Juru Ramal Gelombang Maut Perlu US$ 13-30 juta untuk memasang pendeteksi tsunami di Samudra Hindia. Tapi ada cara tradisional yang sangat murah. |
Alarm petaka itu datang Minggu pagi. Saat itu Charlie sedang menikmati siraman mentari di Pantai Feringgi, Penang, Malaysia. Angin dan matahari sedang bagus. Jarum jam masih ada di angka 10.15 waktu setempat. Tiba-tiba telepon genggam instruktur olahraga air di pantai itu menjerit-jerit. Dari ujung telepon, dia mendengar sahabatnya di resor Langkawi panik: Ada ombak besar bergemuruh menelan Pantai Cenang.
Charlie terkesiap. Tak sadar matanya melihat ke pantai. Garis putih terlihat di ujung horizon. Makin lama garis itu makin kentara. Ia juga melihat sekitar seratus turis berenang dan berjemur. "Ya Tuhan...," desahnya panik. Sekuat tenaga dia berteriak, memperingatkan para turis. Apa daya, teriakannya tenggelam tertelan suara ombak. Andai saja?ya, andai saja ada alarm yang bisa dipicu untuk mengingatkan para turis malang itu.
Pada saat yang hampir bersamaan, Danny Haniwijaya baru tiba di kantor. Ya, dia memang biasa ke kantor hari Minggu. "Saatnya membereskan kantor," kata doktor ahli gempa yang baru sehari datang dari Amerika Serikat untuk mengikuti konferensi terbesar tentang gempa itu.
Tapi Minggu yang lengang di kantor Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Jalan Sangkuriang, Bandung, itu cuma sebentar. Kawannya tergopoh membawa kabar gawat: "Ada gempa di Aceh, ribuan meninggal."
Danny terlompat dari kursinya. Gempa? Baru dua bulan lalu dia mengunjungi Sumatera Barat, membagi-bagikan brosur tentang ancaman gempa dan tsunami yang diramalkan bakal datang 20-50 tahun lagi. Ia masih ingat wajah-wajah penduduk yang tak percaya gempa bakal tiba. Sepekan sebelum musibah, dia berceramah di depan ribuan ahli gempa sedunia di AS tentang gempa yang bakal tiba itu. Kini petaka datang lebih cepat dari yang dia duga. Danny lemas. "Andai penelitian patahan Sumatera itu telah rampung, tentu tak akan seperti ini," katanya sedih.
Sejak 1993 Danny memang jadi "polisi" gempa di sepanjang pesisir Sumatera. Dia bersama Profesor Kerry Sieh dari Tectonic Observatory California Institute of Technology (Caltech), Amerika, memasang 14 alat pemantau gempa di beberapa pulau terpencil di daerah itu.
Peranti pengawas gempa ini memanfaatkan teknologi global positioning system (GPS). Dengan GPS, pergerakan lempeng bumi bisa terekam akurat. Rekaman GPS itu mencatat bahwa pulau-pulau di sebelah Sumatera seperti Siberut, Mentawai, Nias bergeser 4-7 sentimeter per tahun. Data pergeseran dikirimkan ke satelit Garuda-1 milik PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN). Selanjutnya satelit mengirimkan data ke komputer pusat di Batam.
Petaka 26 Desember lalu membuat Danny, Kerry, dan PSN berencana memasang 150 pemantau gempa di 15 sepanjang pantai barat Sumatera. Masalahnya, mereka terbentur dana. "Butuh US$ 13 juta untuk 150 peranti dan pemeliharaan selama 10 tahun," kata Adi Rahman Adiwoso, bos PSN.
Mahal? Memang. Tapi itu tak seberapa dibanding pemantau tsunami milik Pacific Tsunami Warning Center di Honolulu. Pelindung dari tsunami untuk 26 negara di pesisir Samudra Pasifik ini harganya berkisar US$ 20 juta. "Kita tak mampu membeli," kata Dr. Fauzi, Kepala Bidang Seismologi Tektonik dan Tsunami Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG).
