Geliat di Balik Kerusakan Genset diandalkan menjadi penerang Aceh. Harga bahan kebutuhan pokok melonjak. |
LISTRIK mulai menyala di sejumlah kota yang dilanda gempa bumi dan tsunami di Aceh. Hubungan dengan dunia luar pun sudah mulai normal. Telepon seluler sudah bisa digunakan. Bandar Udara Iskandar Muda bahkan sudah dipacu bekerja 24 jam, baik untuk pendaratan pesawat komersial maupun pesawat-pesawat pembawa bantuan.
Pelabuhan Meulaboh, yang semula tak bisa disandari kapal, kini sudah bisa digunakan. Kota di pantai barat Aceh ini juga sudah bisa ditembus dari Banda Aceh setelah Tentara Nasional Indonesia membangun jembatan darurat (Bailey bridge). Pasar-pasar tradisional di sejumlah daerah seperti Lambaro, Neusu, dan Ulekare sudah banyak didatangi pedagang dan pembeli.
Pemerintah pusat memiliki sejumlah program perbaikan dan pembangunan kembali Aceh, meskipun baru pada tahap perencanaan. Sejumlah kerusakan sudah bisa diidentifikasi, walaupun jumlah kerugian pasti ma-sih belum bisa dihitung. Telkom, misalnya, sudah menghitung kerugian sampai Rp 166 miliar, dan angka kerugian PLN malah sampai Rp 500 miliar.
Perbaikan fasilitas publik di Aceh memang tak bisa menunggu. Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto, memperkirakan biaya perbaikan prasarana umum, seperti jalan dan jembatan, mencapai Rp 6,2 triliun. Dan untuk menyusun kembali Aceh dari reruntuhan, Wakil Presiden Jusuf Kalla menyebut pemerintah membutuhkan dana Rp 10 triliun-15 triliun. Perkiraan biaya yang lebih besar datang dari Bank Dunia. Sebelum meninjau Aceh dari dekat, Presiden Bank Dunia, James D. Wolfensohn, sempat memprediksi biaya pembangunan kembali Aceh Rp 19 triliun, atau satu persen dari target produk domestik bruto Indonesia tahun ini.
Besarnya skala kerusakan mengakibatkan upaya perbaikan terasa lamban. Memasuki pekan kedua setelah bencana, sambungan telepon di Banda Aceh masih terengah-engah. Warga yang ingin mengabarkan keberadaannya via kabel harus rela antre karena terbatasnya sambungan kabel.
Telkom dan Indosat menyediakan saluran telepon yang dapat digunakan gratis oleh warga. Fasilitas itu dipasang di berbagai tempat, seperti di kamp pengungsian Mata Ie, Rumah Sakit Kesehatan Kodam (Kesdam), dan Posko Penanganan Bencana Gempa dan Tsunami di kediaman gubernur. "Seharusnya hanya dua menit, tetapi banyak yang memakai hingga lebih dari lima menit," kata Kusdiyanto, karyawan Indosat.
Sinyal telepon seluler hingga minggu kemarin juga masih timbul-tenggelam. Telkom ataupun Indosat, dua operator seluler terbesar di Aceh, mengaku telah memperbaiki beberapa transmisi yang rusak. Namun, tingginya lalu-lintas komunikasi membuat kanal telekomunikasi tercekik. "Sebaiknya menggunakan pesan pendek saja," ujar Agus Soekarno, Vice President Area Sumatera Telkomsel, kepada Bambang Soedjiartono dari Tempo.
Barang mewah lain di Banda Aceh dan Meulaboh adalah aliran listrik. Air laut yang menggenangi Banda Aceh telah mencabut hampir semua tiang listrik di kota itu. Tak mengherankan jika masih sangat terbatas tempat yang diterangi lampu pada malam hari. Salah satunya adalah pendopo di kediaman Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam. Tempat posko darurat itu tak pernah gelap karena mengandalkan genset sebagai sumber listrik.
