Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 46/XXXIII/10 - 16 Januari 2005
   
Ekonomi dan Bisnis

Tak Surut Selepas Kuota

Ekspor tekstil dan produk tekstil tahun ini diprediksi naik. Amerika akan menerapkan safeguard.

SETELAH penghapusan kuota, atau pembatasan impor, oleh sejumlah negara seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa pada akhir 2004, bagaimana nasib industri tekstil dan produk tekstil Indonesia? Tak surut, ternyata. Paling tidak, begitulah menurut Sekretaris Eksekutif Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Ernovian G. Ismy. Selama ini, katanya, kuota menjadi semacam belenggu mendongkrak ekspor.

Sejumlah industri tekstil dan produk tekstil (TPT) memang terpaksa pamit mundur. "Tapi itu hanya sebatas industri yang tidak siap bersaing karena terbuai pasar kuota," kata Ernovian. Dari 2.654 industri TPT menengah atas, sekitar seribuan menikmati manisnya kuota, tapi banyak di antaranya sudah bersiap sebelum menghadapi persaingan tanpa kuota. "Belum bisa diprediksi berapa banyak industri yang akan tutup," ujar Ernovian.

Meski jumlah perusahaan di sektor ini akan menyusut, ekspor TPT tahun ini diprediksi malah naik bila dibandingkan dengan angka 2004, yang sekitar US$ 7,28 miliar. Sebab, produk TPT Indonesia yang diekspor ke negara-negara yang kini melepas kuota adalah dari jenis me-nengah atas. Jenis produk ini tak banyak mendapat saingan dari Cina, yang menguasai pasar impor TPT di Amerika.

Amerika, rencananya, akan menerapkan pula kebijakan pengamanan perdagangan (safeguard) terhadap impor TPT Cina karena berpotensi mengganggu pasar TPT Amerika setelah berakhirnya kuota. "Di situlah peluang kita mendongkrak ekspor TPT ke Amerika," kata Direktur Ekspor Produk Industri Departemen Perdagangan, Mardjoko Siswanto.

Safeguard itu akan diwujudkan dengan mengenakan bea masuk tambahan sehingga harga produk TPT Cina di Amerika jadi lebih mahal dari produk ekspor TPT Indonesia. "Belum tahu kapan ke-bijakan ini akan diberlakukan. Mungkin setelah pelantikan presiden baru Amerika, bulan ini juga," kata Mardjoko. Menurut Ernovian, Amerika akan mengenakan bea masuk tambahan terhadap 14 jenis produk TPT Cina.

Tiga di antaranya, seperti celana bahan katun dan poliester, adalah TPT unggulan Indonesia karena jumlah produksi, kualitas, dan harganya bisa bersaing di pasar Amerika. Harapan mengerek ekspor ta-hun ini makin terbuka karena Uni Eropa juga berencana menerapkan kebi-jakan yang sama. "Tapi kami belum tahu apa saja jenis TPT Cina yang akan dikenai bea masuk tambahan oleh Uni Eropa," kata Ernovian.

Wakil Ketua API Jawa Barat, Ade Sudrajad, juga memprediksi ekspor TPT Jawa Barat ke Amerika tahun ini akan tumbuh lima persen karena safeguard itu tadi. Hanya, menurut Kepala Seksi Ekspor-Impor PT Natatex, Thomas B. Limandiputra, peluang ekspor itu tidak serta-merta bisa diraih. Peluang itu bergantung pada agen atau pedagang perantara.

Bagi Ade, kemampuan menangkap peluang ekspor bergantung pada industri tekstil masing-masing. Pelaku industri harus menjemput pasar, misalnya meng-ikuti pameran TPT di tingkat dunia. Ernovian juga menyatakan peluang bisnis saat ini lebih besar, apalagi industri TPT di Indonesia sudah terintegrasi, mulai dari serat hingga garmen. "Saat ini importir cenderung tidak mau lagi beli TPT secara terpisah karena biayanya lebih mahal," tuturnya.

Hanya, kata Ernovian, kendala industri TPT masih berkutat pada peremajaan mesin. Dana yang dibutuhkan untuk keperluan ini mencapai Rp 45,9 triliun. "Industri jelas butuh pembiayaan perbankan," katanya. Saat ini baru sebagian kecil industri TPT yang mampu menggaet dana untuk peremajaan mesin. Industri pembuat mesin TPT dari beberapa negara, seperti Cina dan Jerman, sebetulnya bersedia memberi kredit ekspor. "Tapi tak ada bank lokal yang berani menjadi penjamin," ujarnya.

Menurut Direktur Utama Bank BNI, Sigit Pramono, sebenarnya sudah ada industri TPT yang diberi kredit, tapi jumlahnya masih sedikit. "Pemberian kredit itu harus dilihat dari sisi komersial," katanya. "Bila industri TPT yang tidak layak diberi kredit, bank jangan dipaksa." Begitu juga permintaan menjadi penjamin kredit ekspor. "Jangankan jadi penjamin, jadi kreditor pun bank mau, asal industrinya layak diberi kredit," tuturnya.

Taufik Kamil, Rinny Srihartini (Bandung)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
27/XXXVII/25 - 31 Agustus 2008

 

Berita lainnya

Elpiji Tidak Akan Naik Selama Puasa - 29 Ags 2008 | 20:48 WIB
Gadai Saham Bakrie Dianggap Wajar - 29 Ags 2008 | 20:33 WIB
Pemerintah Jamin Pasokan Kebutuhan Pokok menjelang Lebaran - 29 Ags 2008 | 20:32 WIB
Massa Gus Dur Demo KPU Jawa Timur - 29 Ags 2008 | 20:28 WIB
BI Siapkan Rp 77 Triliun untuk Lebaran - 29 Ags 2008 | 20:26 WIB
Kejaksaan Bojonegoro Periksa Staf Sekretariat Dewan - 29 Ags 2008 | 20:26 WIB
Puluhan Ribu Ton Gula Petani Tidak Laku - 29 Ags 2008 | 20:24 WIB
Lokalisasi Seks di Malang Tutup, Takut Diancam Banser - 29 Ags 2008 | 20:21 WIB
Lapangan Terbang Jember Dioperasikan Secara Komersil - 29 Ags 2008 | 20:18 WIB
Pindad Rancang Panser Canon - 29 Ags 2008 | 20:14 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data