Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 46/XXXIII/10 - 16 Januari 2005
   
Indonesiana

Indonesiana

Kisah Slamet Raharjo dari Sleman

Dalam tradisi orang Jawa, anggota keluarga yang telah meninggal selalu dikirimi doa lewat acara selamatan. Begitu pula yang dilakukan oleh sebu-ah keluarga di Desa Margoagung, Ke-camatan Seyegan, Sleman, Yogyakarta, beberapa pekan silam. Hanya, acara ini gagal karena tiba-tiba muncul "hantu" berwujud seorang lelaki kurus berusia 30 tahun. Para tamu pun segera kalang-kabut karena ketakutan.

Selamatan itu buat mendoakan Muji Raharjo yang telah dinyatakan meninggal. Suatu hari, seorang petugas kantor desa datang menemui Sarinem, istri Mu-ji, membawa berita duka. Dikabarkan, Muji tewas akibat kecelakaan lalu lin-tas di Arjowinangun, Cirebon, Jawa Barat. Tanpa banyak tanya, hari itu ju-ga Sarinem langsung berangkat ke Rumah Sakit Arjowinangun untuk melihat jenazah suaminya. Karena kondisi mayat hancur, sang istri hanya diperbolehkan melihat kaki sang mayat. "Sepertinya memang kaki Mas Muji," kata Sarinem.

Ibu satu anak ini semakin yakin bah-wa jasad kaku itu suaminya, karena petugas rumah sakit juga menyerahkan KTP atas nama Muji. Sarinem langsung membawa pulang mayat suaminya, dan pada 17 Desember sore, jenazah Muji langsung dimakamkan.

Nah, selang tiga hari, saat keluarga besar Muji sedang melakukan acara selamatan atas kematiannya, tiba-tiba Muji Raharjo muncul. Terang saja, orang-orang ketakutan karena menganggap-nya hantu. Muji sendiri terbengong-bengong tak tahu apa yang sedang terjadi. Ia pun kaget karena dianggap telah meninggal dunia.

Rahasia baru terkuak setelah Muji bercerita bahwa ia kehilangan pakaian serta dompet berisi uang dan KTP, dalam kereta yang ditumpanginya menuju Jakarta. KTP itulah yang kini berada di tangan keluarga Muji Raharjo bersama sesosok mayat lelaki yang sudah dikuburkan.

Siapa sebenarnya jenazah lelaki yang sudah dikubur itu? Tak ada yang tahu. Meski begitu, Muji dan Sarinem tetap akan mengadakan doa selamatan hing-ga 40 hari untuk jenazah lelaki yang ti-dak dikenal itu.

Muji sendiri langsung mengganti namanya. Alasannya, nama itu membawa sial. Apalagi nama yang lama sudah ditulis di papan nisan seorang lelaki tak dikenal. Sekarang, Muji menyandang nama baru: Slamet Raharjo. "Agar selamat terus," katanya.

Satu Pohon buat Menikah

Achmad Husaini, 30 tahun, seorang warga Desa Banyuputih, Lumajang, Jawa Timur, kelimpungan. Sudah lama ia ingin menikah. Calon istri sudah ada, mas kawin dan biayanya pun telah disiapkan. Tapi masih ada satu syarat lagi yang harus dipenuhi, yakni sebatang bibit pohon. "Kini saya harus menyiapkan dana tambahan untuk membeli pohon," katanya.

Permintaan khusus sang calon istri? Sama sekali bukan. Syarat unik itu dibuat oleh Bupati Lumajang, Achmad Fauzi, pada Desember lalu. Siapa saja yang hendak menikah diwajibkan me-nanam pohon di desanya masing-masing. "Tujuannya, agar para warga sadar, pentingnya menanam pohon untuk mencegah bencana alam," kata Fauzi.

Fauzi agaknya gemas dengan daerahnya yang sering sekali mengalami bencana. Dalam beberapa tahun terakhir ini, setiap musim hujan tiba, Lumajang memang menjadi langganan bencana tanah longsor, banjir, dan angin puyuh. "Bencana itu terjadi karena banyaknya hutan yang gundul dan tanah kosong," katanya.

Maka dibuatlah aturan terobosan. Setiap pasangan yang hendak menikah diwajibkan menyerahkan satu bibit pohon pada saat ijab kabul. Pasangan yang baru memiliki bayi juga diwajibkan menyerahkan satu bibit pohon. "Pohon itu diserahkan ketika orang tua si bayi hendak meminta akta kelahiran kepada petugas pencatat akta," kata Fauzi.

Bagi pasangan yang hendak bercerai, syaratnya lebih berat. Mereka mesti menyerahkan sepuluh bibit pohon ketika sidang di pengadilan agama.

Kendati agak berkeberatan dengan aturan itu, Achmad Husaini yang sudah ngebet menikah tak kuasa menolaknya. Apalagi saat datang ke Pengadilan Agama Lumajang beberapa waktu lalu, pe-tugas di sana meminta agar aturan itu ditaati. Daripada tidak bisa menikah, akhirnya Husaini memutuskan untuk menyisihkan sebagian duitnya buat membeli sebatang bibit pohon.

Rian Suryalibrata, Heru C. Nugroho (Yogyakarta), Mahbub Djunaidy (Lumajang)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data