Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 46/XXXIII/10 - 16 Januari 2005
   
Nasional

Setia Kawan Kaum Pinggiran

Bencana gempa dan tsunami membangkitkan solidaritas sosial. Ada juga yang memanfaatkan kesempatan.

LANGIT yang menangis sejak menjelang zuhur itu masih menyisakan gerimis. Namun rombongan wanita bertubuh gagah itu berjajar genit di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jember, Jawa Timur, Selasa pekan lalu. Berdandan glamor dengan tata rias meriah, para waria itu sedang menggalang dana untuk korban gempa dan tsunami di Aceh dan Sumatera Utara. "Jangan dikira kami tak peduli, lho Mas," kata Peggy Carlo, dengan suara baritonnya yang khas.

Setelah sukses mencegat dan meminta sumbangan dari beberapa anggota Dewan, mereka beralih ke bundaran Jalan Kalimantan di seberang pagar. Di sana, sambil menenteng kotak amal dari kardus bekas, para anggota Sexy Boys Jember itu merayu para pengguna jalan. Mereka juga membentangkan spanduk: "Sexy Boys Peduli, Bagaimana dengan Anda?"

Di bawah gerimis, mereka meminta sumbangan sambil menyusuri jalan utama Jember. Dalam empat jam mereka berhasil mengumpulkan Rp 661 ribu, yang lalu dititipkan ke sebuah stasiun radio untuk diteruskan ke Aceh. "Kami sebenarnya ingin jadi relawan, tapi para korban mungkin belum bisa menerima eksistensi kami," kata Memey, anggota Sexy Boys, kepada Mahbub Junaidi dari Tempo.

Musibah besar yang menimpa Aceh dan sebagian Sumatera Utara, dua pekan lalu itu, telah membangkitkan gelombang kesetiakawanan sosial dengan kecepatan luar biasa. Bahkan "orang-orang pinggiran", yang harus membanting tulang untuk sesuap nasi, pun tergerak kesadarannya. Tengoklah Muhamad Sadeni, 37 tahun, pedagang barang bekas di kawasan Sekip, Palembang, Sumatera Selatan. Setiap hari ia menyisihkan Rp 5.000, dari penghasilan yang hanya Rp 15.000 sampai Rp 20.000, untuk korban Aceh. "Saya menyumbang ke posko mahasiswa sejak ada berita bencana," katanya kepada Arif Ardiansyah dari Tempo.

Para "pak ogah" yang biasa mangkal di mulut Gang Pandean Lamper II dan III, Semarang, juga tergerak membantu korban bencana. Jhoni, pemuda pengangguran yang biasanya hanya membawa peluit dan tanda stop dari tutup kaleng cat bergagang kayu, dua hari di ujung 2004 lalu membawa peralatan tambahan. Ia dan lima belas rekannya membawa kardus mi instan bertulisan "Bantulah Korban Aceh". Mereka mengaku terpanggil melakukan aksi solidaritas itu setelah melihat tayangan bencana dahsyat itu di layar televisi dan koran.

Dalam dua hari mereka mengumpulkan Rp 703.100. Uang itu lalu disalurkan melalui posko dompet peduli salah satu media lokal di Semarang. Ketika keesokan harinya tertera "Sumbangan dari Pak Ogah Pandean Lamper, Rp 703.100" di koran itu, mereka bangga bukan main. Padahal, dengan menyerahkan hasil kerja dua hari, Jhoni merelakan penghasilannya yang Rp 15 ribu-20 ribu per hari, sehingga ibu dan keponakannya harus rela tak menerima uang belanja dan uang jajan.

Di Kampung Tambaksari Selatan Gang VII, Surabaya, tiga hari setelah musibah, sejumlah pemuda dan anak-anak kampung berkeliling menarik sumbangan. Sekitar 20 anak berbaris membentuk arak-arakan mengedarkan kotak amal. Mereka juga menggelar poster berisi guntingan berita koran tentang penderitaan Aceh. Ada yang bertelanjang dada, membalut kepala yang sesungguhnya tidak terluka, atau berjalan terseok-seok, semacam ber-happening art-lah. Bahkan ada yang mengusung keranda.... "Kami bersedih," kata Willy Prasetyo, remaja 15 tahun asal Kampung Tambaksari. "Saya lihat di televisi, banyak anak kehilangan orang tua." Hari itu mereka mengumpulkan uang Rp 512 ribu, pakaian bekas, makanan dan minuman.

Memang, di tengah upaya penggalangan dana, ada pula yang memanfaatkan kesempatan. Posko Sumbangan untuk Aceh yang didirikan Bulan Sabit Merah Indonesia Surabaya di Jalan Dharmawangsa IV, Surabaya, misalnya, sempat kecolongan uang Rp 1 juta. Ternyata uang itu diembat Sutaryo, pemuda Kampung Dharmawangsa yang biasa keluar-masuk dan membantu-bantu di posko. "Saya ngambil uang itu untuk biaya nikah," katanya kepada Sunudyantoro dari Tempo, tersipu-sipu.

