Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 47/XXXIII/17 - 23 Januari 2005
   
Gaya Hidup

Kiat Baru Memanjakan Lidah

Restoran khusus mulai bermunculan di Jakarta. Mereka memanjakan para tamu yang memesan jauh hari.

NYAMAN dan indah. Itulah kesan yang segera muncul saat memasuki William Cafe Artistik di Jakarta Selatan. Orang mesti melewati tangga-tangga berwarna kusam untuk menuju pintu masuk restoran yang berada di lantai dua. Di sudut-sudut ruangan dipajang koleksi benda seni seperti lukisan dan hiasan kayu.

Dapat dibayangkan, pengunjung bisa menyantap lezatnya segala jenis masakan restoran itu sambil menikmati benda-benda seni. Mereka juga tak bakal terganggu oleh pengunjung lainnya karena restoran ini terutama melayani tamu yang sudah memesan tempat dan makanan beberapa hari sebelumnya. "Saya berharap, kalau mereka makan di sini, sudah direncanakan untuk membuang waktu," ujar William Wongso, 55 tahun, pemilik restoran tersebut.

Dia menyodorkan budaya baru itu sejak delapan tahun silam, saat mendirikan William Cafe Artistik. Konsep ahli kuliner kondang ini ternyata berhasil. Kini, restoran serupa yang hanya melayani pengunjung berdasarkan pesanan telah bertebaran di Ibu Kota. Orang kerap menyebutkan sebagai "butik restoran".

Yang mereka sajikan tak sekadar masakan yang terasa enak di lidah, tapi juga pelayanan yang istimewa dan maksimal. Jangan heran jika Kafe William pernah harus dibuka lagi pada pukul 02.00 dini hari. Soalnya, memang ada pelanggan yang ingin mengobrol sambil makan-makan sebelum mereka naik pesawat yang dijadwalkan terbang pada pukul 04.00. Orang-orang seperti ini sengaja mencari suasana yang private tapi bukan sekadar private room. "Umumnya mereka ingin membicarakan urusan bisnis yang belum selesai dibahas di ruang rapat," ujar William.

Buat mendapatkan sajian dan pelayanan khusus, pengunjung mesti memesan sekitar sepekan sebelumnya. Biayanya paling murah Rp 500 ribu per orang, bergantung pada menu yang dipesan.

Restoran itu mengandalkan menu khusus bernama Symphony of Flavours, yang terdiri dari delapan sampai sepuluh jenis makanan khas Eropa yang diracik William. Semua dalam porsi yang kecil. Misalnya saja untuk pelanggan yang datang pada 4 Januari lalu, William menyodorkan salad Kafe William sebagai pembuka. Kemudian disajikan secara berturut-turut grill king prawn, baked pear wrapped with smoked duck breast, fish kataifi, dan pan shrimp scallop. "Kalau ada pelanggan yang vegetarian, kami juga akan sediakan menu khusus," ujar William.

Dengan pelayanan yang istimewa, para pelanggan umumnya dibuat ketagihan. Tak hanya untuk keperluan bisnis, orang yang memesan tempat juga kerap menggunakannya buat acara keluarga seperti pesta ulang tahun anaknya. Hal ini sering membuat William terharu. "Terkadang saya merasa seperti punya cucu. Soalnya, ia dulu juga mengadakan jamuan khusus di sini saat melamar calon istrinya," katanya.

Tengok pula Rumah Tanah Baru, milik seniman keramik F. Widayanto. Berada di kawasan Depok, selatan Jakarta, tempat ini semula bengkel seni semata. Beberapa tahun lalu, Widayanto menyulap sebagian ruangan menjadi sebuah restoran yang nyaman. Open house bagi penggemar seni keramik selalu diadakan setiap Sabtu dan Minggu. Di sana mereka juga bisa belajar seni gerabah. "Lama-lama pengunjung tak hanya menikmati seni keramik, tapi juga mencicipi masakan di restoran," tutur Yuli Angel, pengelola Rumah Tanah Baru.

Belakangan, tempat itu semakin berkembang. Karena banyak orang tertarik, akhirnya Yuli juga melayani pesanan khusus di luar hari open house. "Kami bisa melayani permintaan seperti itu, asal dipesan minimal dua pekan sebelumnya," kata Yuli. Biayanya tak terlalu mahal, Rp 150 ribu-200 ribu per orang, bergantung pada menu yang dipilih. Ini sudah termasuk kegiatan membuat keramik dan tur menikmati koleksi Widayanto.

