Sebilah Duka dalam Kata-kata |
Aceh telah poranda diguncang gempa dihumbalang tsunami. Beberapa penyair muda Serambi Mekah mencoba melukiskannya lewat kata-kata. Sebagian menuliskan langsung dari tempat kejadian, sebagian lainnya menorehkan dari sebuah pojok nun di negeri orang. Sebagai catatan, ada di antara sanak saudara dari para penyair muda ini yang menjadi korban—tewas atau hilang tak berbekas.
IBUKU BERSAYAP MERAH
Azhari
Ibu, Abah dan Dik Nong
setelah bala aku pulang ingin melihat
kalian dan kampung
kukira 26 Desember cuma mimpi buruk
tapi tak kutemukan kalian di sana,
juga Arif kecil yang cerewet
seperti kalian, kampung kita ternyata sudah tiada
berubah menjadi laut yang raya
lihat Ibu ada bangau putih
berdiri dengan sebelah kaki di bekas kamarmu
bangau itu tak bersayap merah
seperti dulu pernah kauceritakan padaku
karena aku tahu bangau itu telah memberikan sayap merahnya buatmu
agar kaupeluk Abah dan Dik Nong ke dalamnya
AZHARI, lahir di Lam Jamee, 5 Oktober 1981. Ia kuliah di Jurusan Bahasa dan Sastra Fakultas Ilmu Pendidikan Indonesia Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Karya cerpen pertamanya, Karnaval, dimuat di harian Serambi Indonesia pada 1999. Tahun lalu, ia menerbitkan buku kumpulan cerpen berjudul Perempuan Pala. Saat ini, Azhari aktif di Komunitas Tikar Pandan, kelompok kesenian yang bergerak di bidang kebudayaan di Banda Aceh.
PROLOG BULAN
Wina SW1
teman,
negeri penuh cinta dan doa
tempat impian setiap penyair
dan singgahan para pengembara
yang sering kuceritakan padamu
kini jadi kuburan panjang tak bernama
peristirahatan terakhir, mereka yang tercinta
orang-orang penuh kehangatan
yang selalu menawarkan persaudaraan dan hatinya
pada siapa saja
yang selalu kubanggakan padamu
kini entah di mana
pergi menuju keabadian panjang
lautku yang indah
yang kerap menghibur sepiku
melantunkan zikir dan bersyair bersama angin
melarutkan semua dalam amarahnya
merenggut hari dan hidup negeriku
sebelum sempat kaujejakkan kaki ke tanahku
sebelum sempat kausambut salam hangat mereka
sebelum sempat kaurasakan keindahan itu
sebelum sempat kaudengarkan alunan ayat-ayat tuhan
yang ditadaruskan bocah-bocah
dari balee-balee
negeriku, kini
rumah tanpa beranda dan penghuni
Kyoto, akhir 2004
KALAU KAU MAU MEMAAFKANKU…
Wina SW1
maaf,
karena tak sempat kita selesaikan percakapan
tentang esok
dan rencana-rencana buat anak-anak kita
dan masa depan tanah ini
: engkau telah cukupkan harimu sebelum esok tiba
maaf,
karena tak ada selimut putih buat tidur panjangmu
atau keranda bertabur melati
dan shalat terakhir di meunasah
: engkau telah baringkan diri dalam diam,
entah di mana
maaf,
karena tak sempat kuhentikan lautku
saat ia masuk tanpa salam pagi itu
menghanyutkan mimpi-mimpi kita
memporak-porandakan rumah kita
menghempasmu, mereka
dan anak-anak kita
ke dunia yang berbeda
maaf,
karena belum sempat kujeguk nisanmu
dan kurapikan tanah kita
karena belum bisa kuselesaikan
peraduan putih untuk mereka yang pergi bersamamu
karena aku tak bersamamu
ketika tuhan memintamu kembali ke rumahNya
hari itu
maafkanlah aku,
karena aku takkan pernah marah pada tuhan
yang telah mengirimkan mimpi buruk ini
dan membuat batas panjang dalam sedetik
jarak tipis tak tertembus
aku percaya, ini adalah tanda cintaNya
buat kita
cinta abadi berbalut rahasia yang tak pernah
mampu tercerna
kalau kau mau memaafkanku…
aku bisa tetap tegar, menata yang terhempas
dan mengirimkan berbait-bait doa buatmu
dan mereka
selamat jalan, saudaraku, kekasihku, sahabatku
hidupmu abadi dalam doa dan ingatanku
: selalu
Kyoto, awal Januari 2005
WINA SW1 suka menulis dan membaca puisi, berteater, memotret dan bertualang. Puisi dan cerpennya pernah dimuat di beberapa media cetak. Puisinya juga terkumpul dalam sejumlah buku antologi bersama, antara lain Seulawah (Antologi Sastra Aceh, 1995), dan Dalam Beku Waktu (antologi puisi dan lukisan, 2002). Mantan wartawati majalah Tiara, Jakarta, itu adalah staf pengajar di Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Saat ini ia sedang studi program doktor di Universitas Kyoto, Jepang.
