Tak Berakhir Bersama Gas Ketika industri raksasa mulai redup, masih ada solusi untuk bertahan hidup. Putra-putri Aceh itu kini membatik. |
CEROBONG pabrik sudah tak berasap. Mesin-mesin membisu, mulai berkarat—simbol redupnya era kejayaan industri raksasa bertaraf internasional di Bumi Nanggroe Aceh Darussalam. Namun, dari puncak cerobong, sejauh mata memandang terhampar dusun menghijau: semangat hidup tak pernah sirna dari dada penduduk kawasan ini.
Tengoklah Desa Ulee Madon. Di hening alam, terngiang deru mesin dan ketukan palu merambat dari rumah-rumah penduduk. Suaranya yang lamat-lamat seperti berjabat tangan dengan desir angin pantai dan bisik nyiur melambai. Ketika kandungan gas bumi menipis, yang berimbas pada lumpuhnya produksi pupuk dan kertas, desa para perajin di Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, kini justru menyimpan sumber devisa yang tidak bisa diremehkan.
Dari desa ini lahir aneka tas khas Aceh berkualitas ekspor. Hasil kriya tangan-tangan terampil penduduk Desa Ulee Madon itu seakan siap menggantikan ketergantungan rakyat Aceh pada gas, yang dalam hitungan tahun bakal habis dan tak terbarui. ”Gas boleh habis, namun anak-cucu kami harus tetap hidup,” kata Dailani, 40, warga Ulee Madon yang kini menjadi pemilik sekaligus perajin tas Aceh perusahaan Tia Souvenir.
Penuh percaya diri, Dailani memperlihatkan kepada Tempo sekitar 40 anak buahnya yang sedang tekun bekerja. Masing-masing bekerja tergantung keahliannya: membuat pola, mengukur, menjahit dasar, membordir, mengelem, sampai memasang ritsluiting dan kancing. ”Kami tak hanya memberi pekerjaan, tapi sekaligus membina,” kata Dailani.
Dalam sehari mereka mampu menyelesaikan tiga puluh tas. Tapi jumlah bukan hal yang terlalu penting. Karena ketat mempertahankan mutu, produk kriya Desa Ulee Madon dilirik pasar mancanegara. Kini, misalnya, mereka sedang mengerjakan 1.000 tas Aceh untuk diekspor ke Amerika Serikat dengan harga per satuan Rp 100 ribu. ”Pemesannya orang Amerika, bekas dosen di Universitas Syiah Kuala,” ujar Dailani.
Dailani tak menampik, pengembangan usaha sampai pemasaran ke mancanegara dibantu serius sejumlah perusahaan industri pupuk raksasa yang mulai redup itu. Beberapa kali Dailani diajak PT Pupuk Iskandar Muda berpameran di kota-kota besar di Indonesia dan mancanegara. ”Agustus lalu kami ikut pameran di Malaysia,” katanya. Dua perusahaan di negeri semenanjung itu langsung mengajukan pesanan.
Semangat mandiri juga berkibar di Pondok Pesantren Darul Huda di Desa Paloh Gading, Kecamatan Dewantara. Di sana, 200 santri putra-putri, dipimpin Teungku Haji Mustafa Achmad, tekun belajar membatik. Mereka dilatih beberapa pemuda Aceh yang pernah dikirim PT Pupuk Iskandar Muda belajar membatik ke Yogyakarta. Kini para santri itu sudah mampu membuat batik bermotif khas Aceh: daun pintu dan jeumpa (bunga).
Tak lupa kacang akan kulitnya, Teungku Mustafa mengaku, ”Kami juga dibantu perusahaan gas dan pupuk.” Laksana berbalas pantun, Direktur Utama PT Pupuk Iskandar Muda, Hidayat Nyakman, menuturkan, ”Alhamdulillah, bantuan yang kami berikan membawa manfaat bagi masyarakat sekitar.” Sejak 1985, pihaknya telah mengucurkan dana pembangunan masyarakat (community development) untuk pembinaan 5.479 usaha kecil dan menengah.
