Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 45/XXXIII/03 - 9 Januari 2005
   
Selingan

Mereka Kembali ke Habitatnya

Kompleks perumahan bertaraf internasional itu mulai dikunjungi satwa liar. Mencari kobra Australia dan New Zealand.

MATAHARI baru bangkit dari ufuknya. Bau tanah dan embun pagi masih tersisa. Puluhan monyet dengan bulu-bulu bersih bergelayutan, melompat dari dahan ke dahan. Pekik ceracaunya memecah keheningan rimbunan pohon akasia di Desa Ujung Pacu, Dewantara, Lhok Seumawe. Hanya berbatas pagar dengan tepi hutan, dalam hitungan menit area perumahan PT Arun, yang terletak di Desa Batuphat, dimasuki rombongan lutung itu.

Bertengger di atap-atap rumah warga, lutung-lutung itu tampaknya masih khawatir atau malu-malu masuk kota. Tatkala Tempo mencoba mendekat untuk memotret, kawanan itu menghambur masuk hutan. Begitulah pemandangan sehari-hari di kompleks perumahan Arun. ”Monyet-monyet mulai bersahabat dan menyesuaikan diri dengan warga dan alam Arun,” kata penjabat sementara Presiden Direktur PT Arun NGL Co., Aknasio Sabri. Bahkan, kalau sedang kelaparan, mereka nekat masuk dapur warga.

Meski lumayan membuat repot, aksi para lutung itu tak sampai menakutkan. ”Kami dan monyet tak saling mengganggu,” kata Ali Rasyid, warga Jalan Tarakan. Pada mulanya, sih, memang takut juga. ”Bayangkan, setiap hari genting kami diinjak-injak puluhan monyet,” kata Ali. Namun, karena warga bersikap ”toleran”, lama-lama terbiasa juga. ”Sekarang tiap pagi dan sore mereka datang,” Ali menambahkan. Bahkan kadang warga khusus membeli buah-buahan untuk tamu tak diundang itu. Padahal, jumlahnya bisa ratusan.

Pada musim buah, kunjungan monyet makin meriah. Mereka bergelayutan di pohon-pohon, bahkan di pelataran rumah, memetik dan memungut buah ranum. ”Kami malah sering tak kebagian,” kata Ali. Toh warga tak sampai marah, apalagi mengamuk. ”Mereka juga butuh makan,” ujar Munajir, jiran Ali.

Menurut Public Relations Superintendent PT Arun, Adnan Nur Yusuf, tak hanya monyet, babi hutan pun sudah mulai bertandang ke kompleks perumahan dengan fasilitas modern itu. Berbeda dengan monyet yang jenaka dan menjadi tontonan, kehadiran celeng ini malah menakutkan. Mereka spesial keluar di malam hari, mencari buah-buahan yang jatuh di halaman. ”Beberapa kali warga berpapasan dengan babi hutan di depan rumah,” kata Adnan. Tiga bulan lalu warga dan masyarakat sekitar berburu babi hutan. ”Lumayan, dapat sepuluh ekor.”

Kampung Rancong, lima kilometer dari kompleks perumahan Arun, bekas rumah-rumah pekerja kontrak Arun bertaraf internasional, kini berubah kembali menjadi padang rumput, pohon rimbun, dan pertambakan. Lahan ribuan hektare sepanjang pantai yang menghadap ke Selat Malaka itu sejak 1999 sudah tidak dijadikan hunian. Akibatnya, aneka satwa seperti mendapat arena bermain yang lumayan asyik.

Ketika Tempo menyambangi Rancong, tampak puluhan kerbau dan lembu dengan tubuh subur asyik menyantap rumput segar, hidup rukun dengan burung bangau yang mencari makan di sampingnya. Meski tempat itu tak lagi berpenghuni, pengamanan oleh aparat TNI dan sekuriti Arun di Rancong amat ketat. ”Sepi, tapi ini sudah menjadi bagian dari tugas kami menjaga obyek vital,” kata Fauzi Nasution, Wakil Komandan Regu Yon 125/Simbiasa, Sumatera Utara, yang tergabung dalam tim pengamanan obyek vital nasional.

