Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 46/XXXIII/10 - 16 Januari 2005
   
Ekonomi dan Bisnis

Terbang Lebah ke Timur Tengah

Dari hobi menjadi eksportir lebah. Mengembara dari musim bunga ke musim bunga.

MUSIM jagung di Gunung Kidul, Jawa Tengah, dan Herman Hartana bersibuk dengan 5.000 kotak berisi lebah. Ia baru saja memindahkan jutaan serangga penghasil madu itu. Mereka memang tak pernah menetap, selalu mengembara dari satu musim bunga ke musim bunga yang lain. "Yang paling bagus bunga randu," kata Herman, 58 tahun, eksportir lebah asal Yogyakarta. "Protein tepung sarinya sangat tinggi."

Ayah empat anak ini telah menerbangkan jutaan lebah ke Timur Tengah. Dalam setahun, empat sampai enam kali Herman mengirim lebah, mulai September hingga November. Di bulan-bulan itulah ia panen raya. Bunga-bunga bermekaran, lebah bisa beranak-pinak lebih banyak dari biasanya. Tiap kilo lebah dihargai US$ 20, turun dari harga sebelumnya, US$ 30. Ada pemain baru: dari Mesir.

Lebah dikirim menggunakan palet kargo. Setiap palet terdiri dari 360 kotak, masing-masing memuat 20 ribu ekor lebah. Kalau ditimbang, beratnya 1,5 kilogram. Nilai satu palet sekitar US$ 10.500. Herman mulai mengekspor lebah sejak 1992. Kecintaannya terhadap hewan penyengat ini bermula ketika dia menjadi penyalur hasil hutan milik Perhutani. Sedikit demi sedikit, dia menyisihkan duit untuk membeli lebah dari Australia.

Pada 1980, dia baru punya 20 kotak lebah yang waktu itu harganya per kotak sekitar Rp 250 ribu. Kotak dibuatnya dari kayu bekas dan ditutup dengan sambungan kaleng biskuit. Serangga dengan nama latin Apiaries itu dipelihara dan dirawatnya sebagai hobi. Madunya ia konsumsi sendiri. Sampai suatu ketika ia berpikir, pekerjaannya sebagai penyalur hasil hutan sangat bergantung pada orang Perhutani.

"Saya selalu deg-degan setiap ada pergantian pejabat Perhutani," pria kelahiran Yogyakarta itu bercerita. "Soalnya, bisnis saya bergantung pada jatah yang diberikan pimpinan Perhutani." Ketika itulah ia nekat banting setir menjadi peternak lebah. Ia yakin peluangnya besar, dan ternyata usahanya berkembang makin bagus. Madu yang semula diminum sendiri mulai dilemparnya ke pasar. Setiap tahun, lebah yang beranak-pinak itu menghasilkan 200 ton madu.

Dengan brand "Glory", Herman memasarkan madunya di Jakarta, Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya. Ia juga menjual lebahnya kepada peternak dari Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku Utara. Padahal, bicara tentang modal awal, Herman mengaku tak besar-besar amat. "Saya justru mengeluarkan biaya besar semasa mengerjakannya masih sebagai hobi," katanya. Ketika mulai melangkah ke dunia bisnis, ia rajin mengikuti kursus dan ceramah perihal lebah, bahkan sampai ke luar negeri.

Pasarnya makin bersinar ketika pada 1990 Herman bertemu Khalid Merza, warga negara Australia keturunan Arab yang kemudian menjadi konsultannya. Setelah itulah Herman mulai menerbangkan lebah ke Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Yordania. "Saat itu konsentrasi utama saya memang ternak lebah, bukan produksi madunya," katanya. Bisnis ke Timur Tengah membesar karena peluang pasar di negara Arab ini memang tinggi.

Kawasan itu, kata Herman, adalah penghasil madu terbesar di dunia karena ditumbuhi pohon Zizipus spina christy, yang berbunga putih kecil-kecil. Serbuk bunga ini makanan terbaik lebah. Menjalankan bisnisnya, Herman didukung 50 pekerja. Separuhnya bekerja di lapangan mengurus lebah, sisanya mengontrol kandang. Anak sulungnya, Stephanie Tania, membantu memasarkan.

Dari partai besar, Stephanie masuk ke pasar eceran dengan mengemas madu dalam botol kecil. Setiap bulan, kata Stephanie, diproduksi minimal 5.000 botol madu "Glory". Omzet setiap tahun, dari madu saja, mencapai Rp 4 miliar. Belum lagi miliaran rupiah dari ekspor lebah.

Belasan tahun menjalani bisnis ini, bukannya tak pernah Herman merugi. Suatu kali, katanya, jutaan lebahnya tewas di perjalanan. Dia tak tahu pasti sebabnya. "Mungkin karena usia lebah relatif pendek, hanya 63 hari," tutur Herman menduga-duga. "Akibatnya, proses pengiriman harus supercepat, dan suhu di pesawat pengangkut juga harus terus dikontrol karena tubuh lebah cepat panas."

Di Gunung Kidul, jutaan lebah itu asyik mengisap bunga jagung. Mereka akan terus di sana sampai musim panen usai. Setelah itu, Herman akan memindahkan "bala tentara" lebahnya ke Purwodadi, Jawa Tengah, menghampiri saat randu berbunga. Kalau meleset, masih ada Wonogiri, karena di sana jambu mete menjelang berbunga. Juga rambutan.

Leanika Tanjung, L.N. Idayanie (Yogyakarta)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data