Cokelat Panas Bernama Solidaritas Sebuah perkabungan global terbentuk pasca-tsunami. Mulai dari Ratu Denmark Margrethe II sampai anak-anak yang menantang hujan di Amerika. |
Langit 2005 di dunia Eropa berwarna biru tua. Tanpa lukisan kembang api yang membelah angkasa; tanpa pekik gembira atau dentingan gelas sampanye. Seluruh dunia memperingati tahun baru, bukan merayakannya. Bukan untuk menyebarkan kepedihan, tetapi untuk sebuah perkabungan. "Tak pernah langkah memasuki tahun baru seberat sekarang," ujar Göran Persson, Perdana Menteri Swedia, di ambang datangnya tahun 2005.
Persson kehilangan 3.500 warganya yang sedang berlibur di Phuket, Thailand. "Aneh rasanya tanpa kembang api dan keriaan (di malam tahun baru). Tapi kedua hal itu sungguh-sungguh keliru bila dilakukan sekarang," katanya. Sebagai gantinya, ia menyarankan sembilan juta warga Swedia untuk menyalakan lilin di bibir jendela.
Bersama dengan Finlandia dan Norwegia, tiga negara Skandinavia itu menyatakan 1 Januari 2005 sebagai hari berkabung nasional. Sementara Ratu Margrethe II dari Denmark membatalkan seluruh acara malam tahun baru yang diagendakan untuknya dan menetapkan hari Minggu 2 Januari sebagai hari berkabung nasional.
Di Jerman, penjualan kembang api juga anjlok karena anjuran Kanselir Gerhard Schröder untuk menyalurkan anggaran pesta tahun baru menjadi donasi. Pesta utama di Gerbang Brandenburg di Berlin tetap berlangsung, namun layar raksasa yang di sekitar arena menayangkan imbauan agar pengunjung menyumbang UNICEF. Sekitar seribu warga Jerman hilang dalam bencana tsunami di berbagai negara. Bendera setengah tiang tampak terlihat di sejumlah tempat.
Paris menjadi kota muram. "Ini bukan seperti malam yang biasa, karena kesedihan menyelimuti seluruh planet," ujar wakil Wali Kota Anne Hidalgo. Di jalan utama Champs-Elysees dan sekitar Place de la Concorde, pepohonan dan tiang lampu jalan dibebat kain hitam sebagai tanda berkabung.
Di Australia, lebih dari satu juta penduduk Sydney menyemut di pelabuhan untuk menyaksikan atraksi kembang api yang digelar. Pemerintah kota tetap melanjutkan acara itu karena beranggapan tak ada uang yang bisa dihemat dengan membatalkan acara. Acara berubah khidmat ketika pengunjung diminta mengheningkan cipta satu menit untuk mengenang korban, sebelum dilanjutkan dengan pengumpulan dana.
Gencarnya pemberitaan korban tsunami membuat seorang janda tua di Kentucky, Amerika Serikat, mengalami kembali luapan semangat hidup. Claire Neal, 75 tahun, mengundang penduduk Kota Owensboro untuk penggalangan dana di rumahnya yang terletak di tepi Sungai Ohio. Dalam semalam ia mengumpulkan US$ 7.000 dan terus akan membuat acara serupa sampai beberapa pekan ke depan.
Sementara itu sekelompok anak kecil di Kota Sammamish, yang terletak pinggiran Seattle, berdiri di tengah hujan membuat kedai darurat dengan tulisan "Cokelat Panas untuk Bantuan Korban Gelombang". Salah seorang di antara mereka bernama Thomas Wilson, berusia 11 tahun. "Menakutkan. Sangat mengerikan bila kehilangan keluarga dalam jumlah besar," ujarnya. "Dan tak ada yang bisa saya lakukan untuk mengatasi hal ini, selain membuat cokelat panas. Sekarang perasaan saya mendingan," ujarnya seraya menghitung hasil penjualan malam itu sebesar US$ 225 (sekitar Rp 2 juta). Seluruh pendapatan disumbangkan ke Palang Merah Amerika Serikat.
Solidaritas terhadap korban tsunami juga ditunjukkan oleh musisi. Para artis Kanada yang dimotori tiga ikon terpopulernya saat ini, Avril Lavigne, Sum 41, dan Sarah McLachlan, akan menggelar konser amal di Calgary, Kanada, akhir Januari. Di Inggris, penyanyi pop veteran Cliff Richard berkolaborasi dengan Boy George dan DJ Mike Read, akan merekam versi amal lagu Grief Never Grow Old milik Read. Sedangkan di Hong Kong, legenda pop Andy Lau ikut berpartisipasi dalam konser amal akhir pekan lalu, yang meraup pendapatan lebih dari Rp 6,2 juta (Rp 55 miliar) dalam semalam.
Musisi klasik juga ikut berpacu menggelar konser untuk menggalang bantuan. Presiden Jerman Horst Köhler, yang membuka konser tahunan Berlin Philharmonic, menyatakan seluruh pendapatan akan diberikan untuk korban tsunami. Adapun The Vienna Philharmonic Orchestra memberikan donasi US$ 136 ribu (Rp 1,2 miliar) kepada Badan Kesehatan Dunia untuk membantu persediaan air minum bagi korban tsunami yang selamat.
