Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 46/XXXIII/10 - 16 Januari 2005
   
Olahraga

Kisah Penari di Kotak Penalti

Pemain muda Boaz Solossa mulai bersinar di tim nasional. Ia diberkati bakat yang luar biasa.

BOLA itu meluncur deras ke arah Boaz T.E. Solossa yang berdiri di luar kotak penalti. Pemain 18 tahun ini berhasil menyetopnya, lalu dengan liukan kecil dia mengecoh pemain Malaysia yang ketat membayanginya. Ketika tinggal berhadapan dengan kiper, ia kembali meliuk seperti penari. Si kiper pun menerkam tanah kosong, dan dengan jitu Boaz menceploskan bola ke gawang yang sudah kosong-melompong. Gol!

Meledaklah sorak-sorai ratusan pendukung PSSI yang Senin malam pekan lalu hadir di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia, tempat semifinal Piala Tiger 2004 digelar. Dengan menang 4-1, akhirnya Indonesia lolos ke final kendati dalam pertandingan pertama di Jakarta, Indonesia dikalahkan Malaysia 1-2. Total skor menjadi 5-3 untuk kemenangan Indonesia.

Boaz sendiri tak kalah gembiranya. Inilah gol keempat yang diciptakannya untuk tim nasional selama berlaga di Piala Tiger. "Saya bangga bisa memberikan sumbangan bagi tim Indonesia," katanya, Kamis pekan lalu, saat ditemui Tempo seusai berlatih di Jakarta.

Pemain muda asal Papua ini memang sosok fenomenal. Kendati belum pernah berlaga di kompetisi Liga Indonesia, Boaz sudah dipercaya pelatih Peter Withe untuk memperkuat tim nasional. Pelatih sempat menyebut pemain ini seperti Wayne Rooney, pemain muda Inggris yang mencorong di Euro 2004. "Dia punya prospek bagus. Sayang kalau dia hanya ikut kompetisi Liga Indonesia. Dia harus dibina ke Eropa sekaligus melanjutkan studi," kata Peter Withe.

Boaz bukan satu-satunya pemain asal Papua di tim nasional. Ada lagi dua pemain lainnya, yakni kakak Boaz, Ortizan Solossa, 27 tahun, dan Ellie Aiboy, 25 tahun. Ketiga pemain ini sama-sama memiliki teknik permainan yang khas: cepat, lincah, serta piawai menggocek bola. Ortizan menjadi pemain sayap. Boaz dan Ellie berperan sebagai penyerang. Sebenarnya, di tim nasional masih ada satu lagi pemain Papua, yakni Jack Komboy yang sering dipasang sebagai bek, tapi belakangan ia jarang ditampilkan karena menderita malaria.

Umumnya pemain Papua diberkati kelincahan fisik dan bakat yang luar biasa. Begitu pula Boaz maupun Ortizan. Ayah mereka, Marcel, juga seorang pemain bola tingkat lokal. Dia bahkan meninggal saat menjalani pertandingan persahabatan. Boaz sendiri mulai menunjukkan kecemerlangannya saat bermain untuk klub amatir PS Putra Yoan Sorong yang beberapa kali menjuarai turnamen lokal. Kemampuannya semakin dikenal luas setelah ia memperkuat tim Papua dalam PON di Palembang, September lalu. Tak hanya jadi pencetak gol terbanyak, Boaz juga sukses me-ngantar timnya menjadi juara bersama tim Jawa Timur.

Ketika dipanggil pelatih Peter Withe, Boaz sempat menolaknya. Tapi pelatih asal Inggris ini tak putus asa. Bersama PSSI, dia terus berusaha membujuk keponakan Gubernur J.P. Solossa ini untuk datang ke Jakarta. Boaz pun akhirnya luluh. Dia bergabung di tim nasional usia di bawah 20 tahun (U-20) yang, sayangnya, gagal di ajang Piala Asia Junior 2004. Toh Withe melihat potensi berlimpah pada diri pemuda belia ini sehingga ia kemudian dimasukkan ke tim senior.

Di tim nasional, Boaz amat kompak dengan kakaknya, Ortizan. Bahkan ia selalu tidur satu kamar dengan si kakak. "Saya bangga bisa berada satu tim dengan kakak, " kata Boaz. Ia mengaku kerap mendapat nasihat dari kakaknya. Nasihat-nasihat itu semakin memupuk rasa percaya dirinya.

Menurut mantan pemain nasional Iswadi Idris, kehadiran Boaz menunjukkan bahwa Papua selalu memiliki stok melimpah pemain bagus dan berbakat. Sebelumnya, ada Domingus yang muncul di era 1960-an, lalu Robi Binur, Timo Kapisa, dan kawan-kawan pada 1970-an, Adolf Kabo, Yonas Sawor, dan Rully Nere pada 1980-an, dan belakangan muncul pula Ronny Wabia, Aples Tecuary, dan Edward Ivak Dalam.

Selama ini pemain Papua cenderung eksklusif dan sering stres saat bergabung dalam tim nasional. "Tapi para pemain Papua di tim nasional kali ini saya lihat berbeda. Mereka mampu menyatu dan beradaptasi dengan baik. Mungkin karena mereka sudah banyak bermain di luar Papua," ujar Iswadi. Memang, sebagian besar pemain Papua di tim nasional saat ini bermain di klub di luar Papua. Ortizan dan Jack Komboy "merumput" di klub PSM Makassar, dan Ellie bermain di Persija Jakarta. Boaz sendiri sampai sekarang belum memiliki klub.

Bukan berarti tidak klub yang melirik Boaz. Pemain ini malah telah menjadi buruan klub-klub dalam negeri yang tengah bersiap menghadapi Liga Indonesia 2005. Ada juga klub di luar negeri yang menawarinya. "Tapi saya belum mau memikirkannya. Saat ini saya ingin konsentrasi ke Piala Tiger saja," katanya.

Harapan justru muncul dari Ortizan. Dia ingin adik bungsunya suatu saat bisa bermain di luar negeri. "Namun, saya berharap dia menyelesaikan sekolah dulu," katanya. Boaz saat ini masih duduk di kelas III SMU.

Kendati agak enggan berbicara soal ambisi pribadi, Boaz amat bersemangat ketika diajak mengobrol tentang tim nasional yang dibelanya. Ia ingin sekali ikut mengantar tim nasional merebut Piala Tiger untuk pertama kalinya. Tiada cara lain, mereka mesti mengalahkan Singapura di partai final. "Saya kira, kami bisa juara," kata Boaz.

Nurdin Saleh


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data