Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 46/XXXIII/10 - 16 Januari 2005
   
Buku

Dari Sebuah Gelanggang Pertarungan

Buku yang membahas aneka konflik intern di negara-negara Asia Pasifik. Masing-masing mempunyai kompleksitas persoalannya sendiri.

Konflik Kekerasan Internal Tinjauan Sejarah, Ekonomi, dan Kebijakan di Asia Pasifik
Editor: Dewi fortuna Anwar, Helene Bouvier, Glenn Smith, Roger Tol
Penerbit: Buku Obor
Penerjemah: Masri Maris
Halaman: XX+468; 16 X 24


Konflik kadang muncul dengan wajah aslinya, kadang dengan sebuah topeng yang pintar mengecoh. Lihatlah Konflik Kekerasan Internal, Tinjauan Sejarah, Ekonomi dan Kebijakan di Asia Pasifik yang bercerita cukup banyak dan terperinci tentang itu.

Konflik Hindu-muslim di India memang punya "alasan" sejarah yang panjang. Tapi Marc Gaborieau menunjukkan betapa pemerintah pusat memetik sentimen ini dan menggunakannya untuk kepentingan politik temporer. India, menurut istilah Gaborieau, adalah negara yang "mengesahkan" kekerasan komunal demi politik pemerintah pusat. Konflik agama dalam kerusuhan Gujarat 2002 memiliki andil untuk mempertahankan kemenangan nasionalis Hindu.

Kita tahu di mana Gaborieau berdiri: di seberang para pakar yang mendekati peristiwa itu dengan konflik ideologi atau budaya. Dan referensinya tak jauh-jauh, Bangladesh yang muslim berpisah dengan Pakistan yang juga muslim. Jelas, ideologi bukan pijakan. Itulah perpecahan yang bergerak mengikuti garis yang berbeda: berawal dari persoalan komunal, tapi berakhir sebagai isu nasional, bahkan internasional (hlm 22-30).

Konflik Kekerasan Internal juga menunjukan betapa kayanya Indonesia akan pertikaian dalam negeri. Sejarawan LIPI Asvi Warman Adam menyebut kebiasaan buruk pemerintah di negeri ini: suka menyembunyikan fakta di sepanjang pembersihan komunis pada 1965. Tulisannya berisi data korban dan sejumlah rekayasa, termasuk sebuah taktik, yakni sepekan larangan terbit bagi semua media massa, kecuali harian militer Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha sejak 1 Oktober 1965.

Konflik memiliki karakteristiknya sendiri. Dari peneliti LIPI Thung Ju Lan kita mendapat gambaran cukup komprehensif tentang itu. Konflik separatis yang biasa disebut konflik vertikal, konflik komunal yang pecah akibat antagonisme antara dua atau tiga kelompok masyarakat, konflik ideologi, dan terakhir konflik memperebutkan sumber daya alam. Kita pun tahu, dengan pendekatan ini kita bisa menyentuh, membahas lebih jauh konflik-konflik di Aceh, Papua, Ambon, Poso, Maluku Utara, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.

Sejauh ini Orde Baru memang tak begitu populer dalam mengatasi aneka konflik di negeri ini. Ia dilukiskan oleh Robert Cribb sebagai sosok yang tegak dengan tiga tonggak: kekerasan, kinerja ekonomi, dan manipulasi ideologi. Namun, Cribb secara khusus menyebut program transmigrasi sebagai program yang pincang, menimbulkan ketegangan sosial dan komunal.

Meneliti komunitas yang terpecah belah oleh kekerasan tentu saja sangat sulit. Berbagai penelitian terbentur pada faktor "siapa" yang memandang realitas, atau menurut Konflik Kekerasan Internal, "tergantung dari persepsi informan mengenai pihak mana yang didukung" atau "geografi teman dan musuh". Namun, konflik intern sebuah kenyataan yang telah begitu lama melekat di muka bumi. Menurut catatan Bank Dunia, terdapat 101 konflik bersenjata sepanjang 1989_1996. Di antara jumlah sebesar itu, 95 merupakan konflik di dalam negeri.

Buku ini mengulas dan memetakan aneka konflik di Asia Pasifik: Eva-Lotta Hedman membahas konflik kesukuan dan kekerasan komunal serta mobilisasi menjelang pemilu; Leo Suryadinata menelusuri perjalanan nasib keturunan Cina di Thailand, Indonesia, Malaysia, dan Vietnam; Kees Van Dijk menyoroti muslim Melayu di Pattani dan Moro di Filipina Selatan dan memperbandingkan karakteristik gerakan separatis. Di samping itu, ada hasil penelitian Ikrar Nusa Bhakti tentang Papua, Sidney Jones dengan Aceh, dan masih banyak lagi.

Bayu Wicaksono


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data