Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 47/XXXIII/17 - 23 Januari 2005
   
Film

Luka Komponis Hantu

Hollywood melayarperakkan opera yang telah bertahan 16 tahun di pentas Broadway, Phantom of the Opera.

Menyelinap di atas lampu-lampu panggung. Bergentayangan di antara atap sap-sap layar. Menonton dari sudut ketinggian yang tak terlihat. "Hantu" itu jatuh cinta pada seorang soprano jelita.

Kisah-kasih antara si buruk muka dan si cantik yang berakhir tragis bertaburan dalam sastra populer Barat. Dari Paris tahun 1833, Victor Hugo menerbitkan Si Bongkok dari Notre Dame. Kisah petugas lonceng gereja cacat di abad ke-15, kisah Quasimodo yang mencintai Esmeralda, gadis gipsi rupawan.

Dalam ilustrasi buku anak-anak, Quasimodo sering digambarkan berwajah amat buruk, berpunuk, seolah-olah anak setan. Mungkin fantasi itu tertanam dari suatu masa ketika kelas menengah Eropa menganggap para paria penderita lepra atau sampar adalah mereka yang terkutuk, sumber malapetaka yang patut dikucilkan. Selain Quasimodo, lahir banyak imaji tentang tokoh-tokoh berfisik ganjil atau karakter aneh lain seperti seorang kate, seorang cebol, badut yang merana karena kesepian. Terasing, jauh dari cinta….

Dan tahun 1911, pengarang Gaston Leroux meluncurkan Phantom of the Opera. Ini kisah hantu pada tahun 1870 yang menteror gedung Paris Opera Populaire. Ia menjadi momok opera. Semua tak tahu asal-usulnya. Ia bisa membunuh bila tak suka pertunjukan, menculik aktor, memaksa naskah tertentu dimainkan.

Film pertama tentang Phantom tahun 1925 dimainkan Lon Chaney dan Mary Philbin. Selanjutnya, beberapa film diproduksi. Pada 1986, di London, Andrew Lloyd Weber mengangkatnya ke panggung teater. Pada 1988 ia dipentaskan di Broadway sampai sekarang. Di tangan Weber, komposisi menjadi sangat menonjol. Lagu-lagunya melodius, elegan, menyentuh, berkarakter klasik. Seperti dapat kita beli di toko kaset mana pun di sini, tanpa kita pernah menyaksikan pertunjukan teaternya, segera akrab di kuping.

Dan Joel Schumacher, sutradara Batman Forever, tatkala diminta melayarperakkan Phantom versi Weber terlihat ingin mempertahankan watak kekuatan harmoni dan lirik musikal Weber. Film tidak digarap secara realistis. Aktor menyanyi, seolah-olah bermain di panggung, dengan banyak gerak-gerik bermotif pantomim. Untuk pemeran sang hantu dan soprano, Christine Daee, semula diajukan Mic-hael Crawford dan Sarah Brightman, duet asli Phantom di Broadway. Sempat juga muncul nama-nama Antonio Banderas atau John Travolta.

Tapi pilihan jatuh pada aktris berusia 16 tahun, Emmy Rossum (pernah main dalam Mystic River), dan Gerard Butler (aktor di Tomb Raider). Bersama mereka, sepanjang dua jam kita dibombardir hit-hit Weber: The Music of the Night, Wishing You Somehow Here Again, The Point of No Return. Rossum memiliki suara yang lebih halus dibandingkan dengan suara Sarah Brightman. Warna vokalnya seolah keluar dari perempuan yang ringkih, menusuk, membelai lubuk hati. Bagi yang pernah mendengar lagu-lagunya, menonton film ini bagai menyaksikan realisasi dari teks lagu. Bagi yang belum, mungkin akan bosan.

Tampak Schumacher tak ingin kalah dengan dua film musikal: Chicago dan Moulin Rouge. Yang ingin dicapai adalah kisah asmara pedih, tapi secara visual ia sebuah ekstravaganza. Unsur-unsur fashion menonjol. Bahkan penampilan sang hantu sangat flamboyan. Topeng yang menutupinya mirip topeng pesta. Christine My Love.., Paris now will worship you…. Ia menjadi mentor tersembunyi Christine Daee. Christine secara naif mengira gurunya itu adalah malaikat musik yang dikirim arwah ayahnya.

Bagian yang memikat sebenarnya adalah secuplik adegan asal-usul sang hantu. Dikisahkan, mulanya ada sirkus keliling para gipsi yang memiliki tontonan: anak setan yang dilaknat Tuhan, berupa seorang bocah berwajah rusak dalam kerangkeng. Kita ingat semacam ini juga ada di Elephant Man karya David Lynch. Pada Phantom, kepala sang anak ditutup karung goni. Setiap penonton membayar, pemilik sirkus membuka kerudung itu. Suatu kali "anak setan" itu berhasil membunuh majikannya. Ia lari bersembunyi di sebuah rumah opera. Kesepian, butuh cinta, ia tumbuh dewasa bertahan hidup dengan mencipta opera.

Adalah menarik bila proses kreatif itu diperlihatkan. Tapi lupakanlah. Kita tiba-tiba hanya menonton seorang maestro "yang telah jadi" dengan partitur-partiturnya. Seorang genius yang memiliki tempat persembunyian jauh di lorong-lorong air bawah tanah, yang untuk mencapainya harus menuruni curam tangga, lalu naik sampan melalui jebakan jeruji-jeruji besi. Di situ ada piano dan cermin. Dari situ ia kemudian naik ke atas mengamati opera dan hancur hatinya melihat pujaan hatinya jatuh cinta pada maesenas muda: Raoul.

Film dibuka dengan adegan lelang sebuah lampu kristal raksasa di bekas-bekas bangunan Paris Opera Populaire. Lalu, orang kembali pada kenangan yang mengerikan pada 1870 itu. Hari itu teater mementaskan lakon Don Juan Triumphant. Penonton histeris, ternyata pemain Don Juan adalah "hantu" yang menyamar. Signor Piangi, aktor asli, terbunuh. Laki-laki misterius itu memeluk Christine yang tengah memerankan gadis bernama Aminta. Ia membuka topeng menampilkan wajah cacatnya.

Christine menatap berani. Polisi mengepung. Sang hantu melarikan Christine. Ia memotong gantungan lampu kristal. Teater porak-poranda. Keduanya menyanyi: We've passed the point of no return….

Seno Joko Suyono


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Permintaan Pindah Corby Ditolak - 07 Sep 2008 | 12:48 WIB
Hantuchova Favorit di Bali - 07 Sep 2008 | 12:45 WIB
Kontroversi Kepindahan Robinho - 07 Sep 2008 | 12:36 WIB
Lima Perkara Korupsi Selesai Sebelum 2009 - 07 Sep 2008 | 12:33 WIB
M. Mahfud M.D.: Saya Akan Mendapat Kepuasan Batin - 07 Sep 2008 | 12:27 WIB
Korea Selatan Bantah Kesehatan Kim Memburuk - 07 Sep 2008 | 12:26 WIB
Kaka Mungkin Bergabung Manchester City - 07 Sep 2008 | 12:14 WIB
KPUD Sumatera Selatan Akan Percepat Pengumuman - 07 Sep 2008 | 11:56 WIB
Kekasih Peter Crouch Enggan Disebut WAGs - 07 Sep 2008 | 11:46 WIB
Dinas Kesehatan Balikpapan Minta Tambahan Dana - 07 Sep 2008 | 11:29 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data