Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 47/XXXIII/17 - 23 Januari 2005
   
Luar Negeri

Lintas Internasional

INGGRIS
Kostum Nazi Sang Pangeran

GARA-GARA penampilan Pangeran Harry di pesta ulang tahun seorang teman, Istana Pangeran Wales di London, harus meminta maaf. Pasalnya, Harry berseragam krem tentara gurun Jerman dan di lengan kirinya terpasang lambang swastika Nazi.

Foto Harry di pesta bertema "Colonial and Native" itu dipasang sehalaman penuh di sampul tabloid The Sun edisi Kamis pekan lalu dengan judul Harry The Nazi. Ia dicerca habis dan dituding "berlaku bodoh dan tidak peka". Clarence House, kediaman resmi Prince of Wales di London, menyatakan Harry minta maaf dan "menyadari itu pilihan kostum yang buruk".

Menurut bekas asisten sekretaris pers Ratu, Dickie Arbiter, Harry perlu meminta maaf secara pribadi. Apalagi, tahun ini Harry akan masuk akademi militer bergengsi, Sandhurst. Tapi dengan nada membela, Menteri Kehakiman Lord Falconer berkata, Harry langsung meminta maaf begitu kasus itu diramaikan.

Tokoh Partai Buruh yang juga bekas Menteri Angkatan Bersenjata, Doug Henderson, mengatakan, insiden itu menunjukkan Harry tidak patut mengikuti pendidikan perwira AB Inggris. "Ini jelas mendiskualifikasi Pangeran Harry dari Sandhurst." Toh, Kementerian Pertahanan berpendapat, ulah itu tidak akan mempengaruhi posisinya di akademi itu.

Rabbi Marvin Hier dari Simon Wiesenthal Centre, organisasi lobi Yahudi terbesar di dunia, mengecam ulah Harry sebagai memalukan. Harry didesak menemani pamannya, Pangeran Edward, yang akan ke Auschwitz pada 27 Januari untuk memperingati 60 tahun pembebasan kamp. Di sana ia bisa menyaksikan kekejaman Nazi.

AFGANISTAN
Karzai Tergiur Opium

PRESIDEN Hamid Karzai berikrar akan menggelar perang jihad melawan perdagangan opium, yang ia sampaikan saat dilantik selaku Presiden Afganistan, akhir 2004. Tapi kini ia akan memberi amnesti kepada pedagang narkotik yang melibatkan banyak pejabat senior pemerintah Afganistan. Alasannya? "Suatu perbuatan mulia menyelamatkan orang dari perbuatan kriminal lebih jauh," kata Karzai, Rabu pekan lalu.

Pengakuan lebih rasional datang dari Hanif Atmar, seorang menteri kabinet Karzai. Katanya, amnesti bertujuan menyedot miliaran dolar uang hasil perdagangan narkotik ke kas pemerintah untuk bi-aya pembangunan. Maklum, setelah rezim Taliban runtuh, Afganistan tidak seksi lagi di mata AS dan sekutunya, yang punya mainan baru di Irak. Sementara itu, petani Afganistan memasok 90 persen kebutuhan pasar narkotik dunia. Hasilnya, tahun lalu, perdagangan opium menghasilkan US$ 2,8 miliar (Rp 25,2 triliun). Sebanyak 80 persen masuk ke kocek pedagang opium, sisanya ke kantong pejabat pemerintah.

AUSTRALIA
Api Melahap Semak Belukar

WARGA di wilayah Australia selatan menghadapi kebakaran semak belukar paling buruk selama 20 tahun terakhir. Kamis pekan lalu, 80 ribu hektare lahan dimangsa api unggun raksasa dan menyebabkan sembilan orang tewas, tiga orang hilang, 100 orang luka-luka, ribuan biri-biri dan lembu mati dan banyak rumah hangus. Tiupan angin kencang dan temperatur 40 derajat Celsius mempercepat penyebaran api.

KOLOMBIA
Jurnalis Antikorupsi Didor

PENDENGAR Radio Lemas di Kolombia tak akan pernah lagi mendengar suara Julio Hernando Palacios yang berapi-api mengungkap kasus korupsi. Selasa pekan lalu, seorang pengendara sepeda motor menembak sang jurnalis dengan dua butir peluru yang menembus batok kepala dan perutnya. Palacios ditembak dalam perjalanan ke kantornya di Cucuta, kota dekat perbatasan dengan Venezuela. Dalam keadaan luka ia sempat kembali ke rumahnya, tapi meninggal di rumah sakit. "Ada hadiah bagi orang yang bisa memberi informasi tentang pembunuh," ujar kepala polisi Cucuta, Kolonel Jose Humberto Henao.

Palacios mengasuh program El Viento (Sang Angin) yang merupakan program khusus mengungkap praktek korupsi. Punya banyak musuh, Palacius pernah selamat dari percobaan pembunuhan dengan granat pada 1996. Kolombia adalah salah satu negara paling berbahaya di dunia bagi para jurnalis. Sekitar 156 wartawan dibunuh sejak 1977 hingga 2004. Pelakunya diduga gerilyawan Marxis, milisi sayap kanan, dan para pengedar narkotik.

PERU
Tentara Berontak Jatuhkan Menteri

DIDERA kemorosotan popularitas, Presiden Peru Alejandro Toledo kian terpukul setelah Menteri Dalam Negeri Peru Javier Reategui mundur. Reategui melepas jabatan pada Senin pekan lalu gara-gara pemberontakan 150 tentara cadangan nasional. Pemberontak akhirnya menyerah setelah empat hari menduduki kantor polisi di Andahuaylas. Enam orang tewas.

Reategui adalah menteri kedelapan yang mundur dari kabinet Toledo. Menurut para analis, Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan bisa dipecat oleh Kongres karena gagal mencegah pemberontakan. Pendahulu Reategui, Fernando Rospigliosi, mundur pada Mei tahun lalu setelah sekelompok buruh pedalaman memukuli seorang wali kota yang dituduh korupsi hingga tewas.

Toledo juga dililit tuduhan korupsi yang menimpa adik perempuannya, Margarita Toledo.

AMERIKA SERIKAT
Perburuan Pemusnah Massal Disetop

AMERIKA Serikat akhirnya menghentikan pencarian senjata pemusnah massal di Irak. Charles Duelfer, Kepala Iraq Survey Group (ISG), tim pencari yang beranggotakan 1.200 pakar dari Amerika, Inggris, dan Australia, tak berencana kembali ke Irak. Dalam laporan terakhirnya, Oktober tahun lalu, Duelfer menyimpulkan Irak tak punya stok senjata kimia atau biologi saat AS menginvasi Irak, Maret 2003.

Senjata pemusnah massal atau weapons of mass destruction (WMD) menjadi alasan utama AS menginvasi Irak. Saat itu, tim resmi PBB yang belum rampung bertugas dipaksa keluar dari Irak karena dianggap tidak becus mencari senjata yang disembunyikan Saddam Hussein.

IRAQ SURVEY GROUP

  • Dibentuk pada Mei 2003 untuk memburu senjata pemusnah massal milik Saddam Hussein.
  • David Kay, yang pertama ditunjuk mengetuai ISG, mundur pada Januari 2004 dengan alasan WMD tak akan ditemukan di Irak.
  • ISG beranggotakan 1.200 pakar senjata kimia dan biologi dari Amerika Serikat, Inggris, dan Australia.
  • ISG bermarkas di Washington, tapi punya sejumlah kantor di Bagdad dan Qatar.

Yanto Musthofa, Raihul Fadjri (BBC, AP, AFP/NY Times)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data