'Dalam Kepungan' Si Bule Pasukan bule tumplek di Medan dan Aceh. Terlepas dari ekses yang ditimbulkannya, mereka nyatanya banyak membantu. |
KOTA Medan berubah wajah dalam tiga pekan terakhir. Etnis Melayu, Cina, dan India yang selama ini menghuni memenuhi kawasan itu, kini beroleh kawan baru: para bule anggota pasukan asing. Di kamp dan hotel-hotel si kulit putih malang-melintang.
Di bandar udara TNI AU Polonia, misalnya. Anggota militer asing Jumat lalu terlihat sibuk memasukkan barang bantuan ke pesawat Hercules yang akan terbang ke Aceh. Sebagian tentara beristirahat di kantin sambil berbincang-bincang. Tentara AS di Medan membangun beberapa tenda besar di sebelah hanggar yang dijadikan posko nasional bantuan untuk Aceh. Ada yang dijadikan ruang rapat, ada pula yang dijadikan gudang logistik.
Yang lain tinggal di hotel. Penginapan Danau Toba, kurang lebih tujuh kilometer dari landasan udara, tak lagi menerima tamu biasa. Semua kamar di hotel 10 lantai itu fully booked untuk pasukan asing. Di sana menginap personel militer dari Australia, Inggris, Malaysia, dan Selandia Baru. Di lantai Dua Hotel Danau Toba pasukan Australia menyewa beberapa ruangan untuk koordinasi.
Hotel Novotel Medan, di Jalan Cirebon, digunakan sebagai "markas" tentara Amerika dan Singapura. Dibandingkan dengan di Hotel Danau Toba, pengawalan di Novotel lebih ketat. Ada beberapa personel polisi bersenjata menjaga pintu. Gerbang keluar-masuk parkir yang berada di lantai bawah hotel dijaga polisi bersenjata.
Ruang Sumatera dan sebuah balai besar disewa untuk tempat koordinasi. Di depannya mereka membuka meja resepsionis yang dijaga tiga tentara berseragam. Di dekat ruangan ini terdapat tangga menuju sebuah pub.
Pasca-tsunami, pasukan asing tumplek di Aceh dan Medan. Amerika mengirim 13 ribu personel, 15 helikopter Seahawk, 2 helikopter Stallion, 4 helikopter Sea Knight, 1 kapal induk USS Abraham Lincoln, 8 kapal perang?di antaranya USS Shoup, USS Bentold, USS Bonhomme Richard, dan USS San Jose.
Sebagian personel militer melakukan operasi kemanusiaan di lapangan. Sekitar 13 ribu pasukan yang lain berada di kapal induk dan kapal perang yang membuang sauh di perairan Aceh. Pasukan ini bertugas mengirim bantuan pemerintah Amerika yang mencapai US$ 35 juta. Dengan armada helikopter yang dimiliki, pasukan Amerika bertugas mendistribusikan logistik dan mengevakuasi penduduk yang sakit dari daerah terpencil.
Soal masa operasi, Brigadir Jenderal Christian Cowdrey, komandan tentara Amerika untuk operasi Aceh, menyatakan hanya mengikuti petunjuk dari pemerintah Indonesia. "Bila Indonesia bilang agar kami keluar, ya, kami langsung meninggalkan Indonesia," kata Cowdrey.
Prancis juga mengirim pasukannya ke Aceh. Sebuah rumah sakit darurat di Meulaboh sudah dioperasikan oleh tim medis militer negeri itu. Prancis mengirim dua kapal perang, Jeanne d'arc dan George Lyques, yang mengangkut 5 ton obat, 8.000 liter air, dan alat-alat berat. Untuk operasional harian, kapal tersebut dilengkapi enam buah helikopter. "Prancis ikut berduka atas musibah di Aceh," Renaud Vignal, Duta Besar Prancis untuk Indonesia.
Malaysia juga tak mau ketinggalan. Negeri jiran itu menerjunkan 265 personel militer dengan dua helikopter Nuri dan satu pesawat CN 235. Wakil Ketua Tim Malaysia, Letnan Kolonel Wan Arifin, mengatakan mereka langsung tergerak untuk membantu Indonesia menghadapi musibah di Aceh. "Sebagai bangsa serumpun, kami wajib membantu saudara kami di Aceh," kata Wan Arifin.
