Indonesia Harus Merebut Piala Tiger |
Peter Withe, kulitnya putih, badannya tinggi besar. Sepintas terlihat ia bergegas masuk ke ruang ganti di lapangan PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia). Beberapa detik kemudian, ia sudah berjalan ke tengah lapangan hijau. Waktu latihan sebenarnya masih setengah jam lagi, tapi ia punya gambaran jelas tentang disiplin: "Kalau mau sukses, kita tidak boleh malas-malasan."
Peter sama sekali bukan pendatang baru. Ia pemain Aston Villa pertama yang memperkuat tim nasional Inggris. Sebelas kali ia terpilih untuk memperkuat tim negaranya. Rekan-rekan seangkatannya termasuk Brian Clough, Ron Saunders, dan Bobby Robson. Tapi orang tak mudah melupakan peranannya yang istimewa dalam Piala Eropa 1982, saat Aston Villa berhadap-hadapan dengan Bayern Munich. Dan Peter pemain tengah (midfield) yang telah memperlihatkan kegigihan mencetak gol penentu kemenangan.
Peter kini bukan bintang lapangan. Tapi kita menangkap sepak-terjangnya di belakang layar: beberapa hari mempersiapkan tim nasional Indonesia, ia sudah berhasil mengantar anak-anak asuhannya ke babak final Piala Tiger 2004. Mereka memang sempat kalah 1-2 di kandang sendiri pada babak semifinal. Tapi, dalam pertandingan di negeri jiran itu, mereka mengalahkan tuan rumah 4-1. Mencengangkan. Partai final dilangsungkan secara "home and away": di Jakarta 8 Januari lalu, di Singapura 16 Januari mendatang.
Peter, pengalamannya segudang, resep keberhasilannya banyak. Menghadapi final, ia mengurangi tensi para pemain. "Ini bukan partai hidup-mati. Nikmatilah permainan dengan penuh semangat," katanya. Dua hari menjelang partai final, pekan lalu, ia masih sempat meriung di sebuah kafe di Plaza Senayan, Jakarta. Dua jam lebih Tempo menemaninya menyeruput hidangan coffee latte kesukaannya. Kepada Rommy Fibri dari Tempo, ia bertutur tentang optimismenya meraih Piala Tiger, resepnya melatih tim nasional, dan kritik atas dunia persepakbolaan di Indonesia. Berikut petikan wawancaranya.
Anda yakin tim nasional Indonesia bisa memenangi Piala Tiger?
Dunia sepak bola Indonesia sudah mengalami peningkatan cukup signifikan. Taktik bermain meningkat, kondisi fisik juga makin prima. Dengan bermain sepenuh hati dalam Piala Tiger kali ini, kita jadi bisa belajar bagaimana membangun kerja tim yang baik. Seperti diketahui, tidak ada satu tim pun yang bisa menang tanpa memiliki kekompakan sebagai sebuah tim. Kemampuan individu menjadi faktor yang kesekian dibandingkan dengan kerja keras tim.
Apakah Anda sudah membayangkan seperti apa pertandingan di final itu?
Kita sudah mempersiapkan segalanya di turnamen Tiger ini. Kami menilai turnamen ini cukup bergengsi.
Anda telah mengantarkan dua tim ke final Tiger Cup: dulu Thailand, sekarang Indonesia. Apakah simpati Anda terhadap Thailand begitu cepat menguap?
Saya beruntung bisa membawa Thailand menjuarai Tiger Cup tahun lalu. Tapi sekarang saya sudah menjadi pelatih tim nasional Indonesia. Yang lalu biarlah berlalu. Sekarang kita harus melihat masa depan. Yang penting, Indonesia harus merebut Piala Tiger kali ini.
Dalam babak semifinal, tim Indonesia dikalahkan Malaysia di kandang sendiri. Apa pelajaran dari pengalaman ini?
Ada semacam euforia dalam masyarakat yang meyakini bertanding di kandang sendiri, keyakinan pasti menang. Para pendukung kemarin memang terkejut saat kita dikalahkan Malaysia. Tapi saya yakin tim Indonesia selalu punya peluang menang di mana pun tempat bertandingnya.
Artinya siap juga menghadapi kekalahan?
Kalah atau menang itu hal biasa dalam sepak bola. Jangan menempatkan diri di antara dua posisi, hidup atau mati. Jika hal ini yang terpikirkan, mau tak mau kita berpikir harus menang. Kita malah makin senewen. Saat itulah kematian makin dekat membayangi. Justru kekalahan yang kita tuai.
Sudah terlalu banyak kematian akibat tsunami di Aceh. Tak usah kita menempatkan pemain pada posisi antara hidup dan mati. Biarkan mereka menikmati permainan sepak bola seperti apa adanya.