Pemantau tsunami di Pasifik terdiri dari tiga peralatan yang bisa mengirimkan data tiap menit: data gerakan seismik, perubahan ketinggian air laut, dan tekanan di laut dalam. Alat inilah yang diusulkan dalam Tsunami Summit di Jakarta pekan lalu. Peneliti senior Geoscience Australia, Phil McFadden, mengusulkan untuk Samudra Hindia dipasang pemantau yang terdiri atas 30 seismograf pendeteksi gempa, 10 pengukur ketinggian laut (tidal gauge) dan enam sensor tekanan bawah laut (lihat infografis).
Dengan tiga alat tadi, tsunami bisa diramalkan. Ketika muncul gempa di dasar laut, misalnya, sensor laut dalam segera mengirim sinyal ke pelampung di permukaan laut. Pelampung ini kemudian meneruskan ke satelit.
Perubahan ketinggian air laut akibat gempa juga bisa dijadikan alat monitor. Perubahan ketinggian sebesar satu sentimeter saja akan tercatat dan dilaporkan. Komputer kemudian menyempritkan tanda bahaya.
Cara terakhir adalah memakai pencatat gempa, seismograf. Rekaman seismograf ini bisa disimulasikan di komputer untuk mendeteksi kehadiran monster laut itu. Menurut Hamzah Latief, doktor ahli tsunami dari Institut Teknologi Bandung, tsunami muncul jika gempa mencapai skala 8,2 atau 9 magnitudo.
Buat Indonesia, efektivitas peranti tsunami ini memang masih jadi perdebatan. Dengan pusat gempa yang begitu dekat?kurang dari 200 kilometer?tsunami berkecepatan 480-960 kilometer per jam akan menyambar pantai hanya dalam 15-30 menit. Jelas tak cukup waktu untuk menghindar. Ini berbeda dengan India dan Thailand, yang bakal menerima tsunami 1-2 jam sesudah gempa.
Tapi tanpa alat mahal pun tsunami sebetulnya bisa dihindari. Biasanya, tsunami diikuti suara gemuruh. Selain itu, ombak maut itu biasanya diawali surutnya air laut. Di Aceh, sebelum gelombang dahsyat, air surut sampai 500 meter dari pantai. Bila tanda-tanda itu muncul, tutur Fauzi, penduduk punya waktu 15-30 menit lari ke tempat yang tingginya lebih dari 30 meter. Masalahnya, "Penduduk tak terlatih menghadapi tsunami. Pemerintah juga tak punya perangkat untuk memberikan peringatan," ujar Fauzi.
Sungguh beda dengan di Jepang, yang saban tahun ada latihan menghadapi tsunami.
Burhan Sholihin, Ahmad Fikri (Bandung), Imron M.A. (Lhok Seumawe), Time, Asian Wall Street Journal
Polisi Pengawas Tsunami
Sebanyak 26 negara di bibir Samudra Pasifik menggantungkan nyawanya pada sistem peringatan dini tsunami, Pacific Tsunami Warning Center. Beginilah sistem ini bekerja.
Satelit GOES
Mengorbit di geostasioner (berputar bersama bumi) dan mengirimkan peringatan ke stasiun terdekat.
Perekam tekanan bawah laut
Alat ini mengukur tekanan air di atasnya dan ketinggian permukaan laut. Perbedaan satu senti saja akan dilaporkan.
Alat ini akan mengirimkan data dengan gelombang akustik ke pelampung.
Pelampung
Data dari sensor bawah laut diteruskan ke satelit GOES (geostationary operational environmental satellite).
Tinggi: 2,5 m
Diameter: 2,5 m
Bobot: 4,2 ton
Sensor lainnya adalah ekstensometer pengukur perubahan jarak horizontal antara dua titik di dasar laut. Ini dapat digunakan untuk mencium aktivitas gempa di zona patahan.
|