Malaysia mengerahkan satu kompi Special Malaysian Rescue Team, pasukan Bomba (pemadam kebakaran), dan Angkatan Tempur Malaysia di bidang medis. Untuk menambah kekuatan, Malaysia akan segera mendatangkan 400 pasukan tambahan. Pasukan dari kesatuan zeni tempur tersebut akan membantu membersihkan puing di Kota Banda Aceh, Meulaboh, dan daerah terpencil di Aceh. Tak cuma itu, pasukan militer Malaysia juga mengkoordinasi beberapa kelompok organisasi non-pemerintah dari Malaysia. Relawan yang berjumlah 115 itu umumnya berprofesi sebagai dokter dan paramedis. Mereka membawa peralatan medis lengkap, obat-obatan, dan 25 ribu kantong mayat.
Dari Jepang, seribu pasukan bela dirinya kini berada di Aceh. Menteri Pertahanan Jepang Yoshinori Onho sempat menemui Menteri Pertahanan RI Juwono Sudarsono untuk mendiskusikan peran Negeri Sakura itu. Dalam pertemuan di Hotel Mandarin, Jakarta, pekan lalu disepakati tentara Jepang akan membantu mengevakuasi korban, mengirim bantuan logistik dan operasi medis.
Singapura mengirimkan 900 personel militernya. Pasukan yang mayoritas terdiri dari tenaga teknik dan tenaga medis itu sebagian besar "bermarkas" di Meulaboh, Aceh Barat. Dengan memakai enam helikopter Super Puma dan dua Cheenok, Singapura mendistribusikan bantuan senilai US$ 10 juta. Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong mengatakan negara juga mendukung pengiriman bantuan dari negara asing lain ke Aceh. "Pesawat asing dapat menggunakan bandara Singapura untuk me-ngirim bantuan," kata Lee Hsien Loong.
Keberadaan dua helikopter Cheenok Singapura sangat penting. Di lapangan helikopter itu berulang kali mengangkut peralatan milik Telkom dan PLN dari Bandara Polonia Medan menuju Aceh. Cheenok memang dibuat untuk mengangkut beban berat.
Adapun Negeri Kanguru mengirim 912 personel militernya. Selain itu, Australia mengirim enam Hercules C-130, satu pesawat ringan Beech King, dan empat helikopter UH-1H Iroquois. Australia juga menyediakan alat penyuling air bersih. Setiap hari warga Aceh mengular di depan mesin itu untuk mendapat air dalam plastik. Terutama pada minggu pertama pasca-bencana, tak ada sumber air bersih yang bisa dipakai. "Boro-boro menyediakan penyulingan air," kata Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, "membeli plastik pun kita tak mampu."
Belakangan Australia memperkuat pasukannya. Pekan lalu kapal induk HMAS Kanimbla?yang membawa dua helikopter Sea King, dua pesawat pendarat (LCM8), fasilitas medis, alat apung mandiri, dan persediaan bahan bakar?membuang sauh di perairan Aceh.
Pasukan Australia juga mengoperasikan Rumah Sakit Zainoel Abidin di Banda Aceh. Dokter Australia "menguasai" rumah sakit yang terletak di Jalan Tengku Daud Beureuh, Banda Aceh. Mereka menangani pengungsi yang luka parah dan terserang pneumonia. Tempat tidur, unit bedah gawat darurat dan fasilitas sinar x yang dibawa pasukan Australia menjadi penyangga operasi rumah sakit. Halaman rumah sakit telah disulap menjadi rumah sakit lapangan. Tak kurang dari 150 tim medis Australia bertugas di rumah sakit itu. "Kami sudah mengoperasi 20 pasien yang luka parah. Kami juga melakukan operasi persalinan caesar," ujar Kapten Phil Butt, petugas medis Australia.
Total jenderal, 3.000 pasukan mancanegara beroperasi di daratan Aceh. Mereka mendirikan tenda-tenda di Banda Aceh, Meulaboh, dan beberapa daerah terpencil.
Untuk mengatur tugas harian pasukan asing itu, Jakarta menunjuk Mayor Jenderal TNI Bambang Darmono. Kepada Tempo, jenderal yang suka bicara ceplas-ceplos ini menjamin semua pasukan asing bekerja di bawah kontrol yang ketat.
Menurut Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, tanpa bantuan pasukan asing, sulit bagi TNI untuk bergerak. Soalnya, tentara Indonesia hanya punya tujuh helikopter dan enam pesawat Hercules dengan jam terbang yang terbatas. Jumlah peralatan itu sungguh jauh dari kebutuhan di Aceh pasca-bencana. "Kalau saya tidak segera menghubungi mereka, mungkin akan lebih banyak orang yang mati," kata Jenderal Sutarto.
AZ/Setiyardi, Tomi Aryanto, Jojo Raharjo (Aceh), Hambali Batubara, Bambang Soedjiartono (Medan)
|