NYERI ACEH
Fikar W. Eda
Tanah Aceh, nyeri kami
nyeri daging dan tulang kami
nyeri darah dan tangis kami
nyeri gigil,
nyeri perih
nyeri kami
inilah nyeri kami
nyeri laut menggulung pantai
lumatlah rumah,
remuklah pohon
dan tubuh kami, tubuh kami
bercecer di himpitan pohon itu
hanyut bersama papan berlumut
mengapung di jembatan roboh
nyelinap di selokan
terdampar di trotoar basah
tersangkut pada ranting-ranting beku
Tanah Serambi Mekkah, nyeri kami
nyeri daging dan tulang kami
nyeri darah dan tangis kami
nyeri gigil
nyeri perih
nyeri kami
inilah nyeri kami
bocah-bocah polos
berlari di pasir
di belakangnya ibu dan bapak
menangkapi ikan-ikan terdampar
ketika laut surut
tapi tiba-tiba
gemuruh menerbangkan pasir
langit gelap
ombak membentuk lipatan
menerjang dari arah belakang
tubuh rapuh tersentak ke depan
membentur beton-beton
terdorong ribuan meter
bocah-bocah itu
bagai kapas terlilit gulungan laut
terdampar di tanah datar
menghapus jejak-jejak di pasir
lenyaplah tawa
raiblah canda
Nestapa Aceh dalam nyeri dan perih kami
jangan kalian cari lagi Meulaboh
jangan kalian tanya di mana Banda Aceh
di mana Calang, Teunom, Lamno, Lhokseumawe,
Bireuen, atau Sigli
peta-peta telah koyak
terlipat dalam gulungan laut
Ya Allah
rebahkanlah mereka
bocah-bocah itu,
orang-orang tua itu
laki-laki dan perempuan itu
di atas permadani-Mu yang harum
tempatkanlah mereka pada
sisi-Mu yang maha mulia
dan kepada kami, ya Allah
berilah kekuatan
menanggungkan perih ini
menjadikannya cermin
tempat kami memungut hikmah.
2004
FIKAR W. EDA lahir di Aceh 1966. Karyanya terhimpun di sejumlah buku kumpulan puisi: Antologi Puisi Indonesia '87 (Dewan Kesenian Jakarta, 1987), Antologi Sastra Aceh Seulawah (Yayasan Nusantara-Pemda Aceh 1996), Antologi Puisi Indonesia Jilid 1 (Komunitas Sastra Indonesia, 1997). Kumpulan puisinya, Rencong, diluncurkan di Universitas Indonesia, 17 Oktober 2003. Saat ini bekerja sebagai wartawan Serambi Indonesia biro Jakarta.
RENUNGAN GEMPA TSUNAMI
din saja
Mari kita renungkan tragedi tsunami ini, adakah kesalahan ada pada diri kita
atau Tuhan telah berbuat sekehendaknya
Mari kita simak semua benda dan tubuh tak bernyawa
tergeletak pada tempat yang sama
Mari kita saksikan betapa kemanusiaan kita telah ditegur
dengan keras, yang pertama mendapat petaka si miskin tak berdaya
Tuhan, aku telah salah menafsir hidup, bahwa hubungan kemanusiaan
lebih utama ketimbang semata memuja Engkau
Tuhan, aku bersumpah tak akan lagi mencari muka pada Engkau
sambil melupakan si miskin yang tak berdaya
Banda Aceh, 4 Januari 2005
din saja, namanya ditulis dengan huruf kecil semua, bernama asli Fachruddin Basyar. Penyair dan esais kelahiran Banda Aceh 31 Januari 1959 itu mempublikasikan karya-karyanya di media cetak Banda Aceh, Padang, dan Jakarta. Ia telah menerbitkan buku puisi tunggalnya, Sirath. Banyak puisinya dibukukan dalam sejumlah antologi bersama, antara lain Nafas Tanah Rencong (1993) dan Seulawah (Antologi Sastra Aceh, 1995). din saja juga aktif di organisasi Lempa (Lembaga Penulis Aceh), Pendiri/Ketua Lembaga Seni Aceh, Pendiri Forum Sastra se-Sumatera Aceh.
|