Jika dilihat dari spektrum pertunjukan yang membentang luas di berbagai negara, termasuk Indonesia, aktivitas konser yang digelar para musisi ini jauh lebih besar dibandingkan konser legendaris We Are the World yang diselenggarakan untuk mengumpulkan dana bagi korban kelaparan di Afrika tahun 1985. Kini We Are the World direkam ulang dalam bahasa Mandarin oleh lebih dari 100 penyanyi Hong Kong, Cina daratan, dan Taiwan.
Daftar solidaritas ini masih bisa terus diperpanjang dari kalangan aktor, olahragawan, politisi, imigran, rakyat biasa, anak kecil, semua kalangan. Setiap hari selalu terungkap fakta baru yang menunjukkan betapa bencana mendekatkan hati. Yang jelas, tak seorang pun akan menampik kebenaran kata-kata Perdana Menteri Swedia Göran Persson ini. "Tak pernah langkah memasuki tahun baru seberat sekarang."
Akmal Nasery Basral (AFP, Reuters, BBC)
Bukan Berlagak di Salon Kecantikan
DAMPAK tsunami akhirnya menghajar dunia Arab. Kali ini harian Al-Qabas, sebuah harian berpengaruh di Kuwait, menyentil lambannya respons serta kecilnya bantuan yang diberikan negara-negara Teluk kepada kawasan yang porak-poranda. Padahal, lebih dari separuh tenaga kerja di negara itu berasal dari Sri Lanka, India, dan Indonesia dan mereka berperan besar dalam menopang kesuksesan ekonomi negeri kecil itu. "Apakah muslim sudah tak berperasaan? Kita harus memberikan lebih banyak: kita kaya-raya," cetus Al-Qabas.
Jika dibandingkan dengan derasnya kucuran dana dari negara-negara Eropa dan Amerika Serikat, donasi yang diberikan negara-negara Teluk memang tidak sampai sepersepuluhnya. Sebagai perbandingan di saat-saat awal pasca-bencana, Amerika dan Kuwait masing-masing memberikan komitmen bantuan sebesar US$ 35 juta (Rp 315 miliar) dan US$ 2 juta (Rp 18 miliar). Setelah muncul kritik pedas dari masyarakat di kedua negara, AS mendongkrak bantuannya sampai 10 kali lipat (US$ 350 juta) dan Kuwait lima kali lipat (US$ 10 juta).
Arab Saudi pun awalnya mendonasikan US$ 10 juta sebelum menaikkan menjadi US$ 30 juta beberapa hari kemudian. "Tapi kenaikan itu bukan karena banyaknya kritik terhadap kami," ujar Duta Besar Arab Saudi untuk Inggris, Pangeran Turki al-Faisal, menampik rumor yang beredar. Di Jakarta, Duta Besar Arab Saudi Abdullah Abdul Rahman Alim menjawab pertanyaan sejumlah wartawan di kantornya, Jumat lalu. "Kami bersikap realistis, kami tidak menyukai propaganda. Bila kami menjanjikan sesuatu, pasti kami akan memenuhinya, insya Allah," ujar Abdullah.
Ia menunjukkan kasus gempa bumi di Bam, Iran, tahun lalu, sebagai contoh bagaimana negara-negara yang berkoar paling tinggi memberikan bantuan ternyata malah tak menepati janji. Dalam catatan Tempo, jumlah bantuan bagi Iran yang dijanjikan sebesar US$ 1,1 miliar (sekitar Rp 10 triliun), ternyata hanya US$ 17,5 juta (Rp 157 miliar) yang cair alias tidak sampai 1,6 persen! Berkaca dari kasus itu, tak heran bila dalam KTT tentang tsunami di Jakarta, Kamis lalu, Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan sampai mengingatkan negara-negara donor agar jangan "berlagak seperti di salon kecantikan".
Tak kurang dari Presiden Organisasi Konferensi Islam, Abdullah Ahmad Badawi, yang juga Perdana Menteri Malaysia, merasa perlu meluruskan isu ini. Menurut dia, ada baiknya PBB yang berada di depan untuk memimpin pengumpulan dan penyaluran dana. "Kalau kita (dunia Islam) sendirian, nanti orang juga bertanya-tanya," katanya.
Sejak akhir pekan lalu, tudingan pelit terhadap Saudi dan negara-negara Teluk tampaknya tak berlaku lagi. Sebuah kampanye hamlah tabaaru'at (pengumpulan dana kebajikan) atas perintah Raja Fahd bin Abdul Aziz, yang melibatkan sejumlah ulama dan disiarkan langsung oleh televisi setempat, berhasil meraup dana sebesar 242 juta riyal (Rp 593 miliar) hanya dalam dua hari. "Kita ingin membuktikan bahwa prasangka media Barat bahwa kami enggan membantu saudara yang ditimpa musibah adalah tidak benar," ujar Dr. Syeikh Abdullah, salah seorang ulama dalam penggalangan dana itu.
Akmal Nasery Basral (Al-Jazeera, Reuters)
|