Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 46/XXXIII/10 - 16 Januari 2005
   
Surat

Surat Pembaca

Penjelasan PT Newmont Indonesia

Majalah Tempo edisi 3-9 Januari 2005 menurunkan tulisan berjudul ”Damai Turun di Teluk Buyat” (halaman 86-87). Kami menilai ada beberapa hal dalam artikel tersebut yang tidak akurat dan menyesatkan. Karena itu, kami ingin menanggapinya.

Kami heran mengapa Tempo menampilkan bagan mengenai proses produksi pada kegiatan operasi Newmont di Peru sebagai referensi berita mengenai operasi pertambangan di Minahasa, Indonesia. Kami menilai bagan tersebut kurang relevan karena apa yang terjadi di Peru sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan apa yang terjadi di Indonesia. Proses produksi dan bahan-bahan kimia yang digunakan di kedua lokasi operasi tambang tersebut sangat berbeda. Namun, dalam melaksanakan kegiatan operasi tambangnya di seluruh dunia, Newmont mematuhi standar-standar lingkungan yang disyaratkan oleh pemerintah setempat atau pemerintah Amerika Serikat, mana saja yang lebih ketat.

Tempo juga mengutip Dr. Budiawan, Direktur Pusat Kajian Risiko dan Keselamatan Lingkungan Universitas Indonesia, yang mengatakan bahwa pembuangan 33 ton merkuri amat berbahaya. Ini berbeda dengan fakta bahwa fasilitas roaster PT Newmont Minahasa Raya mengeluarkan 16 ton emisi merkuri ke udara selama empat setengah tahun beroperasi. Angka ini jauh di bawah standar ambang batas yang berlaku menurut undang-undang dan peraturan di Indonesia maupun menurut United States Environmental Protection Agency (USEPA). Selain itu, 17 ton merkuri sulfida (mineral yang disebut cinnabar), senyawa stabil dalam lingkungan laut terkandung dalam tailing. Hasil pengujian secara ekstensif yang dilakukan terhadap tailing di dasar laut telah membuktikan stabilitas kimiawi merkuri sulfida pada tailing dan faktanya menunjukkan bahwa hal ini tidak membahayakan lingkungan ataupun kesehatan manusia.

Di bagian lain, Tempo mengutip beberapa pertanyaan Iskandar Sitorus yang antara lain berbunyi, ”… Iskandar meminta perusahaan tambang raksasa itu memberi biaya perawatan Rp 50 juta per penduduk selama setahun.…” Kenyataannya, perjanjian damai yang telah ditandatangani PT Newmont Minahasa Raya dan tiga warga Pantai Buyat, dan diputuskan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 5 Januari 2005, sama sekali tidak menyebutkan pembayaran yang harus diberikan kepada ketiga warga tersebut sebagai pengganti dari pencabutan gugatan mereka. Juga, tidak ada pembayaran seperti itu.

Rubi W. Purnomo
Manajer Hubungan Masyarakat
Newmont Indonesia

Jawaban Redaksi

  1. Bagan itu kami muat sebagai bagian dari laporan tim internal audit Newmont yang dimuat oleh New York Times. Kami paham bahwa operasi Newmont di Peru berbeda dengan di Minahasa. Tulisan itu mencoba membandingkan berbagai proses penambangan emas dan risikonya. Kami juga memuat bagan pengolahan emas di Minahasa.
  2. Mengenai emisi merkuri, pernyataan Newmont bahwa operasi tersebut masih di bawah ambang batas yang ditetapkan undang-undang Indonesia juga telah kami kutip (halaman 86, ”Bidikan Baru bagi Newmont” alinea kelima).
  3. Nilai biaya perawatan sebesar Rp 50 juta per tahun per orang dinyatakan oleh Ketua Lembaga Bantuan Hukum Kesehatan Iskandar Sitorus. Menurut Iskandar, semua bergantung pada keputusan pengadilan. Wawancara dan pemuatan berita itu dilakukan sebelum ada keputusan pengadilan 5 Januari.

Terima kasih atas penjelasan tambahan dan masukan Anda.



Bantuan untuk Aceh (1)

Pekan lalu saya menyaksikan siaran CNN, salah satu televisi kabel terkemuka di Amerika Serikat. Stasiun televisi ini menayangkan siaran berita yang berisi wawancara reporter CNN dengan dua bekas Presiden Amerika, George Bush dan Bill Clinton. Keduanya menyebutkan bahwa pemerintah Saudi Arabia mengucurkan dana US$ 300 juta untuk rakyat Palestina, bahkan ada salah satu keluarga kerajaan yang menyumbang US$ 27 juta. Sementara itu, dana yang dikucurkan pemerintah Saudi ke Aceh hanya US$ 10 juta.

