Jiwa-jiwa yang Remuk Sehabis bencana banyak warga Aceh yang linglung dan mengalami depresi. Diperlukan ahli kejiwaan buat menolong mereka. |
ANEUK lon ho?? Aneuk lon ho??" Perempuan 35 tahun itu meluncurkan kata-kata dalam bahasa Aceh berulang kali: di mana anak saya? Dia mengucapkan kalimat itu dengan suara lirih, setengah berbisik, sambil berjalan lurus. Tatapan matanya kosong. Perempuan ini tak peduli dengan apa yang terjadi di sekelilingnya. Ketika ada orang yang menanyakan siapa namanya, ia tak sudi menjawab.
Keadaan wanita itu awutan-awutan. Kulit dan pakaiannya berlumur lumpur kering, rambutnya tergerai sampai ke bahu bercampur tanah, dan ada goresan luka yang telah mengering di wajah. Tanpa alas kaki, ia selalu berjalan dengan tongkat sebatang kayu kering.
Tempo bertemu dengannya di kawasan Jeunib, Kabupaten Jeumpa, Nanggroe Aceh Darussalam, pada Sabtu pagi, dua pekan lalu. Malam harinya, Tempo kembali berjumpa dengan perempuan ini di Bireuen, ibu kota Kabupaten Jeumpa, yang berjarak sekitar 40 kilometer dari lokasi pertama. Dengan wajah yang letih, ia masih terus bergumam menanyakan kabar anaknya yang entah di mana.
Warga Bireuen tak mengenali wanita itu. Mereka belum pernah melihatnya sebelum bencana gempa dan tsunami meluluhlantakkan Aceh akhir tahun lalu. "Mungkin dia hilang ingatan karena anaknya hilang," kata Roni Murdani, seorang warga Bireuen. Dia juga sering melihat perempuan yang bertingkah aneh seperti itu di daerahnya.
Tak hanya perempuan, Tempo juga menjumpai seorang lelaki yang ganjil di Banda Aceh. Berusia sekitar 40 tahun, ia kelihatan linglung. Ke mana-mana lelaki ini berjalan sambil menyeret sebuah koper yang tak jelas lagi warnanya karena telah bersepuh lumpur. Ia selalu berjalan ke arah tumpukan mayat lantas dan membolak-balik mayat-mayat itu. Setiap kali bertemu dengan mayat anak kecil, ia membungkusnya dengan kain, mendekapnya, dan membawa mayat itu berkeliling. Tak lama kemudian, ia meletakkan kembali mayat itu dengan sikap kasih sayang. Menurut warga sekitarnya, lelaki ini juga kehilangan anaknya ketika tsunami datang menghancurkan provinsi ini.
Dahsyatnya gelombang tsunami telah meremukkan jiwa manusia. Ada yang masih sanggup bertahan dan tabah saat kehilangan anggota keluarganya. Namun, tak sedikit yang amat terpukul, lantas menjadi linglung akibat stres parah, apalagi mereka yang kehilangan anak, suami atau istri, orang tua dan harta benda sekaligus.
Orang-orang yang terguncang jiwanya juga kerap ditemui oleh tim Medical Rescue Emergency (Mer-C) yang bertugas di Banda Aceh. Malah Dr. Zakiyah, seorang relawan dari tim ini, sempat merawat beberapa orang. Mereka menunjukkan gejala serupa: tatapan mata kosong dan tak peduli dengan sekelilingnya. Zakiyah juga mengaku pernah bertemu dengan seorang lelaki tua yang duduk di pinggir jembatan di Banda Aceh dengan tatapan mata menerawang. Ketika didekati dan diajak bicara, lelaki itu tak mau menjawab. Ia memang menoleh ke arah Zakiyah sambil membuka mulutnya, tapi tak ada suara yang keluar.
Kadar depresi yang diderita para korban tsunami yang selamat berbeda-beda. Dari yang sangat parah sampai yang sekadar mengidap kecemasan. Orang-orang yang selalu cemas dan takut jumlahnya jauh lebih banyak. Ini bisa dilihat di berbagai lokasi penampungan korban di Aceh. Setiap terjadi gempa susulan, walau kecil getarannya, mereka segera lari tunggang-langgang mencari tempat perlindungan.
