Dia Bersinar Sejak di Fatah |
Mahmud Abbas, 69 tahun, akhirnya duduk di kursi tertinggi panggung politik Otoritas Palestina. Pria kelahiran Safed ini memenangi pemilihan presiden pada Minggu 9 Januari lalu dengan telak: 62,3 persensesuai dengan ramalan sejumlah jajak pendapat di Palestina. Hasil itu serta-merta menjungkalkan banyak suara yang meragukan popularitasnya di mata rakyat Palestina. Abbasakrab disebut Abu Mazenpun tercatat sebagai presiden kedua setelah Yasser Arafat.
Karier politik Abbas tak bisa dipisahkan dengan pendahulu, mantan bos, dan kawan seiringnya sejak jauh di masa lampau: Yasser Arafat. Bersama Abbas, Arafat mendirikan Al-Fatah, tulang punggung Organisasi Pembebasan Palestina, PLO, pada 1957. Abbas sempat mendampingi bosnya sebagai perdana menteri, walau kemudian terpental. Selepas Arafat mangkat pada 11 November 2004, kursi pimpinan Al-Fatah, Organisasi Perlawanan Palestina (PLO), dan Otoritas Palestina kosong. Abbas langsung menduduki kursi pemimpin PLO dan bertakhta di sana hingga terpilih sebagai presiden.
Abbas lahir di Kota Safed, Mesir, pada 1935. Tamat sekolah dasar di sana, ia lantas hijrah ke Suriah setelah Perang 1948. Pria berambut seputih asap ini lantas melanjutkan pendidikan menengah dan perguruan tingginya di Jurusan Hukum Universitas Damaskus, di Kota Damaskus. Setamat kuliah, dia kian aktif dalam gerakan-gerakan politik. Di Suriah, Abbas mendirikan organisasi Palestina pertama pada 1954.
Terobosan Abbas mulai diperhitungkan saat menjadi anggota Majelis Nasional Palestina pada tahun 1968. Satu terobosan ia lakukan pada 1977 melalui perundingan damai tidak resmi dengan Israel. Perundingan rahasia lainnya dengan pejabat Israel lewat perantara Belanda dia lakukan lagi pada 1989. Ketika itu Abbas sudah menjadi anggota Komite Eksekutif PLO dan memimpin Komite Nasional dan Internasional PLO. Pasca-konferensi Madrid 1991, Abbas dipercaya menjabat koordinator perundingan.
Karier politik Abbas kian bersinar ketika dunia internasional semakin mengenalnya pada peristiwa 13 September 1993. Saat itu ia meneken Kesepakatan Oslo di Gedung Putih, Washington, DC, untuk penyelesaian perdamaian dengan Israel. Abbas dikenal punya prinsip dalam membangun hubungan kuat dengan pemimpin-pemimpin Arab dan internasional. Ia tak pernah surut menjalin kontak dengan tokoh-tokoh Israel sejak tahun 1970, bahkan ketika pilihan kekuatan bersenjata lebih kuat ketimbang diplomasi politik.
Harus diakui, sikap itu membuatnya menjadi lebih populer di negara-negara Barat. Apalagi ia dikenal amat dekat dengan Arafat. Dia juga pendukung serius proyek perdamaian Israel-Palestina. Namun, seperti halnya Arafat, Abbas juga bakal mendulang segudang masalah bila pertikaian getir antara Israel dan Hamas tak kunjung berkesudahan.
Selain di politik, Abbas juga dikenal sebagai intelektual dan penulis buku. Dia menulis disertasi doktor tentang Zionisme dan Israel. Pada akhir tahun 1990-an ia mendirikan lembaga studi Israel. Hingga kemudian waktu dan tenaganya tercurah pada lembaga yang melahirkan 11 buku kontroversial tentang Israel.
Namun, hari-hari di masa depan sebagai Presiden Palestina pasti akan menyita setiap waktu luangnya. Seorang sobat dekatnya dengan murung berkata, "Abbas mungkin tak bisa lagi duduk-duduk mengopi sembari bicara tentang buku".
Eduardus Karel Dewanto (BBC, Haaretz, Reuters)
|