Anda memiliki pengalaman sebagai pelatih di sejumlah negara, baik Amerika, Afrika, maupun Asia Tenggara. Punya resep khusus meramu tim nasional Indonesia?
Sebelum melatih pemain Indonesia, saya mempelajari karakteristik pemain-pemain di kawasan Asia. Seperti halnya di Thailand, para pemain punya mentalitas yang kurang bagus. Mereka suka berlambat-lambat dan terkesan malas. Nah, sifat ini juga saya temukan pada pemain-pemain Indonesia. Bahkan untuk mobilitas di lapangan saja mereka malas. Lebih suka berjalan daripada gesit, berlari, dan kembali ke posisi semula.
Saya juga selalu memasang dua atau tiga orang dalam satu posisi. Tujuannya agar terjadi persaingan sehat di antara mereka. Jika tampil buruk, si pemain pasti berpikir posisinya diambil alih rekannya.
Sifat buruk apa lagi yang menjadi catatan khusus Anda?
Kebanyakan pemain lebih menonjolkan kerja individual, bukannya kerja tim. Bekerja bersama dalam sebuah tim belum menjadi budaya mereka. Jika semangat tim bisa dibenahi, mereka bakal menjadi tim yang bagus. Sebab, hingga kini mereka sudah punya modal yang cukup kuat, yakni semangat. Ini harus kita pompa dan arahkan agar terbentuk tim yang para pemainnya bekerja keras di lapangan, tapi bermain dengan sangat sportif.
Apakah teknik ini yang Anda terapkan sebelum menangani tim nasional Piala Tiger?
Ketika menangani tim nasional usia 20 tahun, hal pertama yang saya lakukan adalah mengubah perilaku. Saya minta mereka mengubur dalam-dalam kebiasaan tempo dulu dan mulai menyesuaikan diri untuk menjadi pemain profesional. Mereka harus belajar memegang dan memenuhi komitmen kerja tim, bermain baik, dan bisnis. Intinya, mereka saya beri pengertian soal bagaimana seharusnya menjadi pemain profesional.
Bagaimana sejatinya sosok pemain profesional di mata Anda?
Mereka harus memiliki kelapangan hati, otak yang brilian, dan semangat nasionalisme. Hati yang lapang dibutuhkan untuk menata diri agar bermain sportif dan total. Tapi kita tidak bisa main bagus jika tak punya kecerdasan tertentu sehingga bisa menguasai teknik sepak bola yang sempurna. Dan terakhir, jika kita terpilih mewakili bendera (negara) kita, ini akan membangkitkan semangat yang luar biasa besar. Ada kebanggaan dan harga diri tersendiri saat kita mengenakan kostum kesebelasan nasional.
Jadi, profesionalisme bukan melulu soal duit dan bonus?
Tidak. Malah, jika saya mengenakan kostum kesebelasan nasional Inggris, saya tak pernah berpikir mendapat uang. Kostum dan semangat nasionalisme ini membimbing kita agar bermain bagus. Tak lebih, tak kurang.
Apa tantangan terberat Anda saat membina pemain sepak bola Indonesia?
Saya tidak bisa mengenali para pemain daerah yang mungkin saja sangat bagus. Karena waktu sangat terbatas, hanya mereka-mereka saja yang tergabung dalam tim nasional. Padahal mungkin masih banyak pemain daerah yang lebih bagus dan layak memperkuat tim nasional. Kalaupun saya melihat pertandingan-pertandingan di daerah, itu hanya sekilas.
Harus dipahami, seorang pelatih harus multifungsi. Dia tidak hanya memberikan bekal teknis kepada para pemain, tapi juga bak agen pencari bakat. Dia harus bisa menguasai semua aspek persepakbolaan. Itu makanya, terkadang ada tim yang punya delapan pelatih. Ada yang khusus melatih teknik, ketahanan fisik, penjaga gawang, dan mungkin pembinaan psikologis.
Bukankah faktor psikologis juga sangat mendasar, mengingat tak sedikit pemain yang terlibat perseteruan dengan pelatihnya?
Saya tahu benar hal ini. Makanya, setiap pelatih harus paham psikologi tiap anak didiknya. Meski kapasitas tekniknya bagus, kalau gagal dalam mengelola faktor psikologi, nasib timnya bisa tragis. Pelatih harus bisa menjadi motivator ulung bagi para pemainnya.
Banyak yang menilai rata-rata pemain Indonesia masih terkena sindrom demam panggung. Bagaimana Anda mengatasi hal ini?
Ketika saya melatih tim Thailand dan mengalahkan Indonesia, ada pengalaman menarik. Saat itu saya berdiri di belakang pemain Thailand dan memperhatikan pemain Indonesia. Di antaranya mereka ada yang menundukkan kepala, menoleh sana-sini, dan segala macam. Tidak ada yang tegas menatap ke arah tim kami. Dari situ saya tahu, tim Indonesia ketakutan.