Entah iseng atau ada maksud tertentu, terkadang ada orang yang berteriak-teriak mengabarkan ada air datang. Warga yang berada di tempat penampungan segera berlarian menuju ke daerah yang lebih tinggi. Bahkan banyak warga Meulaboh, ibu kota Kabupaten Aceh Barat, yang tak berani melihat ke arah laut. Sejak bencana datang, laut, yang semula laksana teman akrab bagi warga Meulaboh, berubah menjadi monster yang menakutkan. Karena itulah, sekarang warga Meulaboh lebih suka tinggal di tempat-tempat yang jauh dari garis pantai.
Menurut Nelden Djakababa, psikolog dari Yayasan Pulih, untuk menyembuhkan depresi yang dialami para korban tsunami diperlukan peran ahli kejiwaan. "Psikolog dan psikiater bisa membantu memulihkan tekanan kejiwaan yang dialami warga Aceh," kata Nelden. Kegiatan semacam ini pernah dilakukan oleh Yayasan Pulih saat membantu korban bom di Hotel JW Marriott dan bom Kuningan di Jakarta.
Ledakan bom yang memakan korban belasan jiwa saja bisa membuat orang depresi. Bisa dibayangkan bagaimana bencana tsunami yang begitu dahsyat di Aceh memukul jiwa manusia. Karena itulah banyak warga Aceh yang berlaku seperti orang hilang ingatan. Mereka baru saja mengalami peristiwa yang paling berat dalam hidup mereka. "Ini adalah ekspresi ekstrem dari apa yang mereka rasakan," kata Nelden.
Itulah yang mungkin dialami oleh perempuan bertongkat yang dijumpai Tempo di Kabupaten Jeumpa. Juga, seorang lelaki di Banda Aceh yang selalu mengambil dan mendekap mayat anak-anak.
Di pos pengungsian Desa Nusa Dua, Lhok Nga, Aceh Besar, ada pula seorang lelaki yang bertingkah aneh. Dia selalu ikut berebut baju-baju sumbangan dari para dermawan. Bukan mencari baju yang cocok buat dirinya, lelaki berusia sekitar 40 tahun ini malah sibuk memilih baju untuk anak perempuan. "Ini buat anak saya," katanya setiap mendapatkan baju anak-anak yang bagus. Ada 10 baju yang telah dipilihnya. Warga Lhok Nga cuma bisa menatap sedih tindakan lelaki tersebut. Mereka tahu, baju itu tak akan pernah terpakai. Soalnya, semua anggota keluarga lelaki itu, termasuk anak perempuannya, telah hilang tersaput ge-lombang.
Buat menolong orang-orang semacam itu, peran ahli kejiwaan memang amat diperlukan. Berbagai upaya terapi bisa dilakukan. Menurut Nelden, salah satunya dengan cara mempertemukan mereka dengan keluarga yang masih tersisa. "Dengan begitu, mereka bisa saling bercerita atau mengungkapkan kesedihan masing-masing."
Psikolog dan psikiater juga bisa membantu dengan cara mendengarkan keluhan warga yang mengalami depresi. Para korban dibiarkan bercerita apa yang mereka rasakan dan alami. "Tapi tak boleh dibiarkan mereka bercerita berulang-ulang, sebab akan membangkitkan kenangan buruk mereka," ujar Nelden.
Langkah awal telah dilakukan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Menurut dekan fakultas ini, Noor Rochman Hadjam, pihaknya telah mengirimkan dua psikolog ke Aceh. Mereka berusaha membantu meringankan depresi yang dialami para korban. Caranya antara lain dengan membagikan buku-buku kecil berbahasa Aceh yang berisi tips menanggulangi stres dan lagu-lagu rakyat Aceh. "Lagu-lagu itu penting sebagai salah satu terapi mengatasi stres," kata Noor.
Upaya terapi memang mesti segera dilakukan. Dengan mendengar nyanyian-nyanyian yang akrab di telinga si korban, mungkin lama-lama ia tak perlu lagi secara berulang kali menggumamkan: "Aneuk lon ho?"
Rian Suryalibrata, Nurlis E. Meuko (Banda Aceh), Mardiyah Chamim (Banda Aceh), Sunariyah (Meulaboh)
|