Mendengar ucapan mereka, jika itu benar, saya sangat heran dengan kepedulian pemerintah Saudi. Bantuan tersebut sangat tidak sebanding jumlahnya. Bukankah penderitaan rakyat Aceh dibandingkan dengan Palestina jauh lebih parah. Selain puluhan ribu nyawa melayang, juga kerugian harta mencapai triliunan rupiah. Jika dibandingkan dengan bantuan dari pemerintah Inggris, sumbangan tersebut tergolong kecil. Pemerintah Inggris, menurut berita yang saya baca di koran, mengucurkan US$ 100 juta, ditambah bantuan rakyat Inggris melalui berbagai organisasi mengirimkan dana US$ 100 juta.

Saya mengimbau pemerintah Arab Saudi mengirimkan bantuan lebih banyak lagi. Negeri Saudi adalah negeri petro dolar, yang sangat kaya-raya. Bantuan sebesar yang Anda kucurkan ke Indonesia sangat kecil.

S. Naryo
Jakarta Barat



Bantuan untuk Aceh (2)

SAYA menyaksikan berbagai peristiwa memilukan ketika menjadi relawan bencana alam di Nanggroe Aceh Darussalam pekan lalu. Bukan saja melihat penderitaan orang-orang yang kehilangan harta benda, tapi juga anak-anak yang terpisah dari keluarganya. Di samping itu, saya sangat sedih dan geram ketika melihat bantuan makanan, minuman, dan obat-obatan di Nanggroe Aceh Darussalam dijual kembali oleh beberapa orang. Peristiwa itu saya saksikan tak jauh dari Bandar Udara Blang Bintang.

Kegeraman saya tambah kuat ketika si penjual tak mau saya ingatkan bahwa barang-barang tersebut semestinya untuk para korban, bukan untuk dijual kembali ”Tak ada urusan, Bang. Ada uang, ada barang!” jawabnya.

Saya mengharapkan kepada relawan atau lembaga-lembaga yang menyampaikan bantuan agar memberikan langsung kepada orang-orang yang betul-betul memerlukan. Sebab, saya khawatir bantuan obat-obatan, seperti yang saya lihat, diselewengkan oleh beberapa orang untuk disimpan, kemudian dijual kembali ke klinik-klinik yang ada.

FARKHAN
Paseban, Jakarta Pusat



Apa Kabar Pemuda Kita?

LULUH-lantak sudah bumi Nanggroe Aceh Darussalam, harta benda dan nyawa tak terhitung jumlahnya musnah ditelan bumi. Pedih rasanya menyaksikan penderitaan itu. Akankah kita berpangku tangan? Tidak. Untuk mengurangi penderitaan saudara-saudara kita yang ditimpa bencana, kita tak hanya memanjatkan doa dan dukungan moral, tapi juga harus menyisihkan sebagian harta untuk mereka.

Kita turut pula prihatin dengan sikap satuan tugas organisasi kepemudaan yang biasa petentang-petenteng hadir dalam suatu acara organisasi. Mereka tampak gagah perkasa dan selalu siap berkorban nyawa demi keamanan pimpinannya. Namun, kenapa mereka tiba-tiba bersikap loyo ketika menyaksikan peristiwa memilukan di Aceh? Apakah mereka ngeri dengan mayat bergelimpangan, atau tak punya nyali untuk sekadar meringankan saudara-saudara kita di Aceh? Kita tak menyaksikan kedigdayaan mereka membantu para korban dengan baju lorengnya. Yang tampak justru TNI, Polri, dibantu ribuan anggota masyarakat dan LSM bergotong-royong membantu korban Aceh.

Menyikapi peristiwa Aceh, kita patut mengimbau organisasi pemuda agar mengerahkan para satuan tugasnya. Segeralah bergabung dengan seluruh komponen masyarakat membantu masyarakat Aceh dan Sumatera Utara.

Wayan
Depok, Jawa Barat



Tanggapan terhadap Danarto

Membaca kolom Danarto yang berjudul ”Gerak-gerik Tuhan” yang dimuat di majalah Tempo edisi 3-9 Januari 2005 lalu memang menarik. Ada semangat pencerahan. Meski demikian, ada juga kerancuan ketika ia sampai pada kesimpulan bahwa apa yang disebut bencana atau berkah itu tidak ada. Hal itu berarti, lanjutnya dalam kesimpulan itu, surga dan neraka tidak ada. Dosa dan tidak dosa itu tidak ada. Penderitaan dan kebahagiaan tidak ada. Bagaimana kita bisa mengukur gerak-gerik Tuhan sedangkan kita manusia dalam keadaan hina dari sononya.

