserak di pelataran luar. Perangkat komputer juga teronggok begitu saja. Di halaman dalam, tampak anggota TNI dan relawan bersepatu bot sedang menyekop lumpur hitam?yang mampir ke dalam rumah sakit di Banda Aceh itu bersama bah tsunami. Di halaman luar ada "rumah sakit tenda", tempat pasien dirawat di lapangan buatan pasukan Australia.
Pasukan Negeri Kanguru merupakan rombongan pertama pasukan asing di Aceh. Mereka datang dengan kekuatan 180 orang, dengan 30 orang di antaranya berasal dari Selandia Baru, dengan bendera Combined Joint Task Force (CJTF) 629 di bawah komando Brigjen Chalmers. Setelah membangun markas sementara di Medan, pasukan ini langsung menyebar ke Banda Aceh, Meulaboh, dan Nias.
Di Banda Aceh, RS Zainoel Abidin (RSZA) praktis menjadi "milik" bersama pasukan Australia dan Selandia Baru. Dalam waktu relatif singkat, mereka menyulap rumah sakit itu berfungsi kembali. Di ruangan dalam?sekitar 500 meter dari pintu masuk?Paviliun Kumala dan Kulu berganti rupa menjadi markas mini pasukan dua negara itu. Di sana yang memegang tongkat perintah adalah Letkol Georgina Whelan, Komandan Anzac (Australia and New Zealand) Field Hospital. Ruangan dalam itu tampak licin. Di sana dipasang belasan veldbed, tempat tidur tentara sistem knock down, lengkap dengan tirai penahan nyamuk.
Mereka bekerja hampir sepanjang hari. Namun "bakti sosial" para legiun asing ini bukan tidak menimbulkan gesekan. Misalnya gesekan dengan relawan dalam negeri. Jumat dua pekan lalu, contohnya, relawan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia dan relawan lain yang tengah membersihkan RS ZA tiba-tiba terusik oleh kedatangan legiun Australia yang juga ingin membersihkan rumah sakit itu. Tentara asing itu meminta mereka menyingkir. Kontan saja relawan lokal itu bereaksi. "Mereka mau mendominasi," kata Haryanto, salah satu koordinator BEM UI, kepada Tempo, yang menceritakan bahwa timnya sudah bekerja empat hari penuh.
Relawan UI itu sudah berhasil membersihkan unit gawat darurat, ruang operasi, dan musala. "Mereka ingin membersihkan rumah sakit dengan syarat tidak ada relawan lain," ujar Haryanto menunjuk tentara Australia. Untung, perselisihan tidak memuncak.
Bukan cuma sekali itu. Sebelumnya, tim UI juga sempat tersinggung ketika pasukan Australia "meremehkan" alat penjernih air yang dibawa tim itu. Rupanya, Australia juga membuat pengada-an air bersih, tanpa mau diganggu yang lain. Dipusatkan di Peunayung, Banda Aceh, tentara Australia itu memasang mesin penjernih yang airnya mereka ambil dari aliran sungai?yang dulu sempat "dihuni" mayat-mayat. Penduduk di sore hari beramai-ramai antre air bersih buatan pasukan Australia itu. Phil Butt, seorang anggota Anzac Field Hospital yang bertindak sebagai juru bicara, membantah pihaknya mengusir tim UI.
Butt, perwira yang sehari-harinya bertugas di Sydney sebagai anggota korps kesehatan ini, mengatakan tim medis Australia ini membawa anggota komplet. Mulai dari spesialis bedah tulang, bedah umum anestesi, dokter anak dan kandungan, ada dalam tim itu. Peralatan pun lengkap. Dua buah meja operasi, sebuah mobil ambulans, dan 90 veldbed mereka bawa dari negerinya. "Sudah 20 kali operasi dilakukan di sini," ujarnya. Salah satunya, operasi caesar yang berhasil melahirkan seorang bayi laki-laki pekan lalu. Persalinan ini juga sempat dibanggakan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Alwi Shihab. "Itu bayi pertama yang lahir di lingkungan RSZA sejak bencana lalu," kata Alwi.
Butt juga bangga. Ia bercerita, sejak Kamis pekan lalu, pasukannya telah memindahkan rumah sakit tenda itu ke Ruang Kardiologi RS Zainoel Abidin. Ia mengajak Tempo melihat-lihat beberapa ruangan yang telah disulap itu. Beberapa kamar operasi telah berfungsi. Intensive care unit dan bangsal telah dilengkapi dengan veldbed. Di tengah wawancara dengan wartawan Tempo, seorang pria warga Indonesia datang kepada Butt dan disambutnya ramah dengan bahasa Indonesia yang lancar. "Nama saya Kapten Phil. Saya kerja di sini. Ada yang bisa saya bantu?" jawab Phil Butt.
Jelas banyak yang bisa Anda bantu, Butt. Dan rasanya bantuan para legiun asing ini tidak perlu dihadapi dengan sikap ingin bersaing, apalagi bermusuhan.
Fajar W.H., Jojo Raharjo, Ali Anwar (Banda Aceh)
|