Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 47/XXXIII/17 - 23 Januari 2005
   
Luar Negeri

Terjungkal karena Warta

Karier pembawa berita terpopuler di jaringan televisi CBS, Dan Rather, terancam cacat. Setelah reputasi mengkilap selama lebih dari empat dekade, ia terganjal dokumen palsu.

DANIEL Irvin Rather Jr. sepantasnya pensiun secara terhormat. Mematri empat dekade gemilang dalam kariernya sebagai wartawan dan pembaca berita, Rather adalah roh yang menghidupkan acara 60 Minutes yang masyhur—di kanal CBS. Dikenal publik Amerika sebagai Dan Rather, kakek berusia 73 tahun ini bakal genap berkiprah 24 tahun di CBS pada 9 Maret 2005. Ini rekor pembawa berita terlama dalam sejarah televisi di Amerika Serikat, yang bahkan tak pernah dicapai Walter Cronkite—pendahulunya yang juga pernah amat populer.

Sayang, cita-cita ”pensiun ideal” Dan Rather tampaknya kandas pada pekan lalu, ketika empat orang petinggi CBS dipecat. Mereka adalah Produser Eksekutif Josh Howard, Produser Mary Mapes, Produser Senior Siaran Mary Murphy, dan Wakil Presiden Senior Betsy West. Didepaknya keempat eksekutif CBS itu merupakan ekses dari laporan satu komite independen. Anggota komite ini terdiri dari bekas CEO Associated Press, Louis D. Boccardi, dan mantan jaksa agung Richard L. Thornburgh.

CEO CBS, Leslie Moonmoves, setelah menerima laporan setebal 224 halaman dari komite, menyebut anak buahnya telah melakukan ”prasangka berlebihan” (myopic zeal) dalam penayangan berita yang dibawakan Rather pada 8 September 2004. Uniknya, Moonmoves sama sekali tak menyalahkan Rather, yang telah bergabung dengan CBS sejak 1961 dan membawakan 60 Minutes sejak 1981. Padahal, selain menjadi pembawa berita, Rather menjabat redaktur pelaksana.

Nah, malam itu, Rabu 8 September tahun lalu, Rather menunjukkan kepada pemirsanya empat memo (dari enam memo yang dia beritakan) yang konon berasal dari Letnan Kolonel Jerry Killian. Memo-memo tersebut ditulis selama periode 1972-1973. Isinya serupa. Killian menyatakan bahwa Letnan George Walker Bush, bawahannya di Texas Air National Guard yang kini menjadi Presiden Amerika Serikat, gagal dalam sejumlah tes fisik sehingga tak layak menerbangkan pesawat. Rather menyatakan dokumen itu autentik. Dan CBS, dengan keyakinan penuh, memajang contoh memo itu di situs web mereka.

Killian tak bisa dikonfirmasi karena telah meninggal pada 1984. Namun janda dan anak Killian menampik keaslian memo itu. Keraguan segera menyelimuti Amerika. Bantahan paling tegas terhadap keaslian dokumen muncul dari komunitas pengelola blog (web log) di Internet. Seorang blogger dengan nama samaran ”Buckhead” menyatakan dokumen Killian itu palsu hanya dengan melihat jenis huruf yang menurutnya tak dipakai oleh militer AS pada awal tahun 70-an. Dalam sekejap, posting Buckhead menjadi primadona di Internet (lihat Berkat Pesan Nomor 47).

Popularitas Rather yang besar—ia pembaca berita populer ketiga di AS setelah Tom Brokaw (NBC News) dan Peter Jennings (ABC News)—gagal meredakan kontroversi panas. Apalagi Rather, alih-alih meralat, bersikukuh pada pendapatnya akan keaslian dokumen yang diperoleh timnya dari seorang mantan tentara bernama Bill Burkett.

Burkett mengelak tudingan sebagai pembuat memo palsu itu. Dia menunjuk George Conn, juga mantan tentara, sebagai sumber memo. Namun, dalam e-mail-nya kepada USA Today, Conn menulis ”tak tahu sama sekali tentang memo Killian”. Ajaibnya, Burkett berganti pendapat. Ia bilang dokumen itu berasal dari ”Lucy Ramirez”. Dan sampai saat ini, tak ada satu pihak pun yang bisa mengungkap siapa si ”Lucy”.

Misteri tentang ”Lucy” mengingatkan kita pada misteri tentang ”Kenneth” yang juga melibatkan Rather pada Oktober 1986. Rather, yang sedang berjalan di Park Avenue, Manhattan, tiba-tiba diserang dan dipukuli oleh seseorang—belakangan diidentifikasi sebagai William Tager—yang terus bertanya, ”Kenneth, berapa frekuensinya (Kenneth, what is the frequency)?”

Insiden aneh ini kemudian menjadi olok-olok di masyarakat. ”Kenneth” tak lagi sekadar nama, melainkan slang untuk seseorang yang tak jelas, atau membingungkan. Saking populernya, grup musik R.E.M. (terkenal dengan lagunya Everybody Hurts) bahkan membuat lagu berjudul What’s the Frequency, Kenneth, yang menjadi salah satu lagu terbaik R.E.M. sampai sekarang.

Pada 1997, misteri kata ”Kenneth” yang didengar Rather baru terpecahkan setelah harian New York Daily News menulis, kalimat yang sebenarnya diucapkan Tager—dia pemeluk Yahudi—adalah Goniff, What’s the Frequency? Dalam bahasa Yahudi, goniff berarti pencuri atau orang yang tidak jujur. Yang masih belum jelas sampai sekarang mengapa Tager menyebut Rather dengan panggilan itu.

Dari pihak CBS, televisi itu sudah terpikat pada Rather sejak 1961. Ketika itu, Rather yang masih menjadi reporter di KRTK-TV Houston melaporkan secara langsung serangan badai Carla yang tengah mengintai untuk melumat Texas. Gayanya yang terlalu berani untuk ukuran reportase televisi di era itu membuat para petinggi CBS kepincut. Popularitas Rather kian melonjak ketika ia menjadi reporter pertama yang memberitakan Presiden John F. Kennedy yang tewas akibat luka tembakan di Dallas, Texas.

Toh, selama kariernya yang membentang melewati empat dekade, secara umum terlihat kesan Rather bersikap lebih agresif terhadap presiden-presiden dari Partai Republik ketimbang Demokrat. Sebelum kasus Memogate ini, Rather juga bersikap galak terhadap mantan presiden Bush Senior, terutama dalam skandal Iran-Contra.

Yang mungkin masih melegakan Rather, rekomendasi Thornburgh menyebut ”tak ditemukannya motivasi politis (untuk menyudutkan Bush)”. Sementara sekretaris pers Bush, Scott McClelland, berharap agar ”hal seperti ini tak terjadi lagi”.

Akmal Nasery Basral (AP, Reuters, USA Today)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data