Kesimpulan ini jelas membingungkan. Bagaimana Mas Danarto sampai menafikan apa yang disampaikan Tuhan dalam kitab sucinya soal adanya dosa, surga, dan neraka. Sebagai manusia kita memang tidak banyak tahu tentang Tuhan dan gerak-gerik-Nya kecuali apa-apa yang diberitakan dalam Al-Quran dan juga hadis. Ia menyebut Al-Quran itu petunjuk umat manusia. Di sanalah termaktub adanya pahala, dosa, surga, dan neraka. Lalu mengapa Mas Danarto sampai pada kesimpulan yang menafikan itu semua? Bukankah ilmu kita manusia ini tak lebih dari setetes air dibandingkan dengan lautan? Mengapa dengan yang setetes itu kita berani menafikan ilmu yang Maha Ilmu?

Helfizon Assyafei
Pekanbaru-Riau



Demonstrasi Soal BBM

Kenaikan harga elpiji dan pertamax telah memicu terjadinya aksi unjuk rasa dari kalangan mahasiswa di sejumlah perguruan tinggi di berbagai kota besar. Rencana kenaikan harga BBM yang tengah digodok pemerintah pun akan menimbulkan reaksi yang sama. Bahkan aksi unjuk rasa diperkirakan akan lebih luas.

Demonstrasi boleh-boleh saja asal gerakan protes mahasiswa tidak menimbulkan anarkisme. Tanggung jawab intelektual mahasiswa adalah menjaga gerakannya semurni mungkin, sehingga tidak memberikan ruang bagi terjadinya penyusupan orang yang menginginkan skenario anarkis.

Sejauh ini protes mahasiswa yang direpresentasikan oleh aksi unjuk rasa kalangan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) selalu didasarkan pada klaim pembelaan terhadap rakyat kecil. Sejatinya, klaim kalangan BEM ini harus diakui sangat sumir. Sebab, penolakan terhadap rencana pemerintah menaikkan harga BBM sama artinya memberikan dukungan, bahkan legitimasi, terhadap subsidi BBM yang salah arah. Sebagaimana diketahui, 74 persen yang menikmati subsidi BBM adalah kelompok masyarakat mampu dan kaya. Ini artinya, BEM membenarkan pemberian subsidi BBM kepada sebagian besar kelompok masyarakat mampu dan kaya. Lalu, di mana pembelaan BEM terhadap masyarakat kelompok miskin?

Kebijakan pemerintah mengurangi subsidi BBM sebenarnya akan diimbangi dengan pemberian kompensasi kepada sektor kesehatan dan pendidikan, serta pembagian beras miskin. Dana kompensasi subsidi BBM inilah yang nyata-nyata diperuntukkan bagi kelompok masyarakat miskin. Logikanya, kalau BEM membela kepentingan masyarakat miskin, mereka justru mendukung langkah pengurangan subsidi BBM.

Sebagai masyarakat akademik, BEM seharusnya menggunakan common sense dalam menilai kebijakan pemerintah. Bukan asal apriori. Mumpung belum telanjur, mari kita koreksi sikap apriori yang mengarah pada sikap waton suloyo. Saatnya, kalangan mahasiswa menggunakan logika cerdas untuk benar-benar membela kepentingan masyarakat miskin.

JENIFER WOWORUNTU
Komp. Lenteng Agung Persada Kav. 54
Jakarta Selatan



Prestasi ITS

Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya menyiapkan bantuan rumah siap berdiri dengan sistem yang bisa dibongkar-pasang (knock down) untuk korban bencana di Aceh (Tempo Interaktif, 4/1). Saya setuju dengan ide ini.

Saya melihat ITS sekarang maju dan berprestasi, dengan banyaknya inovasi yang dibuat perguruan tinggi itu, akhir-akhir ini. Misalnya teknologi robot. Jika diamati, generasi muda Indonesia masih banyak yang pandai dan mampu tanpa harus berutang ke negara-negara asing.

Remy
Berlin, Jerman



Mekanisme Pengumpulan Dana

Sudah saatnya pemerintah menyusun ketentuan yang mengatur mekanisme pengumpulan dana bagi berbagai keperluan, antara lain untuk penanggulangan bencana. Partisipasi masyarakat dalam pengumpulan dana tetap dihargai, tapi bagi para penyumbang atau donator harus ada jaminan bahwa bantuan mereka akan sampai ke alamat yang dituju. Tidak boleh ada pihak yang secara spontan mengumpulkan dana tanpa terdaftar pada lembaga resmi dan tak melaporkan jumlah dana yang diperolehnya kepada lembaga resmi dan kepada masyarakat.

