Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 47/XXXIII/17 - 23 Januari 2005
   
Ilmu dan Teknologi

Mencekik Geliat Gempa

Teknologi rumah antigempa bikinan Indonesia tak terlalu ketinggalan dibandingkan dengan Jepang. Sayang, tak banyak yang memakainya.

Cuma sepetak kamar yang tersisa. Ya, hanya sekotak ruang berukuran 5 x 5 meter itulah yang masih berdiri. Rumah berlantai dua yang megah, berlantai keramik, bertiang beton dengan aksen Romawi yang dibangun Muhamad Benseh itu?dari hasil mengelola tambak?sudah terjengkang, berantakan tergodam gempa dan tsunami. Semuanya lumat, kecuali kamar belakang yang kini dindingnya dikepung puing-puing dan bangkai kayu.

Hanya itu kemewahan milik Muhamad Benseh yang tertinggal?bahkan satu-satunya kemewahan di kampung Benseh, karena semua rumah di pesisir pantai itu sudah jadi rongsokan. "Hhhh, mengapa dulu semua bangunan tak kubuat seperti kamar ini," kata lelaki yang kini menginap di bangunan sebuah sekolah dasar itu.

Kamar yang berdiri kukuh itu memang dibuat dengan fondasi yang lebih kuat dari bangunan lain. "Fondasinya saja hampir dua meter. Besi-besinya juga lebih besar," ujar pria berusia 57 tahun yang di kampungnya dikenal sebagai raja tambak ini.

Menjinakkan gempa agar tak menimbulkan korban memang bisa dilakukan dengan membuat bangunan berdesain khusus. Jepang, negeri yang kaya gempa dan tsunami, punya segudang pengalaman soal itu. Indonesia? "Cuma bangunan penting yang mempertimbangkan faktor itu," kata I Wayan Sengara, Ketua Kelompok Peneliti Mitigasi Bencana Institut Teknologi Bandung. Padahal berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) tentang Peraturan Bangunan Tahan Gempa, yang ditetapkan pada tahun 2002, semua bangunan di daerah rawan guncangan?tak terkecuali rumah tinggal?wajib memakai desain khusus yang sudah dihitung secara ilmiah.

Rumah tinggal di daerah zona gempa 6 (zona terendah adalah 1 dan tertinggi 6) seperti di pesisir Aceh Barat, misalnya, menurut Wayan harus diperkuat dengan tiang-tiang beton. Tiang inilah penahan beban horizontal gempa.

Bila mau lebih aman, kata Wayan, rumah di sepanjang zona gawat?di pesisir Sumatera bagian barat, juga Jawa bagian selatan?sebaiknya meniru rumah Jepang atau rumah adat yang berdinding kayu. Doktor dari Departemen Teknik Sipil ITB ini melihat sendiri, rumah-rumah panggung di Bengkulu, misalnya, tetap utuh saat gempa membuat bumi Bengkulu bergemeretak pada 1994 dan 2000. Fenomena serupa juga ditemui saat gempa di Liwa, Lampung, 1994.

Mengapa rumah kayu lebih tahan gempa? Menurut teori fisika, kata Wayan, kekuatan gempa berbanding lurus dengan bobot gedung. Semakin besar bobot gedung, kekuatan gempa yang merambat juga semakin besar. Sebaliknya, rumah kayu yang ringan otomatis lebih sedikit merasakan kekuatan guncangan. Selain itu, kayu lebih lentur dan tak mudah patah ketimbang bangunan bata.

Kekuatan gempa sebenarnya juga bisa diredam dengan memasang peredam kejut, mirip shock breaker pada motor atau mobil. Teknologi ini banyak dipakai di gedung-gedung pencakar langit di Jepang sejak gempa besar di Kobe 1995.

Di Indonesia, teknologi ini mulai dikenalkan oleh Balai Penelitian Teknologi Karet Bogor-Lembaga Riset Perkebunan Indonesia. Pada 1994, mereka membangun gedung berlantai empat berperedam gempa berupa bantalan karet di kawasan Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat. Bantalan berdiameter 33 sentimeter dengan tebal 17 sentimeter itu dipasang di tiap sudut poros utama bangunan. Lempeng karet seharga Rp 1,2 juta-5 juta ini bisa tahan hingga 25 tahun dan bisa diganti tanpa merobohkan bangunan.

Terbukti, meski berdiri di zona gawat gempa, gedung penginapan itu hingga kini masih kukuh walau berkali-kali didera gempa besar. "Bantalan ini kuat menahan gempa hingga 7 skala Richter," kata Didiek Hadjar Goenadi, profesor yang mengarsiteki temuan ini di Indonesia. Dengan bantalan karet, pergeseran 0,5 senti di fondasi bangunan tidak akan membuat bangunan retak, karena guncangan akan dicekik bantalan karet (lihat infografik).

Kini, teknologi bantalan karet sudah dipakai untuk mengamankan beberapa jembatan layang di Jakarta dan di tol Cikampek-Purwakarta-Padalarang di Jawa Barat. "Buat rumah juga bisa. Biayanya cuma 7-10 persen dari total biaya membangun rumah," kata Didiek bangga.

Burhan Sholihin, Nurlis Meuko (Aceh), Deffan Purnama (Bogor)



Rumah Aman Gempa

Banyak langkah untuk mengurangi risiko akibat gempa. Salah satunya, menciptakan rumah yang aman dan tahan gempa. Inilah beberapa cara membuat rumah antigempa.

1. Untuk mencegah jatuhnya rak buku dan lemari, pasang pengait L ke dinding.

2. Pindahkan perabot atau hiasan yang berat dari dinding di atas ranjang. Jauhkan ranjang dari kaca jendela.

3. Gunakan panel kayu atau bambu untuk dinding. Dinding kayu atau bambu lebih lentur menghadapi guncangan. Bangunan dari bata lebih regas, mudah patah, dan roboh.

4. Agar rumah kukuh berdiri saat ada guncangan, pasang penguat siku-siku besi.

5. Untuk mengurangi ancaman kebakaran, putuskan aliran listrik dan gas saat gempa. Pemilik mesin pemanas air sebaiknya mengikat mesin itu pada dinding agar tak jatuh dan membuat aliran gas atau listrik terputus.

6. Guncangan dari tanah bisa diredam dengan bantalan karet. Agar kerangka rumah tak tergelincir, pasang pasak pada fondasi. Pada tanah lunak atau pasir yang terendam air, jumlah tiang harus cukup banyak untuk menahan beban horizontal gempa.

Sumber: Focus on earth science


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data