Menghitung Ancaman Rusia Jepang mulai mencari pemasok gas alam cair selain Indonesia. Harga kelewat mahal. |
INDONESIA tak lagi raja gas di Jepang. Posisinya sebagai pemasok gas alam cair (liquefied natural gas, LNG) terbesar di Jepang terus merosot belakangan ini. Tahun lalu, Indonesia hanya memasok sepertiga kebutuhan gas alam cair negeri para samurai itu. Padahal 20 tahun silam Indonesia menguasai lebih dari separuh kebutuhan gas Jepang.
Perusahaan-perusahaan pengimpor gas Jepang mulai melirik negara produsen gas lain. Indonesia sendiri juga makin kewalahan menyuplai gas ke Jepang. Sejumlah lapangan gas mulai mengerut produksinya, sebagian karena cadangan gasnya memang tinggal sedikit. Arun di Nanggroe Aceh Darussalam, misalnya, yang dulu produsen gas terbesar Indonesia, kini cadangan gasnya mulai tergerus.
Osaka Gas Co., misalnya. Perusahaan yang terikat kontrak pembelian 1,3 juta ton per tahun hingga 2010 dari lapangan Bontang, Kalimantan Timur, itu berencana mengurangi pembelian gasnya dari Indonesia. Juru bicara perusahaan, seperti dikutip Oil & Gas Journal, Selasa pekan lalu, menyatakan akan mengurangi pasokan dari Indonesia dan meningkatkan pembelian dari negara lain. "Kami akan membeli dari Malaysia, Brunei, Australia, dan Qatar," katanya.
Tokyo Electric Power Co., yang menguasai 30 persen belanja LNG Jepang (16 juta ton per tahun), sudah mengurangi volume dari Indonesia. Produsen listrik ini hanya membeli 130 ribu ton untuk perpanjangan kontrak hingga 2009. Kontraknya sendiri sudah diteken pada 2000. Volume ini berkurang 74 persen dari kontrak sebelumnya?dari lapangan Arun II dengan lama kontrak 20 tahun.
Produsen listrik lain, Tohoku Electric Power Co., juga mengurangi belanja LNG Indonesia dari 2,1 juta ton menjadi 800 ribu ton per tahun. Sama halnya dengan Tokyo Electric, Tohoku selama 20 tahun juga membeli gas alam cair dari Arun II. Kontrak terbaru ini merupakan perpanjangan kontrak sebelumnya.
Beralihnya perusahaan-perusahaan Jepang ini sangat mungkin akibat tingginya harga gas yang ditawarkan Indo-nesia. Gas alam cair yang dijual ke Jepang, misalnya, US$ 3,5 per mmbtu. Negara-negara pesaing Indonesia seperti Australia dan Cina berani menjual gas dengan harga di bawah US$ 3 per mmbtu. Tak aneh jika Jepang minta diskon dari Indonesia, apalagi tahun lalu saja Jepang membelanjakan US$ 4,8 miliar untuk membeli gas dari Indonesia.
Tokyo Electric, kabarnya, sudah memutuskan membeli 2 juta ton per tahun dari lapangan gas dekat Darwin, Australia. Perusahaan itu juga membeli gas 1,5 juta ton dari proyek Sakhalin II di Rusia. Tokyo Gas dan Toho Gas juga memutuskan membeli LNG dari proyek Sakhalin II?yang mulai berproduksi pada 2007 dengan kapasitas 6-10 juta ton per tahun. Rusia bakal menjadi pesaing utama Indonesia di Jepang, karena lokasinya yang jauh lebih dekat.
Selain Rusia dan Australia, yang bakal menjadi ancaman Indonesia adalah Qatar. Negara ini memiliki cadangan gas 900 triliun kaki kubik, atau sembilan kali lebih banyak dari cadangan Indonesia. Dengan produksi sebesar itu, Qatar bisa menjual LNG dengan harga sangat murah, jauh di bawah harga yang ditawarkan Indonesia. Jika kapasitas kapal tanker pengangkut gas makin besar, bukan tak mungkin Qatar akan mengambil alih posisi Indonesia di Jepang.
Tak cuma harga yang membuat pembeli gas Jepang berpaling. Cadangan sejumlah lapangan gas Indonesia mulai menyusut. Arun, misalnya. Pada 1972, ketika pertama kali ditemukan, lapangan ini memiliki cadangan gas sampai 17 triliun kaki kubik. Kini cadangan gas Arun sudah di bawah 2 triliun kaki kubik. Lapangan gas Bontang ternyata juga bermasalah.
Sumber Tempo di Bontang menya-takan, gangguan produksi di lapangan juga menyebabkan Indonesia tidak mampu memenuhi kontrak. Deputi Kepala BP Migas bidang Pemasaran, Eddy Purwanto, mengakui memang ada masalah di Bontang yang menyebabkan produksinya akan menurun hingga 2006. Itu sebabnya, pada tahun ini Bontang meminta produksinya dikurangi 30 kargo dari 355 kargo yang diproduksi pada tahun sebelumnya. Dari Bontang saja, Indonesia bakal kehilangan pendapatan potensial sampai US$ 600 juta.
Di luar faktor dalam negeri, kata Eddy Purwanto, memang ada upaya liberalisasi energi, terutama nuklir, dan diver-sifikasi sumber guna jaminan keamanan pasokan. Tohoku Electric, misalnya, baru-baru ini berhasil membangun satu unit reaktor listrik setara 1,1 juta kilowatt di Higashidori, Aomori. Ini reaktor ke-17 di Jepang. Karena itulah Jepang mengurangi pembelian gas dari Indonesia.
Berkurangnya pasokan ke Jepang juga disebabkan meningkatnya kebutuhan gas domestik. Tahun lalu, sejumlah pabrik pupuk, seperti Iskandar Muda di Aceh, terpaksa mengurangi produksinya karena bahan baku gas tak bisa dipenuhi kilang-kilang gas yang ada. Bahkan pabrik pupuk Asean Aceh Fertilizer terpaksa ditutup. "Karena itulah kita mengalihkan sebagian penjualan gas ke pasar dalam negeri," kata Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina, Arie H. Soemarno.
Lagi pula, pasar gas dalam negeri juga tidak terlalu buruk. Sumber Tempo tadi menyebutkan, harga jual di dalam negeri bahkan lebih bagus ketimbang di pasar ekspor. PLN Batam, misalnya, membeli gas dengan harga sekitar US$ 3,1 per mmbtu. Dan PLN akan makin banyak menggunakan gas sebagai bahan bakar pembangkitnya, karena harga bahan bakar minyak makin hari makin mahal.
Kendati demikian, tak berarti Indonesia mulai melupakan Jepang. Bagaimanapun, Jepang masih pasar potensial bagi Indonesia. Paling tidak, Indonesia akan mencoba memperpanjang kontrak penjualan gas ke Jepang, yang kebanyakan habis pada 2010. Pada saat itu, kata Eddy, Indonesia menargetkan bisa menjual gas ke Jepang sampai 12 juta ton setahun. Sejauh ini Indonesia baru berhasil mempertahankan penjualan 6 juta ton. Sisanya sedang dalam proses negosiasi. Namun, jika tak kreatif, Indonesia bakal dilindas pesaingnya, terutama Rusia.
M. Syakur Usman
|