Fathur Rahman
Samarinda, Kalimantan Timur



Universitas Muhammadiyah Jember

Saya sependapat dengan pernyataan Amien Rais, mantan Ketua Umum Muhammadiyah, tentang kondisi Muhammadiyah sekarang ini, seperti yang ditulis Tempo edisi 27 Desember 2004–2 Januari 2005, halaman 194-196. Sebagai anggota Muhammadiyah, saya merasakan perbedaan perilaku Pimpinan Pusat Muhammadiyah semasa periode kepemimpinan A.R. Fachruddin dengan periode sesudahnya.

Setelah periode A.R. Fachruddin telah terjadi erosi roh perjuangan, bahkan penyimpangan-penyimpangan dari ajaran pokok yang selalu mereka dengungkan, yaitu Al-Quran dan hadis. Klimaks perilaku menyimpang ini sangat saya rasakan pada periode Prof Dr Syafi’i Ma’arif.

Seperti yang sulit dipahami oleh Amien Rais, Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang diisi oleh para profesor dan doktor saat ini secara kolektif tidak mendengar aspirasi anggotanya. Ini tecermin dari cara PP Muhammadiyah dalam menangani kasus Universitas Muhammadiyah Jember, Jawa Timur. Bahkan pimpinan Muhammadiyah terkesan telah meninggalkan kaidah-kaidah yang tercantum dalam Al-Quran dan hadis, yang selama ini selalu diagungkan sebagai pegangan utama.

Dalam kasus Universitas Muhammadiyah Jember, PP Muhammadiyah terkesan arogan dan sulit diingatkan, karena tetap mempercayakan kepemimpinan Universitas Muhammadiyah Jember kepada orang-orang yang kurang bisa memegang amanah.

Muljono Hs.
Jalan Karimata 66 RT 02/RW 06
Sumbersari, Jember



Keluhan Penumpang Kereta Patas

Transportasi umum kereta rel diesel (KRD) patas jurusan Bandung-Rancaekek-Cicalengka, sangat membantu masyarakat. Tapi masih perlu banyak persoalan dan perbaikan.

Marilah kita melakukan introspeksi atau otokritik kepada semua pihak yang terlibat dalam aktivitas KRD patas itu. Pertama, kereta ini sering mengalami perubahan jadwal karena tingginya frekuensi kereta api antarkota pada hari raya Idul Fitri, Natal, dan tahun baru.

Kedua, masih banyak penumpang yang tidak membayar. Ada juga yang membayar dengan memberikan uang Rp 1.000. Padahal harga tiket kereta ini Rp 2.500. Sehingga merusak aturan.

Saya mengimbau agar Dirut PT Kereta Api dan Menteri Perhubungan lebih menyejahterakan karyawan operasional di tingkat paling bawah. Mereka yang gampang disogok dengan uang Rp 1.000 bisa jadi karena kurang terjamin kesejahteraannya.

Keempat, banyak pula karyawan Departemen Perhubungan atau PT KAI yang berseragam naik kereta api patas ternyata tak ditagih oleh kondektur. Mereka malah mendapat tempat duduk. Sementara banyak penumpang berkarcis tak kebagian tempat duduk.

Dan terakhir, banyaknya pedagang asongan dan pengamen di kereta yang perlu ditertibkan. Misalnya saja, mereka diberi seragam seperti pramuniaga kereta api antarkota.

Elvinaro Ardianto
Jalan Kaktus No. 3 Blok 7
Bumi Rancaekek RT09/RW14 Bandung



Ralat

PADA Catatan Pinggir ”Tsunami” edisi lalu (3 - 9 Januari 2005) terdapat kesalahan yang mengganggu. Untuk itu, kami mengulang artikel Catatan Pinggir yang telah direvisi pada edisi ini.
Kami minta maaf atas kesalahan tersebut. —Red

Dalam wawancara Deddy Mizwar di rubrik Film yang dimuat di majalah Tempo edisi 3-9 Januari 2005, terdapat kekeliruan. Di situ tertulis kalimat, ”Saya berpikir mungkin Tabah Penemuan bisa melanjutkan.” Seharusnya kalimat ini adalah, ”Saya berpikir mungkin Taba (M.T. Risyaf) bisa melanjutkan.”
Kami minta maaf atas kekeliruan tersebut. —Red


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data