Mau Rakyat Mati Hanya karena Kehormatan Bangsa? |
Pasukan asing kini berseliweran di Nanggroe Aceh Darussalam. Sekitar 3.000 tentara asing?antara lain pasukan elite marinir AS, angkatan udara Australia, tentara Diraja Malaysia, dan angkatan darat Prancis?melakukan operasi kemanusiaan internasional. Di bawah komando TNI, pasukan dari sepuluh negara sahabat itu mengirim bantuan makanan, evakuasi korban, serta melakukan tindakan medis bagi korban tsunami.
Keberadaan mereka ternyata menuai sorotan. Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, misalnya, meminta masa tugas tentara asing dibatasi. Hidayat menilai keberadaan ribuan pasukan asing itu bisa berekses negatif dan mengganggu kedaulatan negara. "Cukup satu bulan saja," ujarnya.
Untuk mengetahui apa dampak keberadaan pasukan asing di Aceh, wartawan Tempo Prabandari, Sunariah, Yuswardi A. Suud, dan A. Raharjo mewawancarai Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto. Wawancara dilakukan di pendapa Gubernur Aceh, Selasa pekan lalu. Berikut kutipannya.
Mengapa pemerintah akhirnya mengizinkan pasukan asing masuk Aceh?
Mereka punya pesawat dan helikopter. Kalau saya tidak segera menghubungi mereka, mungkin akan lebih banyak orang yang mati. Soalnya peralatan yang kita miliki terbatas. TNI hanya memiliki 7 helikopter dan 6 pesawat Hercules yang jam terbangnya terbatas. Jadi, kalau Hercules kita terbang dua-tiga kali, langsung harus grounded karena jam terbangnya habis. Padahal ribuan orang masih butuh makan, air, dan obat. Tanpa bantuan Hercules dari Singapura, Australia, Amerika, dan sebagainya, saya tidak tahu bagaimana menolong orang yang selamat dari bencana. Sedangkan helikopter mereka menolong orang-orang di daerah terpencil yang tidak bisa dilalui lewat darat. Helikopter asing itu membawa bantuan makanan dan obat-obatan.
Siapa yang mengontak pasukan asing tersebut?
Saya termasuk yang melakukannya. Saat menghubungi Australia, mereka menawarkan bantuan obat-obatan. Tapi saya bilang, kalau Australia hanya mengirim obat-obatan dan tenaga medis, mereka tidak membantu apa-apa. Saya minta Australia membawa Herculesnya. Begitu juga saat Amerika menghubungi saya dan mengatakan akan mengirim obat-obatan. Saya tegaskan itu tidak cukup. Saya katakan bahwa TNI kurang memiliki transportasi untuk mendrop bantuan. Akhirnya 17 helikopter Amerika datang untuk membantu. Saya juga minta agar Singapura mengirim helikopter sebanyak-banyaknya. Kalau cuma kirim obat-obatan, itu nonsens. Apa saya salah?
Ada kekhawatiran keberadaan pasukan asing berekses negatif dan mengganggu kedaulatan. Benarkah?
Kita sangat membutuhkan mereka. Pasukan Australia, misalnya, mengirim unit penyediaan air bersih lengkap dengan plastiknya. Nah, kalau kita, jangankan menyediakan alat pembersihnya, untuk beli plastiknya saja tidak mampu. Jadi, apakah kita mau membiarkan rakyat kita mati hanya karena kehormatan bangsa? Saya lebih baik dipecat daripada harus melarang pasukan asing masuk untuk tugas-tugas kemanusiaan.
Berapa jumlah pasukan dan peralatan militer asing di Aceh?
Kita mendapat bantuan dari berbagai negara. Secara keseluruhan, jenis helikopter ada 17 Seahawk, 6 Chinook, 13 Super Puma, dan 2 Blackhawk. Sedangkan jenis pesawat ada dua Nuri, dua CN 235, delapan Hercules, dan satu Boeing 707. Jumlah itu jauh di atas peralatan yang dimiliki TNI. Tentu saja, untuk mengoperasikan pasukan asing itu butuh koordinasi yang baik. Mereka semua di bawah kendali Mayjen TNI Bambang Darmono. Setiap malam mereka melakukan rapat koordinasi.
Apa tugas pasukan asing?
Mereka mengoperasikan alat-alat berat, operasi bidang kesehatan, serta penyediaan makanan dan air. Sedangkan helikopter dan kapal laut mereka untuk mengirim bahan makanan dan obat-obatan. Kita juga memanfaatkan rumah sakit terapung yang mereka miliki. Jumlah mereka sebetulnya tak terlalu banyak. Memang, saat mereka turun untuk minum dan lain-lain, kelihatan crowded. Sehingga muncul kesan seolah-olah Aceh sudah dikuasai militer asing.
Ada kekhawatiran pasukan asing dimanfaatkan Gerakan Aceh Merdeka. Bagaimana?
Kalaupun GAM memanfaatkan pasukan asing, tidak masalah. Itu sangat kecil artinya dibandingkan dengan penyelamatan ribuan nyawa orang Aceh. Jangan gara-gara kita takut mereka membawa senjata untuk GAM, ribuan orang Aceh mati kelaparan. Yang penting rakyat Aceh selamat dulu.
Apakah ada batas waktu keberadaan pasukan asing di Aceh?
Tidak pasti. Kalau dalam sebulan relokasi belum berjalan dan kami belum bisa mengirim bantuan lewat darat, tetap kita pakai. Apakah kita mau mendrop bantuan dari Banda Aceh ke Meulaboh memakai sepeda? Jadi kita memerlukan mereka hingga tak ada ketergantungan dengan peralatan yang mereka miliki.
Anda mengakui keterbatasan TNI di Aceh. Mengapa Anda berani menolak perintah Presiden untuk mengirim tiga batalion TNI tambahan?
Saya juga kaget mengapa ada keputusan di sidang kabinet soal pengiriman tiga batalion tambahan. Saya tidak ingin keamanan daerah-daerah lain tergang-gu karena mengirim pasukannya ke Aceh. Selain itu, biayanya akan mencapai miliaran rupiah. Bagi saya, lebih baik uang tersebut digunakan untuk rakyat Aceh. Itu bisa untuk menggerakkan perekonomian daerah Aceh.
|