Memang, sebelum 1980-an, perbukitan dan dataran di sana masih berwujud hutan yang dihuni aneka fauna. Hewan-hewan liar itu hilang entah ke mana begitu bukit dan pantai digundulkan, lantas dibangun sekitar seribu unit rumah karyawan Arun pada 1975. Belakangan, bersamaan dengan mulai dikosongkannya rumah-rumah oleh penghuninya akibat konflik bersenjata, menipisnya produksi gas, dan pemutusan hubungan kerja, ”Hewan-hewan itu seakan menemui habitatnya kembali,” ujar Media Relations Officer PT Arun, Irwandar.

Kawasan industri yang mulai dijadikan habitat hewan bukan hanya terjadi di Arun. Dua kilometer dari Arun, warga perumahan dan karyawan pabrik PT Pupuk Iskandar Muda dan PT Asean Aceh Fertilizer pun mulai terbiasa akan kehadiran hewan-hewan liar. ”Di sini kebanyakan biawak,” kata Kepala Humas PT PIM, Teuku Fachrulsyah. Begitu pula yang terjadi di kawasan PT Kertas Kraft Aceh, di pedalaman Kabupaten Aceh Utara. Dari sela-sela 50 ribu ton kayu pinus gelondongan yang menggunung di lapangan pabrik, berderik kawanan ular kobra.

Bagi warga pedalaman di Aceh Utara, ular itu termasuk asing. Betapa tidak? Hewan melata berbisa yang biasa dijumpai penduduk umumnya berbentuk pipih, dengan panjang sekitar 60 sentimeter. Sedangkan warna ular impor itu bukan hitam-putih, melainkan kuning-putih. Pekerja dan penduduk sekitar pun geger. Usut punya usut, ”Ternyata itu ular impor dari Australia dan New Zealand,” kata Kepala Biro Keuangan PT KKA, Muhammad Thaif. Jumlah hewan melata itu tak bisa dipastikan.

Yang jelas, ular ”mancanegara” itu kerap dijumpai karyawan dan warga sekitar. ”Bahkan ada ular yang pernah masuk rumah karyawan,” kata Bustamam, petugas keamanan. ”Ini dampak lain yang tak terduga akibat konflik bersenjata dan terhentinya pasokan gas,” ujar Thaif. Adapun awalnya, kata Thaif, ialah ketika KKA kesulitan memperoleh pasokan kayu pinus dari Aceh Tengah dan Sumatera Utara karena hebohnya konflik bersenjata. Agar produksi kertas tetap berjalan, pada 2002 KKA memutuskan membeli 50 ribu ton kayu pinus dari Australia dan New Zealand.

Rupanya, sebelum diangkut ke pedalaman Aceh Utara, kayu-kayu itu sudah menjadi sarang ular kobra. Beberapa di antaranya meletakkan telurnya di sela-sela gundukan kayu. Nahas, begitu kayu tiba, pasokan gas sebagai bahan bakar pabrik terhenti. Produksi pun mandek. Kayu yang biasanya langsung masuk pabrik untuk diolah menjadi bubur kertas itu malah mangkrak di gudang dan lapangan. Nah, telur-telur ular kobra dari Australia dan New Zealand itu pun menetas di sana, hidup dan menyatu dengan ular kobra lokal. ”Kami pun mendapat pekerjaan baru, memberantas ular,” ujar Thaif terkekeh.

Sejumlah warga asli Lhok Seumawe percaya, berkembang-biaknya hewan liar akhir-akhir ini simbol mulai meredupnya gas di bumi Serambi Mekah. Bila seluruh aset pabrik dan perumahan itu tidak dimanfaatkan lagi, amat mungkin bekas reruntuhan kompleks Arun, KKA, PIM, dan AAF itu akan kembali seperti empat dekade silam, ”Yakni semak belukar hunian monyet dan babi hutan,” ujar Mubinsyah, warga Lhok Seumawe.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data