Badai Pasti Belum Berlalu Tsunami tak hanya menghancurkan daratan. Ekosistem bawah laut pun porak-poranda. Perlu bertahun-tahun untuk memulihkannya. |
Hilang sudah semua keindahan. Tak ada lagi deburan ombak dan hangatnya pasir Pantai Lampuuk di kaki Humam Hamid. Biasanya, setiap hari Minggu, dosen Universitas Syah Kuala, Banda Aceh, ini mengajak keempat anaknya mandi dan makan ikan bakar di pantai yang terletak di Kabupaten Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam, itu. Tapi tsunami dahsyat 26 Desember lalu telah menyeret habis semuanya. "Pantai sudah jadi rawa payau," katanya.
Porak-porandanya Pantai Lampuuk hanya bagian kecil dari kerusakan besar pantai-pantai di Aceh gara-gara gempa dan tsunami. "Kerusakan terutama terjadi di pesisir barat dan timur Aceh," kata Sudariyono, Deputi Bidang Pelestarian Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup (lihat grafik).
Dan itu baru kerusakan yang terlihat di permukaan. Setelah tsunami berlalu, kehancuran sesungguhnya bakal terjadi di bawah laut sana: pada terumbu karang. Saat tsunami lewat, struktur karang bertubrukan satu sama lain. Empasan air juga membawa ribuan kilometer kubik pasir menutup terumbu karang. Hasilnya, organisme kecil pembentuk terumbu karang akan mati. Ini berarti populasi ikan yang bergantung pada terumbu karang sebagai habitat ikut terancam.
Seberapa parah kerusakan memang belum bisa diketahui. "Masih sulit mendapatkan data rinci. Tapi, melihat tingkat gempa dan tsunami, kerusakan pasti luar biasa besar," kata Widodo Sukohadi Ramono, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Departemen Kehutanan. "Cuma Taman Nasional Gunung Leuser yang aman karena jauh di daratan," ujarnya.
Kerusakan itu terutama terjadi akibat minimnya hutan mangrove di sepanjang pantai Aceh. Sudah lama hutan mangrove atau bakau, dan terumbu karang yang berfungsi sebagai pelindung dari ombak, telah berganti menjadi hotel, tambak udang, jalan raya, perumahan, dan kawasan wisata. Padahal sabuk hijau inilah benteng penghadang tsunami. Itulah sebabnya, Prof Dr Ir Hadi S. Alikodra, MSc, guru besar Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), bersama Working Group Recovery Aceh (WGRA) Pasca-Tsunami mengusulkan pembangunan kembali lewat konsep Agro-Ecopolitan (lihat grafik: Sabuk Hijau yang Terlupakan).
Konsep ini pada dasarnya membangun sistem perkotaan secara ekologi berbasis pertanian. Alasannya, kondisi geografis Banda Aceh berada di dataran rendah dan terbuka dengan tanah sepanjang 15 kilometer dari bibir pantai sehingga rawan gempa dan tsunami. "Jika terealisasi, dalam 5-10 tahun ke depan Aceh akan menjadi daerah yang aman dari tsunami," ujarnya.
Raju Febrian, Deffan Purnama (Bogor)
Fakta Menarik
Gelombang tsunami berdampak hebat pada daerah dengan tipe pantai teluk seperti di Banda Aceh, dan tidak pada daerah dengan tipe pantai terbuka seperti Pulau Simeulue.
Gelombang masuk jauh ke daratan dengan tipe pantai datar, berbeda dengan gelombang di tipe pantai curam berbukit.
Gelombang masuk jauh jika daerahnya minim hutan mangrove, berbeda dengan daerah yang banyak terdapat hutan mangrove.
Gelombang tsunami terhambat di daerah yang memiliki hutan ekstensif.
Sabuk Hijau yang Terlupakan
Working Group Recovery Aceh (WGRA) Pasca-Tsunami mengusulkan pembangunan Aceh dengan konsep Agro-Ecopolitan, membangun kota secara ekologi berbasis pertanian. Radius 500 meter dari pantai tidak ada bangunan dan lebih difungsikan sebagai daerah penahan tsunami. Dibangun hutan mangrove selebar 200 meter dengan panjang 5 kilometer, yang diharapkan mampu menahan gelombang setinggi 4 meter. Konsep awal bisa diselesaikan dalam waktu tiga setengah bulan.
1. Zona Lindung
Di ketinggian 1-12 meter di atas permukaan laut (DPL), merupakan daerah berbahaya. Kawasan ini dijadikan pelindung atau penyangga. Ditanami mangrove, dikombinasikan dengan bangunan pemecah ombak (wave breaker). Bisa dimanfaatkan untuk tambak.
2. Zona Budidaya
Di atas 20 meter DPL, bisa dimanfaatkan sebagai daerah produksi pertanian dan (greenbelt) berupa hutan lindung dan produksi.
3. Zona Perkantoran dan Pelayanan Umum
Di ketinggian 25 meter DPL, merupakan daerah aman untuk pembangunan kantor pemerintahan, pusat perekonomian, pendidikan, tempat ibadah, dan rekreasi pantai.
4. Zona Permukiman
Di ketinggian 12-25 meter DPL, cukup aman untuk relokasi permukiman. Disarankan sejauh 500 meter dari pantai.
A. Taman Wisata Laut Pulau Weh
Terletak sekitar 20 kilometer sebelah utara Sabang, terdapat dua wilayah yang dilindungi: Taman Laut Pulau Weh (2.600 hektare) yang memiliki terumbu karang, dan Resor Konservasi Iboih (1.300 hektare) yang memiliki hutan pantai. Kondisi kedua tempat ini relatif aman atau terlindung karena berada di sebelah utara pulau.
B. Taman Wisata Pulau Banyak
Berada di sebelah barat Tapak Tuan, ibu kota Kabupaten Aceh Selatan, antara Pulau Simeulue di barat laut dan Pulau Nias di selatan. Meliputi daerah 15 ribu hektare, pulau ini memiliki kekayaan terumbu karang, hutan mangrove, dan flora seperti green turtle, hawksbill turtle, leatherback turtle, buaya, dan beo nias (hill myna/Gracula religiosa). Kemungkinan rusak.
C. Taman Wisata Pulau Simeulue
Memiliki luas 27 ribu hektare, terdapat di sebelah barat laut Pulau Sumatera. Daerah terumbu karang dan wisata laut ini relatif aman karena memiliki tipe pantai terbuka dan curam. Rata-rata perbukitan memiliki ketinggian 576 meter.
D. Gunung Leuser
Merupakan taman nasional terbesar di Indonesia (950 ribu hektare). Kawasan ini sama sekali tidak terpengaruh, karena berada jauh di daratan Pulau Sumatera, berbatasan dengan Provinsi Sumatera Utara.
Bahan diolah dari: UNOSAT, CRIPS, USGS, CNES, Lapan, Working Group Recovery Aceh (WGRA) Pasca-Tsunami
|