|
Pengaruh Emosi bagi Penciuman
JIKA hati Anda sedang keruh, janganlah membeli parfum. Waktu akan habis sia-sia untuk memilih aroma yang cocok, dan Anda akan sulit memutuskannya. Soalnya, berdasarkan penelitian terbaru, ternyata emosi amat berpengaruh saat kita mempersepsikan suatu aroma.
Penelitian dilakukan sejumlah ahli dari Brown University, Amerika Serikat, dengan cara yang unik. Mereka mengamati tingkah laku orang yang bermain game di komputer. Jika mereka sedang menang, responden cenderung menyukai aroma apa pun yang disodorkan kepadanya. Tapi, jika sedang kalah, mereka akan cenderung menolak aroma yang diberikan.
Menurut Rachel Herz, salah seorang peneliti, pengalaman seseorang terhadap suatu aroma juga berpengaruh. "Persepsi aroma adalah pengalaman yang dipelajari," katanya. Seseorang yang mencium bau bunga mawar mungkin akan teringat pemakaman ayahnya. Orang lain boleh jadi suka akan aroma sigung karena ia punya memori positif di masa kecil yang terpatri dalam ingatannya. Sejauh ini memang sedikit sekali penelitian yang menyimpulkan bahwa faktor keturunan berpengaruh terhadap persepsi terhadap suatu aroma.
Rahasia Ketagihan Berjudi
Tak salah jika para rohaniwan sering bilang: berjudi sama bahayanya dengan mabuk-mabukan. Berdasarkan hasil penelitian, kedua kebiasaan buruk ini memang bisa mengundang ketagihan. Penjudi dan pecandu narkoba juga memiliki pola aktivitas otak yang sama.
Penelitian dilakukan oleh sejumlah ahli dari Universitaets-Krankenhaus Eppendorf, Hamburg, Jerman. Dipimpin oleh Dr Christian Buchel, mereka mengamati aktivitas otak 12 orang penjudi berat dan 12 orang bukan penjudi. Masing-masing diperiksa dengan functional magnetic resonance imaging ketika mereka sedang bermain tebak kartu sederhana. Mereka mesti menerka isi dua kartu yang tertutup. Jika menang, mereka mendapat hadiah satu euro.
Nah, ketika para penjudi memperoleh hadiah, tampak ventral striatum, salah satu bagian otak, bekerja lebih aktif. Hal ini tidak terjadi pada bukan penjudi. Para peneliti menduga para penjudi gagal mengendalikan jumlah dopamine, zat di otak yang memberikan perasaan puas dan senang. Dan gejala ini juga berlaku pada para pecandu narkotik dan obat-obatan berbahaya.
Bahaya Telepon Genggam
PARA orang tua yang biasa membekali anaknya dengan telepon genggam mungkin perlu berpikir ulang. Tak seperti yang suka digembar-gemborkan oleh produsen telepon seluler, ternyata peranti serbaguna ini amat berbahaya, terutama bagi anak-anak. Inilah hasil penelitian terakhir yang dilakukan oleh Sir William Stewart dari National Radiological Protection Board, Inggris. Disimpulkan: belum ada bukti yang meyakinkan bahwa telepon genggam aman untuk pemakaian jangka panjang.
Lima tahun lalu, Stewart masih mengatakan anak-anak boleh menggunakan telepon genggam dalam keadaan darurat. Tapi kini ia prihatin karena peringatannya tak dihiraukan para orang tua. Nyatanya, satu dari empat anak-anak usia 7-10 tahun di Inggris menjadi pengguna telepon genggam. Jumlah ini dua kali lebih banyak dibandingkan dengan pada 2001.
Sweden's Karolinska Institute juga pernah melakukan penelitian terhadap 750 orang tentang dampak pemakaian telepon genggam. Hasilnya cukup mencengangkan. Orang yang memakai telepon seluler selama 10 tahun atau lebih memiliki risiko besar terkena penyakit tumor telinga.
(BBCNews, Reuters, Healthdaynews)
|