|
Beras ?Sisa? Diekspor
Setelah berhasil mencapai swasembada beras pada tahun lalu, Indonesia akan mengekspor beras tahun ini. Perum Bulog, yang ditugasi mengurus stok beras di dalam negeri, telah menandatangani kontrak penjualan beras ke luar negeri dengan sejumlah pedagang. ?Kami sudah menandatangani kontrak,? ujar Direktur Utama Perum Bulog Widjanarko Puspoyo pekan kemarin. Rencana ekspor beras itu akan direalisasi dalam dua bulan ini sebanyak 50 ribu ton.
Beras yang akan dijual ke luar negeri merupakan persediaan yang telah menumpuk di gudang Bulog lebih dari setahun. Agar tetap laku, beras yang sudah ?tua? itu, mau tak mau, harus dijual di bawah harga normal. ?Kami khawatir kalau dijual di dalam negeri akan merusak harga,? kata Widjanarko. Bulog menyerahkan penjualan beras itu sepenuhnya kepada para pedagang. Sejauh ini, negara tujuan penjualan beras masih belum diketahui.
Tahun ini, Bulog memperkirakan pasar beras akan berbeda dengan tahun lalu. Widjanarko menyebut panen padi bakal dihantui kegagalan panen karena cuaca kering. ?Pemerintah harus mengantisipasi,? ujar Widjanarko. Sekadar perbandingan, tiga negara produsen beras di Asia Tenggara, yaitu Vietnam, Thailand dan Laos, telah meminta petaninya menanam jenis padi yang tak membutuhkan banyak air pada tahun ini.
Investor Baru Kiani
Akhirnya, terkuak juga siapa di balik nama cantik Novela dalam rencana penyelesaian utang Kiani Kertas. Hashim Djojohadikusumo ternyata ada di belakang Novela. Hashim tak lain dari adik Prabowo Subianto, pemilik Kiani. Komisaris Utama Kiani Luhut Panjaitan mengatakan, lewat Novela Hashim telah menyetorkan dana US$ 50 juta (sekitar Rp 465 miliar) terkait restrukturisasi utang dengan Bank Mandiri.
Luhut mengatakan, dengan penyetoran dana itu, penandatanganan restrukturisasi dengan Bank Mandiri bisa terlaksana pada 27 Desember 2004. Dalam perjanjian itu juga disepakati Kiani akan melunasi pembayaran utang sekitar US$ 201 juta (sekitar Rp 1,7 triliun) dalam tiga tahun sejak ditandatanganinya perjanjian. Namun, kata Luhut, ?Butuh perpanjangan masa pembayaran. Kalau tidak, Kiani dipastikan mengalami gagal bayar.?
Bank Mandiri agaknya akan menyetujui permintaan Kiani. Direktur Utama Mandiri E.C.W. Neloe mengatakan, pihaknya tengah mengupayakan perpanjangan masa jatuh tempo pelunasan utang Kiani kepada Bank Indonesia. Bank Mandiri mengusulkan perpanjangan waktu 7-8 tahun sejak ditandatanganinya perjanjian. ?Tapi belum ada jawaban dari Bank Indonesia,? ujar Neloe. Luhut menduga, BI belum menjawab karena khawatir dinilai terlibat praktek KKN dengan menyetujui perpanjangan masa jatuh tempo.
Indofood Konsolidasi
Indofood Sukses Makmur membeli obligasi konversi PT Bina Makna Indopratama senilai Rp 240 miliar dari Canary Makna. Obligasi tersebut dapat dikonversi menjadi 99,7 persen saham Bina Makna. Bina Makna merupakan pemegang masing-masing 20 persen saham PT Intiboga Sejahtera, PT Sawitra Oil Grains, PT Bitung Menado Oil Industry (Bimoli), dan PT Indomarco Adi Prima.
Pembelian obligasi Bina Makna merupakan bagian dari upaya konglomerasi retail itu merestrukturisasi anak perusahaannya. Indofood sendiri menguasai 80 persen kepemilikan di Intiboga, Sawitra, Bimoli, dan Indomarco. Dengan menguasai obligasi Makna, Indofood berniat untuk menggabungkan kepemilikan di keempat perusahaan tersebut. ?Merger dilakukan untuk meningkatkan efisiensi perusahaan,? ujar Fransiscus Welirang, Presiden Direktur Indofood.
Selain menata ulang anak perusahaan, rencana aksi Indofood lain pada tahun ini adalah menambah area kebun kelapa sawit. ?Saat ini hanya 40 persen kebutuhan CPO Indofood yang bisa dipasok anak perusahaan,? ujar Fransiscus. Untuk itu, Indofood melalui anak perusahaannya, Salim Ivomas Pratama, akan melakukan penyertaan saham secara tak langsung pada dua perusahaan kelapa sawit, yaitu Kebun Ganda Prima dan Citranusa Intisawit.
Konversi RDI
Ini tentu kabar yang melegakan para petinggi di perusahaan pelat merah. Pemerintah tengah menggodok aturan tentang konversi utang rekening dana investasi (RDI) di badan usaha milik negara menjadi penyertaan modal pemerintah. Aturan itu akan dituangkan dalam bentuk peraturan pemerintah.
Permintaan untuk mengkonversi RDI menjadi modal telah lama didengung-dengungkan oleh para petinggi BUMN. RDI yang umumnya diberikan sekitar 10 tahun silam itu ibarat warisan yang menahan laju bisnis perusahaan negara. Situasi itu dirasa semakin berat pada masa kini kala pemerintah kesulitan menginjeksi modal tambahan. ?Mereka seperti terikat,? ujar Menteri Negara BUMN Sugiharto.