Petrus, 52 tahun, pegawai rendahan di Kantor Gubernur Sulawesi Selatan, sehari-hari hanya menyiapkan kopi dan membelikan makan para pegawai. Meski hidup pas-pasan bersama istri dan lima anak, ia menyumbang lewat kantor dan lingkungan tempat tinggalnya, masing-masing Rp 10 ribu. Ibu kota provinsi itu, Makassar, dalam dua pekan ini memang seolah-olah berubah jadi pasar celengan. Di jalan-jalan di depan seluruh kampus di Makassar puluhan mahasiswa menengadahkan kardus bertulisan "Peduli Aceh". Simpang jalan juga diramaikan pengumpul sumbangan dari beberapa SMA, Pramuka, serta organisasi kemasyarakatan.

Aksi kotak amal juga digelar para mahasiswa Jakarta. Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Al-Azhar berhasil mengumpulkan lebih dari Rp 30 juta. Baru sepekan dibuka, posko mereka di lantai dasar Blok M Plaza telah menghimpun dana Rp 17 juta. "Bantuan kami salurkan melalui dompet duafa harian Republika," kata Chairil Amin, presiden Badan Eksekutif Mahasiswa universitas itu, kepada Indra Darmawan dari Tempo.

Mengumpulkan uang sebesar itu tentu tak mudah. Selain berdiri di pinggir jalan, mereka keluar-masuk bus kota. Bahkan, di malam tahun baru, mereka rela "lembur" di jalanan hingga pukul empat dini hari. "Kami sering lupa makan," kata Rizki Hidayat, mahasiswa semester tiga Jurusan Dakwah Fakultas Agama Islam Universitas Al-Azhar Indonesia.

Untung, para pengamen dan pedagang asongan tak pernah mendahului mereka menarik uang para pengguna jalan raya dan angkutan umum. "Mereka selalu memberi kami kesempatan lebih dulu. Mereka sangat pengertian," kata kemenakan K.H. Abdullah Gymnastiar itu. Bahkan tak jarang para pengamen dan pedagang asongan justru ikut mencemplungkan seperak dua perak hasil keringat mereka ke kotak sumbangan.

Para mahasiswa Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka, Jakarta, selain mengedarkan kotak sumbangan di jalanan sekitar kampus, juga masuk sampai ke sudut-sudut Pasar Kebayoran Lama. Di sana mereka bertemu dengan para pedagang kecil seperti tukang sayur, tukang daging, tukang ikan, atau Ruska, kakek penarik gerobak pasar asal Kuningan, Jawa Barat. "Kadang saya ngasih tiga ribu, kadang dua ribu, abis lagi sepi," kata Ruska. Tentang bencana yang menimpa Aceh, "Aduh, kalau ngeliat di tipi, jadi ingat badan sendiri, ingat dosa," katanya.

Monadi, 34 tahun, tukang ojek sepeda di Stasiun Kota, Jakarta, kini tak lupa menyisihkan Rp 1.000 setiap hari kepada mahasiswa yang menyodorkan kotak sumbangan di masjid dekat rumah kontrakannya di Mangga Besar. "Cuma seribu, namanya juga tukang ojek," kata pria asal Pekalongan, Jawa tengah itu. Padahal, tiap hari Monadi hanya berpenghasilan sekitar Rp 10 ribu, sementara pengojek sepeda saingannya semakin banyak.

Selain menyumbangkan uang, tak kurang warga yang menyumbangkan tenaga dan berangkat ke Aceh sebagai relawan. Begitu mendengar kabar musibah itu, Eko Wahyudi, pelajar kelas 3 SMA 2 Kristen Malang, Jawa Timur, mengaku sangat sedih. Ia ingin ikut meringankan beban korban. Tapi apa daya, ayahnya hanya pengumpul barang rombeng. Untunglah dia aktif di Pramuka. Eko dan empat rekannya terpilih menjadi regu Pramuka yang diberangkatkan ke Aceh.

Tes kesehatan dan mental dijalaninya hingga dinyatakan lulus. Maklumlah, sudah dua kali ia terlibat dalam proses evakuasi jenazah korban bencana alam di Jawa Timur. Maka, pada 2 Januari lalu, dengan bekal uang saku Rp 750 ribu dari Kwarnas Pramuka, Eko meninggalkan Jakarta naik pesawat Hercules menuju Banda Aceh. Itulah pertama kalinya ia naik kapal terbang.

Tapi ternyata dua pengalamannya mengevakuasi jenazah tak sebanding dengan di Aceh. "Mayat di mana-mana," katanya. Setiap hari ia bersama timnya mengevakuasi 150 mayat. Meski sangat kelelahan, ia mengaku puas karena telah menyumbangkan tenaga untuk saudara-saudaranya. "Ini pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan sepanjang hidup saya," ujarnya.

Hanibal W.Y. Wijayanta, Bernarda Rurit, Sohirin, Irmawati


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data