Rute Gelap dari Guantanamo Tawanan tersangka teroris di Guantanamo sering "dibon" ke negara lain. Siksaan dilakukan demi sepotong informasi. |
TIGA tahun sudah Azmat Begg, warga negara Inggris keturunan India, berharap bertemu putranya, Moazzam Begg. Harapannya membesar ketika pekan lalu berita utama koran-koran Inggris memuat rencana pemulangan Moazzam dan tiga rekannya dari penjara militer Amerika Serikat di Teluk Guantanamo, Kuba.
Cerita gembira akan kepulangan Moazzam, Feroz Abbasi, Martin Mubanga, dan Richard Belmarempat tahanan terakhir asal Inggris di Guantanamojuga menguak cerita duka. Di Guantanamo, sekitar 550 orang dikurung tanpa dakwaan, pengadilan, bahkan akses ke pengacara, atas nama "perang melawan terorisme"setelah serangan 11 September 2001. Tidak hanya itu. Di sana, tawanan disiksa fisik, mental, dan seksual guna memberikan informasi.
Bahkan, demi informasi, para tawanan bisa "dibon" atau dibawa diam-diam ke negara yang lebih "pintar" dalam memeras informasi. Operasi yang dinamai "Rendition" ini, seperti diungkap koran The Washington Post akhir bulan lalu, didukung sebuah maskapai misterius bernama Premier Executive Transport Service Inc., operator sebuah Gulfstream V Turbojet, pesawat mewah kegemaran kaum berduit.
Gulfstream V bernomor ekor N379P kerap muncul di pangkalan militer Amerika di berbagai penjuru dunia. Umumnya, pesawat itu mendarat di malam hari dan memilih posisi terpencil. Dari Guantanamo, N379P selalu singgah ke Washington, DC, sebelum bertolak ke negara-negara yang umumnya punya rapor merah dalam hal hak asasi manusia, seperti Mesir, Yordania, Uzbekistan, Suriah, Afganistan, Libya, dan Pakistan. Termasuk pernah mampir ke Jakarta, Januari 2002, untuk menjemput Muhammad Saad Iqbal, warga Mesir yang berpaspor Pakistan. Iqbal, yang dituduh sebagai anggota Al-Qaidah, dibawa ke Mesir. Menurut dokumen yang dimiliki koran The Times, Inggris, N379P telah menjalani tak kurang dari 300 misi Rendition.
Ihwal misi penyelundupan tawanan dengan Gulfstream pertama kali dibongkar televisi nasional Swedia, Mei tahun lalu. Dikisahkan, pada 18 Desember 2001, kawanan pria bertopeng dibantu polisi khusus Swedia memasukkan dua warga Mesir, Muhammad Zery dan Ahmed Agiza, ke Gulfstream V, yang diparkir di Bandara Bromma, Stockholm. Kedua tersangka dalam pakaian serba merah, dengan tangan diborgol dan kaki dirantai, diterbangkan ke Kairo.
Belakangan diketahui, Ahmed Agiza, pria yang sebelumnya meminta suaka politik itu, dinyatakan bersalah oleh Pengadilan Tertinggi Militer Mesir dalam dakwaan terkait dengan terorisme. Sementara itu, Muhammad Zery dibebaskan. Tapi keduanya mengaku disiksa selama dalam penahanan di Mesir. Karenanya, Swedia kini membuka penyelidikan atas penyerahan kedua tersangka itu.
Sebulan sebelum ekstradisi dari Swedia, Gulfstream yang sama dipergoki di bandara Karachi oleh Masood Anwar, wartawan koran The Nation, Pakistan. Sumber Anwar di bandara mengatakan kawanan pria bertopeng putih membawa Jamil Gasim, mahasiswa Yaman yang dituduh punya hubungan dengan Al-Qaidah, ke Yordania. Sejak itu Gasim raib.
Michael Scheuer, bekas pejabat kontraterorisme CIA yang pernah terlibat dan mendukung Rendition, mengatakan transfer ke negara lain itu memang dibutuhkan. Bahkan Bob Baer, bekas agen CIA di Timur Tengah, punya resep: "Jika ingin interogasi serius, kirim tahanan ke Yordania. Jika ingin tahanan disiksa, kirim mereka ke Suriah. Jika ingin membuat seseorang hilang, kirimlah ke Mesir."
Pekan ini Moazzam rencananya kembali ke penjara Inggris. Tapi Moazzam dan kawan-kawan sudah kenyang penyiksaan. Karenanya, Clive Stafford Smith, pengacara Moazzam dan Belmar, telah melayangkan surat ke Perdana Menteri Tony Blair, meminta agar penderitaan kedua kliennya dipertimbangkan untuk meringankan hukuman. Smith menyertakan laporan 30 halaman berisi penyiksaan yang didapat kliennya.
Yanto Musthofa (Washington Post/The Times/Guardian)
|