Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 45/XXXIII/03 - 9 Januari 2005
   
Selingan

Ke Atas Tampak Lutut, ke Bawah Tampak Pusar

Napas industri gas, kertas, dan pupuk kian tersengal. Ribuan karyawan kehilangan pekerjaan, ribuan lainnya di ambang pengangguran.

Tumpukan busana muslim itu tertata dengan rapi di balik etalase Tata Mode, sebuah toko sandang di Jalan Darussalam, Lhok Seumawe. Tempo berkunjung ke sana beberapa pekan lalu. Seorang lelaki berkulit sawo matang menyembulkan kepala dari balik tumpukan kain-kain. Jenggotnya telah memutih. Marwan Yahya—nama pria itu—adalah pemilik toko tersebut. Ia menyilakan Tempo melihat-lihat kedainya. Pria berusia 47 tahun itu baru dua bulan ini banting setir menjadi pedagang baju muslim.

Selama 20 tahun Marwan mencari penghidupan di pabrik pupuk Asean Aceh Fertilizer (AAF). Kini, Ketua Serikat Pekerja PT Asean Aceh Fertilizer itu terlontar ke toko di Jalan Darussalam. Sebabnya, pupuk Asean Aceh Fertilizer, yang memproduksi pupuk dari bahan gas alam, tempat dia bekerja, tak lagi berproduksi sejak Agustus 2004. Sekitar 1.500 karyawannya bisa terancam pemutusan hubungan kerja (PHK). Maka, Marwan mengambil ancang-ancang untuk menghadapi musibah itu. Saban hari, bersama istrinya, dia mengurusi berkodi-kodi pakaian. ”Sekadar antisipasi kalau badai pemutusan hubungan kerja itu benar-benar menghempas kami,” kata Marwan kepada Tempo.

Ancang-ancang serupa diambil oleh Mukhlis Husein, karyawan AAF di bagian pemasaran. Sarjana perta-nian ini mulai bertanam jagung manis di halaman rumahnya di Kompleks AAF Kreung Geukeuh, Aceh Utara. ”Kalau pabrik tutup, saya akan kembangkan usaha ini” ujarnya. Marwan dan Mukhlis punya kawan seiring, yakni para pekerja dan pegawai dari pabrik-pabrik lain yang pernah hidup dari sokongan gas alam Aceh yang masyhur itu. Zaenudin umpamanya.

Tadinya Zaenudin adalah pegawai di bagian koperasi PT Pupuk Muda Iskandar (PIM). Dalam tiga tahun terakhir, Zaenudin membuka toko sepatu di Pasar Batuphat, Lhok Seumawe. Ia terpaksa membuka usaha sendiri setelah mendengar kabar pasokan gas sebagai bahan baku pupuk makin berkurang. Selama Zaenudin masih bekerja, tokonya ditunggui salah seorang putrinya, Cut Farida.

Marwan, Mukhlis, dan Zaenudin adalah contoh dari belasan ribu pekerja pada industri-industri berbahan baku gas di Aceh, yang dalam hitungan bulan dan tahun bakal terhempas badai pemutusan hubungan kerja (PHK). Mereka makin trauma begitu menyaksikan nasib ribuan rekan dari empat perusahaan raksasa berbahan baku gas yang telah dilibas PHK. ”Kebanyakan mereka bekerja serabutan,” kata Mukhlis.

Asean, misalnya, pada awalnya punya 1.680 orang karyawan, sekarang tinggal 1.500 orang. ”Kalau sampai Januari 2005 tak ada kejelasan, kami tak mampu bernapas lagi,” kata Ketua Media dan Opini Publik Task Force PT AAF, Edwar Salim. Pupuk Iskandar lebih melorot lagi angkanya. Dari 5.000 pekerja, tinggal 2.000 orang. ”Karena kebutuhan terbatas, sekarang sudah tak ada lagi pekerja subkontrak,” kata Kepala Perwakilan PT PIM di Jakarta, Maimun Habsyah Husein. Di PT Kertas Kraft Aceh, juga terjadi pengurangan yang besar. Mulai 1 November 2004, kata Ketua Tim Task Force PT Kertas Kraft Aceh, Muhammad Thaif, ”Kami hanya mampu mempekerjakan 180 karyawan.” Tadinya perusahaan ini punya sekitar 1.000 pegawai.

Angka penganggur potensial meningkat karena PT Arun pun mulai ”melepas” sebagian pekerjanya. Bersamaan dengan menurunnya produksi gas dari enam train menjadi empat train, pada 2002 Arun memberhentikan 230 tenaga kerja terbaik di dunia dalam bidang gas. Bahkan pada Desember 2004, sebanyak 262 pekerja handalnya harus pensiun dini. ”Banyak orang tidak tahu kalau kami sedang berduka,” kata penjabat sementara Presiden Direktur PT Arun, Aknasio Sabri.

Lhok Seumawe dan Aceh Utara yang pada 1970-1990-an begitu mudah mengecap kemakmuran dari gas alam, kini pudar perlahan-lahan. Daerah setempat yang sudah berat kondisinya, secara otomatis akan bertambah bebannya. Mengutip penjelasan penjabat sementara Bupati Aceh Utara, Teuku Alamsyah Banta, dari 440 ribu jiwa penduduk Aceh Utara, 120 ribu jiwa hidup di garis kemiskinan serta 11 persen menganggur. ”Beban kami semakin berat,” kata Alamsyah.

Di mata budayawan Aceh Utara, Ali Akbar, kondisi Aceh kini bagai helai kain yang terlalu pendek. ”Ditarik ke atas tampak lutut, ditarik ke bawah tampak pusar.”


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data