Menu yang menjadi andalan Rumah Tanah Baru adalah masakan khas Indonesia. Jangan heran jika di restoran ini tersedia makanan seperti nasi pepes dan oseng jantung pisang. Tentu, semua disajikan secara menarik, lengkap dengan makanan pembuka dan penutup. "Kami juga selalu menyuguhkan minuman khas teh sereh dan memberikan cendera mata kepada pengunjung," ujar Yuli.

Peminatnya lumayan banyak. Minimal dalam satu bulan Rumah Tanah Ba-ru mendapatkan order empat kali untuk acara privat. Sebagian pelanggannya adalah para diplomat dari kedutaan besar negara-negara sahabat.

Pelayanan khusus juga sering dilakukan oleh Margaux Restaurant di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat. Restoran ala Prancis ini biasa buka pada pukul 12.00-15.00 dan 18.00-23.00. Tapi, di luar jam-jam ini, Margaux pun menerima pesanan khusus. "Umumnya pelanggan memilih waktu breakfast atau waktu antara jam resmi kami untuk sajian high tea," kata Ratna Syamsiar Idris, Manajer Komunikasi Hotel Shangri-La.

Biasanya kepuasan didapatkan oleh pelanggan yang memesan tempat dan sajian khusus. Ini juga dialami oleh Ditta Amahorseya, Vice President Citibank Indonesia. Ia mengaku pernah beberapa kali mencoba restoran jenis ini, termasuk restoran William Wongso, baik secara pribadi maupun untuk keperluan perusahaan. "Makanan di tempat William cukup spesial. Enak. Menunya juga oke dan bervariasi. Mungkin karena pemiliknya seorang ahli kuliner," ujarnya.

Di mata Ditta, munculnya restoran-restoran khusus karena persaingan bisnis makanan cukup ketat. Itu sebabnya mereka berusaha menampilkan hal yang berbeda untuk menarik pengunjung. Lagi pula orang Jakarta akan cepat bosan dengan restoran yang sudah ada, lalu cenderung untuk mencoba hal yang baru.

Dia juga pernah mendengar restoran milik F. Widayanto di Depok, tapi belum sempat mengunjunginya. "Sebenarnya penasaran juga, sih, apalagi katanya setelah makan kita bisa jalan-jalan di kebun dan melihat bengkel keramik, " kata Ditta.

Kendati relatif baru bagi orang Jakarta, restoran-restoran khusus sebenarnya sudah lama muncul di Eropa. Umumnya pemiliknya sekaligus menjadi pengelola restoran sehingga mereka punya kebebasan penuh untuk membuka atau menutup restoran kapan pun. Menurut William Wongso, restoran semacam ini bisa dijumpai di Prancis dan Spanyol. Di sana banyak restoran yang buka hanya di bulan Oktober hingga Februari. Di bulan-bulan tersebut pengunjung mereka bisa membludak.

Lalu, apa yang dilakukan di bulan-bulan lainnya? Para pengelola restoran akan bertualang ke berbagai pelosok dunia untuk berburu resep-resep baru. Tentu saja, semua demi kepuasan para pelanggannya.

Utami Widowati, Nurdin Saleh


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Kapolda Jawa Barat Copot Dua Kapolsek - 05 Sep 2008 | 21:29 WIB
Bupati Aceh Besar Mengundurkan Diri - 05 Sep 2008 | 21:19 WIB
Guru Tolak Aturan Pendanaan Pendidikan - 05 Sep 2008 | 21:16 WIB
Fernando Alonso Kuasai Free Practice 2 - 05 Sep 2008 | 21:07 WIB
Al Amin Mengaku Tak Berpengaruh di Komisi Kehutanan DPR - 05 Sep 2008 | 21:02 WIB
Kapolda Jawa Barat Mengaku Ditawari Suap Rp 10 Miliar - 05 Sep 2008 | 20:53 WIB
Hughes Bersumpah Jadikan City Raksasa Eropa - 05 Sep 2008 | 20:53 WIB
Bupati Aceh Besar Mundur, Surat ke Menteri Ditulis Tangan - 05 Sep 2008 | 20:44 WIB
Simulasi Pemilihan 2009 Dinilai Tak Efektif - 05 Sep 2008 | 20:40 WIB
Bapepam Akan Gugat Eurocapital - 05 Sep 2008 | 20:32 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data