Genset kini menjadi tulang punggung listrik di Serambi Mekah. Dari 195 pembangkit tenaga listrik yang ada di Aceh, hanya pembangkit yang ada di Lueng Bata yang tak rusak. Sebagian besar pembangkit listrik lainnya mengalami kerusakan karena terendam. Yang paling parah adalah pembangkit listrik Apung, Banda Aceh, yang hanyut tersapu air bah.
Sejak pekan lalu, lebih dari seratus genset didatangkan untuk menerangi Aceh. Pada Jumat lalu, misalnya, Indonesia Power?salah satu anak perusahaan PLN?mengirimkan 87 unit genset. Listrik pun mengalir, meski terbatas. "Kecuali Banda Aceh dan Meulaboh, listrik di Aceh sudah mulai membaik," ujar Direktur Transmisi dan Distribusi PLN, Herman Daniel Ibrahim, kepada Mohammad Fasabeni dari Tempo. Di kedua kota yang disebut Herman, penyalaan listrik jauh di bawah 50 persen.
Kesulitan lain datang dalam bentuk jalan dan jembatan yang berlumpur hingga rusak total. Kota Meulaboh menderita kerusakan jalan dan jembatan terparah. Kota terbesar ketiga di Provinsi Nanggroe Aceh itu kini hanya bisa diakses dari Bireun. Jalan yang menghubungkan Medan dengan Meulaboh putus total karena kerusakan tiga buah jembatan yang terletak antara Bangkongan dan Kota Fajar.
Akibatnya, harga barang kebutuhan pokok saling berkejaran di Meulaboh. Harga sedikitnya naik dua kali lipat. Harga beras satu bambu (setara dengan dua liter), misalnya, yang biasanya Rp 4.000 melonjak jadi Rp 8.000. Minyak tanah dari Rp 1.300 menjadi Rp 6.000 per satu bambu. Harga bensin dari Rp 2.000 malah melambung jadi Rp 20.000 per liter. Namun, dalam beberapa hari terakhir harga-harga mulai turun setelah bala bantuan bisa masuk ke Meulaboh.
Yang tinggal adalah harapan agar pemerintah segera bertindak. Paling tidak, perbaikan sarana umum harus segera dimulai, anak-anak sekolah yang pekan ini sudah harus masuk bisa kembali belajar. Sekolah yang rusak berat diperkirakan 1.150 buah. Jika tak segera diperbaiki, anak-anak sekolah di Aceh akan makin tertinggal dari anak-anak di provinsi lain. Pemerintah juga sudah menyiapkan 240 tenda untuk pasar darurat.
Thomas Hadiwinata, Tempo News Room
Bangunan dan Prasarana Umum
Sebelum bencana tsunami
- Jumlah kantor pemerintahan: 222
- Jumlah bangunan sekolah: 4.021
- Jumlah prasarana kesehatan: 972
- Jumlah rumah ibadah: 11.339
Tingkat kerusakan bangunan di seluruh Aceh diperkirakan di atas 25 persen (angka perkiraan Departemen Dalam Negeri per pekan lalu).
Jalanan yang rusak sepanjang 49 kilometer.
Perumahan Rakyat
Jumlah keluarga yang kehilangan rumah: 350 ribu keluarga (angka perkiraan Departemen PU hingga pekan lalu).
Listrik
- PLTD (pembangkit listrik tenaga diesel) Apung, Banda Aceh, dengan kapasitas 10 megawatt, hanyut tersapu banjir. Sejumlah PLTD lain mengalami kerusakan yang dapat diperbaiki.
- Jaringan transmisi menengah sepanjang 350 kilometer.
- Jaringan transmisi rendah 900 kilometer
- 100-150 unit gardu induk kapasitas 20 MVA.
- 40 ribu satuan sambungan rumah.
Telepon
- Sentral telepon otomat (STO): 22
- STO yang teridentifikasi: 13
- STO yang tak teridentifikasi : 9
- Satuan sambungan telepon (SST): 98.984
- SST yang masih berfungsi: 71.889
- SST yang rusak: 27.095
Telepon Seluler Telkomsel
- Base transceiver station (BTS): 88
- BTS yang telah beroperasi: 42
Indosat
- BTS: 33
- BTS yang telah beroperasi: 17
|