Sekarang kita berada dalam posisi berbeda. Saya harus mengubah strategi dan meyakinkan para pemain Indonesia bahwa mereka bisa melakukan hal yang lebih baik dari kemarin. Malahan, secara fisik dan teknik, para pemain Indonesia masih lebih baik dibandingkan dengan pemain di kawasan Asia. Sepanjang mental pemain bisa dibangun, Indonesia bisa menjadi nomor satu di Asia.
Bagaimana, sih, ceritanya Anda bisa melatih tim nasional Indonesia?
Selepas kontrak di Thailand, ada tawaran melatih tim Indonesia. Saya tanya, apa sih targetnya. Kemudian pelobi dari Indonesia menjawab, ingin menjuarai Piala Tiger tahun mendatang. Wah, kalau tujuannya itu, saya tidak mau. Sebab, melatih sebuah tim nasional itu tidak bisa dibebani target menang-menangan begitu. Harus ada peningkatan setahap demi setahap. Semua harus melalui proses.
Tapi boleh dong punya target ideal seperti Singapura, yang ingin tampil di Piala Dunia 2010?
Target Singapura tidak masuk akal. Mereka bahkan bukan tim terbaik di kawasan Asia Tenggara. Masa, bisa lolos ke Piala Dunia. Seharusnya target awalnya adalah menjadi yang terbaik di Asia Tenggara. Kalau sudah tercapai, barulah berpikir untuk menguasai Asia. Dan terakhir, lolos ke Piala Dunia.
Ini pula yang patut dilakukan Indonesia. Harus diciptakan sebuah sistem agar terjadi peningkatan kapasitas pemain secara terus-menerus.
Bukankah kompetisi liga di Indonesia sudah berjalan lancar dan berfungsi sebagai sistem rekrutmen?
Ini juga aneh. Saya belum pernah ketemu di negeri mana pun ada sebuah kompetisi yang berlangsung dari Januari hingga Desember. Ini terlalu lama. Kita justru tidak bisa bermain bagus jika kompetisinya berlangsung setahun penuh. Lebih baik musimnya diperpendek, tapi semua bekerja keras, daripada harus berlama-lama tanpa hasil optimal.
Dengan hadirnya pemain impor di Liga Indonesia, tadinya diharapkan bisa menularkan keahliannya kepada pemain yunior. Nyatanya tak sedikit pelatih Indonesia yang justru uring-uringan akibat bandelnya mereka....
Semua tergantung pelatihnya. Agaknya tak sedikit para pemain asing yang malas dan tidak bersikap profesional. Itu bagai memberikan contoh jelek kepada kader-kader yang lebih muda. Malah, ketika ada pemain lokal yang lebih bagus, justru tidak diturunkan gara-gara ketenaran pemain asing tersebut. Kita harus tegas, jika keadaannya demikian, harusnya pemain Indonesia yang diturunkan. Yang penting, semua harus berpikir demi kebaikan tim.
Apa, sih, syarat menjadi pelatih yang baik?
Seorang pelatih harus punya sikap dan gaya tersendiri. Dia harus mengenal kemampuan seluruh anak-anak (asuhannya). Jangan sampai keputusan menetapkan pemain dipengaruhi pejabat atau orang lain. Sebanyak apa pun masukan yang diterima pelatih, tetap keputusan ada di tangannya. Pelatih yang bertanggung jawab atas baik-buruknya prestasi tim asuhannya.
Saya punya teman yang melatih tim Myanmar. Pagi hari dia sudah pilih anggota tim nasionalnya, sore hari sudah berubah lagi. Gara-garanya, pejabat negara tidak ingin mereka bermain. Lantas, semua diganti sekehendak hati mereka. Tak akan bisa menjadi pelatih hebat jika situasinya seperti itu.
Apa yang patut dilakukan agar sistem rekrutmen pemain nasional di Indonesia bisa optimal?
Memang sulit, tapi hal ini juga dihadapi tim Thailand. Paling utama, Indonesia harus bisa mengidentifikasi dan mengkodifikasi pemain. Sejak Maret datang ke Indonesia, saya belum pernah tahu ke mana harus mencari pemain jika akan membentuk tim nasional. Kalau ada silabus pemain yang sesuai dengan masing-masing tingkat dan umurnya, tentu akan lebih mudah.
Meski sulit, buktinya Anda bisa menemukan tim nasional di Piala Tiger yang prestasinya cukup membanggakan?.
Ini memang tim nasional terbaik saat ini. Tapi mungkin, dalam tiga bulan, komposisinya bisa saja berganti.
Keputusan Anda ketika mengambil pemain pun sempat menimbulkan pertanyaan, termasuk pencoretan Bambang Pamungkas?.