Namun, para pengamat dan anggota DPR mengkhawatirkan konversi akan menjadi contoh buruk pengelolaan BUMN. ?Jangan terlalu mudah untuk dikonversi. Nanti semua ikut menunggak,? ujar Iman Sugema, ekonom Indef. Sugiharto sendiri tak menjelaskan persyaratan apa saja yang harus dipenuhi sebelum utang sebuah BUMN dapat dikonversi.
Dalam catatan Departemen Keuangan, saat ini pemerintah memiliki tagihan RDI tak kurang dari Rp 56,64 triliun. Utang itu diserap oleh berbagai BUMN, mulai dari perakit pesawat Dirgantara hingga perusahaan dagang semacam RNI dan Darma Niaga. Dari keseluruhan tunggakan RDI di BUMN, sekitar Rp 8,2 triliun berstatus macet.
BI Perketat Kebijakan Moneter
Bank Indonesia (BI) akan memperketat kebijakan moneter untuk mengantisipasi rencana The Federal, bank sentral Amerika Serikat menaikkan suku bunga 0,25 persen. Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah mengatakan, kebijakan suku bunga The Fed selalu menjadi faktor eksternal yang mempengaruhi pasang-surut situasi moneter Indonesia.
Nilai tukar rupiah di dalam negeri sempat anjlok ketika terbetik kabar bos The Fed Alan Greenspan akan menaikkan suku bunga akhir tahun lalu. Para pelaku pasar bersiap mengalihkan dananya ke dalam dolar AS sehingga BI terpaksa menaikkan suku bunga.
Selain faktor suku bunga The Fed, kata Burhanuddin, kondisi moneter dalam negeri akan terpengaruh oleh kebijakan pemerintah yang akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Kebijakan ini selalu diikuti naiknya harga kebutuhan pokok. Akibatnya, jumlah uang beredar meningkat dan mendorong inflasi.
Tahun ini inflasi diperkirakan akan naik lebih dari 6,04 persen. Setiap 1 persen kenaikan harga BBM akan menaikkan tingkat inflasi 0,02-0,05 persen. ?Agar kebijakan moneter yang ketat itu tak mengganggu, pemerintah harus menjaga kondisi makroekonomi,? kata Burhanuddin.
Petro China Genjot Produksi Minyak
Petro China International akan tingkatkan produksi minyaknya hingga dua kali lipat pada 2005 akibat membaiknya harga minyak dunia. Vice President Administration Petro China, B. Budi Setiadi, mengatakan, produksi minyak Petro China 2004 mencapai 49 ribu barel per hari. Tahun ini, produksinya akan digenjot menjadi 74 ribu barel per hari. Peningkatan produksi dilakukan dengan melakukan pengembangan lima blok minyak Petro China di Papua, Jambi, dan Jawa Timur. Menurut Government and Public Relations Manager Petro China, Maryke P.Y. Pulunggono, Blok Bangko di Jambi diharapkan dapat berproduksi pada tahap awal sekitar 1.300 barel per hari.
Blok ini, kata Maryke, hanya tinggal menunggu persetujuan rencana pengembangannya dari Menteri Pertambangan, Energi, dan Sumber Daya Mineral. Produksi minyak Blok Jabung di Jambi juga akan ditingkatkan menjadi 38.300 barel per hari karena akhir 2004 ada tambahan dari lapangan minyak baru di blok ini, yaitu lapangan Ripah. Dari Blok Tuban, Jawa Timur, produksi akan ditingkatkan mencapai 13.500 barel per hari. Untuk daerah Papua, Blok Basin Selawati digenjot produksinya hingga 9.400 barel per hari dan Island Selawati mencapai 11.700 barel per hari.
Inflasi di Bawah Target
Pemerintah boleh bernapas lega di penghujung tahun lalu. Laju inflasi 2004 hanya 6,4 persen. Angka tersebut jauh di bawah yang dipatok dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP), yaitu 7 persen. Bahkan tingkat inflasi tahun lalu masih lebih rendah dari yang ditetapkan dalam APBN sebelum perubahan sebesar 6,5 persen. ?Angka tersebut masih rendah meskipun lebih dari 6 persen,? kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Choiril Maksum.
Menurut Choiril, inflasi Desember 2004 tercatat 1,04 persen. Ada kecenderungan agak berbeda dengan perilaku inflasi tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, laju inflasi di penutup tahun lebih rendah dibandingkan November. Biang keladinya, kata Choiril, adalah gencarnya pemberitaan soal rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Akibatnya, harga bahan kebutuhan pokok dan lainnya ikut-ikutan naik meski harga BBM sendiri masih belum dinaikkan. ?Inilah yang disebut efek psikologis,? kata dia.
Menurut hitung-hitungan BPS, jika pemerintah menaikkan harga BBM sekitar 25 persen, inflasi diperkirakan naik 0,37 sampai 0,56 persen. Jika harga BBM dinaikkan sampai 65 persen, inflasi akan bertambah 1,11 sampai 1,3 persen. Rencananya, pemerintah akan menaikkan harga BBM pada akhir Januari atau awal Februari. Namun, sampai kini masih belum jelas kapan harga baru BBM bakal diterapkan dan seberapa besar kenaikannya.
|