Dengan total dana Rp 30,2 miliar, sebanyak 54.750 pemuda Aceh telah mendapat kesempatan bekerja di luar sektor gas, pupuk, dan kertas. Namun, bila gas habis, kata Syukri A. Gani, kepala Unit Pembinaan Usaha Kecil dan Koperasi, PT Pupuk Iskandar Muda, ”Bakal banyak pula pengusaha kecil yang baru beroperasi bakal gulung tikar.”
Sadar akan ”ancaman” itu, PT Arun juga tak tinggal diam. Bersama pemerintah Kabupaten Aceh Utara dan Ikatan Ahli Tekstil Indonesia (IATI), sejak tahun lalu mereka melakukan uji coba pembangunan pabrik garmen.
Lahirlah PT Aceh Samudratex di Rancong, Batuphat Barat, Kota Lhok Seumawe. ”Jangan sampai begitu gas habis, kehidupan warga ikut mati,” kata penjabat sementara Presiden Direktur PT Arun, Aknasio Sabri. Kini, di bekas lahan perumahan—konon, pernah menjadi markas tentara untuk menginterogasi siapa pun yang dicurigai tidak setia pada pemerintah—itu berdiri pabrik garmen yang menyerap tenaga sekitar 300 putra-putri Aceh. ”Kalau berhasil, bakal dibangun di wilayah Aceh lainnya,” kata manajer pabrik PT Aceh Samudratex, Muhammad S. Lompi.
Lompi mengaku tidak mengalami kesulitan membina para putra-putri Aceh itu. Sebagian besar mereka sempat mengikuti kursus bordir yang diselenggarakan Arun, PIM, AAF, dan KKA. ”Soal membordir, wanita Aceh is the best,” kata pria asal Bugis, Sulawesi Selatan, itu. Selain memproduksi, pabrik PT Aceh Samudratex juga membuka gerai penjualan. Di sana dipajang berbagai pakaian seperti blus, jaket, werkpak, jas laboratorium, celana panjang, seragam sekolah, busana muslim, sampai pakaian anak-anak. Kualitasnya? Tak kalah dengan yang biasa dijual di mal Jakarta dan Medan.
Beberapa bulan lalu, Lompi bercerita, rombongan pedagang pakaian dari Banda Aceh hendak membeli pakaian ke Medan, Sumatera Utara. Begitu mendengar di Lhok Seumawe ada pabrik garmen, mereka berbelok ke Rancong, membatalkan perjalanan ke Medan. ”Kini mereka menjadi pelanggan kami,” kata Lompi, bangga. Sejumlah pekerja mengaku amat gembira di Aceh ada alternatif industri selain gas, pupuk, dan kertas. ”Di sinilah keterampilan membordir kami tersalurkan,” kata Siti Hajar, petugas penjualan. ”Kami tak perlu lagi mencari pekerjaan sampai ke Pulau Jawa,” Novita menambahkan.
Selain pabrik garmen, pemerintah daerah akan menghidupkan kembali sektor pertanian yang sementara ini terbengkalai. ”Kami akan memfungsikan empat sistem irigasi,” kata Bupati Aceh Utara, Teuku Alamsyah Banta. Keempat sistem irigasi itu meliputi Kreung Puan, Jamu Aye, Alue Ubang, dan Kreung Pase, yang saat ini tidak mengairi 40 ribu hektare hamparan sawah. Tahun ini, sepertiga dari Rp 500 miliar APBD Aceh Utara diprioritaskan untuk membangun irigasi. ”Ini cara paling jitu menghadapi kenyataan pascagas,” kata Alamsyah.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Aceh Utara, Teuku Zulfan, menambahkan, pihaknya akan membangun kawasan agroindustri seluas 2.850 hektare di Kecamatan Sawang. Zulfan bicara tentang pertanian terpadu dengan tenaga profesional. Di sana kelak akan ditanam berbagai tanaman untuk ekspor, terutama cokelat.
Dalam pandangan anggota DPRD Nanggroe Aceh Darussalam, Iskandar, yang terjadi kini adalah dampak mismanagement pembangunan industri yang begitu besar, sementara masalah lingkungan dan sosial terabaikan. Kalau saja kondisi ini diprediksi jauh-jauh hari, mungkin nasib rakyat Aceh tidak menderita seperti sekarang. ”Tetapi itu sudah terjadi,” kata Iskandar. ”Kini, semua pihak harus berpikir jernih untuk kesejahteraan masyarakat.”
|