Bambang memang pemain bagus. Tapi, saat saya menyeleksi timnas Piala Tiger, dia dalam kondisi yang tidak menunjukkan kualitas tinggi. Dengan begini, bisa saja dia merenung dan memperbaiki diri. Kalau sudah begitu, mungkin penampilannya akan memuncak. Dan belakangan saya lihat dia sudah tampil prima kembali.
Masyarakat sempat bertanya-tanya ketika Anda memutar-mutar posisi pemain belakang (back) dengan tengah (midfield). Ini agak langka dan susah dimengerti?.
Standar tim saya memang ketat. Persyaratannya saya gandakan. Mereka tidak cuma harus tampil prima, tapi juga harus bisa menguasai lebih dari satu posisi. Bagi saya, seorang pemain bertahan juga harus bisa bermain di tengah. Taktik ini sangat berguna saat menyerang.
Anda punya pengalaman bermain dan melatih di Amerika Serikat. Bukankah sepak bola tidak populer di sana?
Sampai kini pengalaman di sana tak bisa terlupakan. Sekitar pertengahan 1973 saya bermain di Kota Portland, Oregon. Padahal masyarakat Amerika kurang mengenal sepak bola. Mereka punya permainan sejenis yang disebut soccer, tapi dengan menggunakan tangan, bukannya kaki. Saya sampai capek menjelaskan bagaimana cara bermain sepak bola.
Mereka juga punya kebiasaan yang diadopsi dari soccer, di mana tim tuan rumah harus menggunakan kostum putih. Dan hal ini tidak ditemukan di dunia sepak bola. Dalam salah satu pertandingan, tim kami jadi tuan rumah. Sudah pasti kami memakai kostum warna putih. Tak disangka, tim tamu juga menggunakan kostum serupa. Mereka ngotot dan tak mau berganti kostum. Akhirnya, kami pun ganti kostum.
Di lapangan, kejadiannya sangat kacau. Tiap kali pemain lawan menggiring bola, justru mendapat tepukan meriah dari penonton. Rupanya, penonton mengira tim tuan rumah yang mereka dukung adalah yang berkostum warna putih.
Kapan mimpi masyarakat Indonesia bisa kesampaian, yakni tim nasional Indonesia berlaga di Piala Dunia?
Yang penting, kemampuan teknik dan stamina harus ditingkatkan. Indonesia harus menjadi tim terbaik di Asia sebelum bermimpi sampai ke Piala Dunia. Ibarat tangga, kita harus menaikinya satu per satu.
Kenapa Zinedine Zidane bisa menjadi pemain terbaik, itu karena dia menggunakan pola anak tangga dengan benar. Dia bermain bagus, dan selalu ingin menampilkan aksi terhebatnya. Dia selalu berpikir ke depan. Ketika mendapat bola, dia tidak berpikir bagaimana mengolah bola di kakinya. Dia berpikir lebih jauh dari itu, yakni kepada siapa bola akan dioper sehingga bisa tercipta gol. Nah, kebanyakan pemain-pemain Asia, termasuk Indonesia, masih berada di level mendasar, bagaimana mengolah bola di kakinya.
Peter Withe
Tempat/tanggal lahir:
- Liverpool, 30 Agustus 1951
Pengalaman Bermain:
- 1969 Southport
- 1971 Skelmersdale United Barrow
- 1972 Port Elizabeth City (South Africa)
- 1973 Arcadia Shepherds (South Africa), Wolverhampton Wanderers
- 1975 Portland Timbers (USA), Birmingham City
- 1976 Nottingham Forest
- 1978 Newcastle United
- 1980 Aston Villa
- 1985 Sheffield United
- 1988 Huddersfield Town
- 1989 Power Dynamos (Zambia - Sabbatical Loan)
Manajer:
- 1988 Huddersfield Town
- 1989 Power Dynamos (Sabbatical Loan)
- 1991 Aston Villa
- 1991 Wimbledon
- 1998 Tim Nasional Thailand
- 2004 Tim Nasional Indonesia
Kualifikasi Manajemen:
- 1987 FA Football Management Award
- 2003 FA Pro-License Diploma
Kualifikasi Pelatih:
- 1982 FA Preliminary Coaching Award
- 1984 FA Full Licensed Coaching Award
- 1992 UEFA "A" Full License
- 2003 UEFA FA Pro-License Diploma
Penghargaan Selama Melatih Tim Thailand:
- 1999 Gold Medal Winners SEA Games
- 2000 Kings Cup Winners
- 2000 Tiger Cup Gold Medal Winners
- 2001 Runner-up Coach of the Year Asia
- 2001 Asia Coach of the Month
- 2002 Gold Medal Winners Tiger Cup
|