Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 47/XXXIII/17 - 23 Januari 2005
   
Kriminalitas

Perginya Anak Petani Kopi

MESTINYA Riska Leliana, 21 tahun, menyambut malam tahun baru dengan hati bungah. Nyatanya, rasa cemas terus menyergap. Pacarnya, Yohanes B. Hairudy Natong alias Rudy tidak juga meneleponnya buat memberi ucapan selamat. Padahal, pengunjung Diskotek Matabar di kawasan Setiabudi, Jakarta, tempat ia bekerja, sudah lama membunyikan terompet. Itu sebabnya, sepulang kerja, sekitar pukul 04.30, 1 Januari, Riska pun buru-buru menjemput Rudy yang bekerja di Fluid Club, Hotel Hilton, Jakarta.

Yang didapat di sana hanyalah kabar buruk: pacarnya tertembak dan telah dibawa ke RSAL Mintoharjo. Ia pun langsung menuju ke rumah sakit. Sempat menunggu di luar selama 10 menit, Riska kemudian menerima kabar dari seorang dokter bahwa pacarnya telah meninggal. Alangkah terpukulnya gadis yang telah menjalin hubungan serius dengan Rudy selama setahun ini. Kebetulan tempat kos mereka di kawasan Setiabudi, Jakarta, berdekatan. Mereka pun sering makan siang bersama.

Sehari-hari Rudy kuliah di Fakultas Hukum Universitas Bung Karno, Jakarta. Sebelumnya, ia juga bekerja di Diskotek Matabar untuk membiayai kuliahnya. Karena diskotek ini melakukan pengurangan karyawan, sejak November lalu ia pindah ke Fluid Club di Hotel Hilton. Di sana pemuda ganteng dengan tinggi badan 170 cm ini bertugas menagih bon.

Malang sulit ditolak. Ketika melayani wanita bernama Tinul yang duduk bersama Adiguna Sutowo, ia justru kena damprat. Ujungnya, Rudy ditembak kepalanya hingga terkapar dan akhirnya tewas.

Lahir pada 26 November 1976, Rudy dibesarkan dalam keluarga sederhana. Mereka tinggal di Kampung Manggarai, Ruteng, Flores. Sejak ia duduk di bangku SMP, ayahnya sudah mengajarinya berkebun kopi.

Setelah lulus SMA pada 1998, ia memutuskan pergi ke Jakarta, meninggalkan kebun kopinya. Kebetulan, Rudy mempunyai paman yang tinggal di Ibu Kota. Putra pasangan Maria Theresia Srikasih dan Alfons Ambong Natong Dagomez ini mengambil kursus bahasa Inggris dan komputer sebagai bekal untuk bekerja. Setelah menyelesaikan kursusnya, ia bekerja di Diskotek Matabar sebagai bartender. Rudy kemudian mendaftar di Universitas Bung Karno pada 2000 setelah uang tabungannya dirasa cukup.

Menurut kakak sepupunya, Dedi Gomes, Rudy merupakan sosok pemuda yang mandiri. ?Dia memang ingin kuliah dari hasil keringat sendiri,? kata Dedi. Selain membiayai dirinya sendiri, ia juga membantu biaya adiknya, Faleria, yang kuliah di kampus yang sama.

Impian Rudy untuk menjadi sarjana hampir saja tercapai. Dia sudah duduk di semester akhir dan akan diwisuda pada Oktober 2005. Setelah itu, ia berencana menikahi Riska, gadis pujaannya. Tapi segalanya menjadi berantakan setelah peluru menembus kepalanya.

Kini Riska tak sanggup mengingat semua rencana manis itu. ?Terlalu pahit,? ujarnya lirih.

Eni Saeni


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data