Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 45/XXXIII/03 - 9 Januari 2005
   
Laporan Utama

Dari Beranda, Mereka ke Langit

SEMUA terjadi begitu saja. Di sebuah pagi yang bersih, orang-orang pergi ke tanah lapang: bermain, baris-berbaris atau lari pagi. Tak ada tanda atau isyarat bahwa hari itu fajar datang untuk yang terakhir bagi mereka. Jarak antara bumi Aceh dan langit tak terasa, semakin dekat, semakin rapat. Di tengahnya, warga Aceh tak lagi menggapai?langsung melesat.

Lalu daratan berguncang. ?Saya pikir saya hanya pusing karena belum sarapan,? kata Aini Agustina, guru TK Aisyah, Banda Aceh.

Di pantai, laut surut tiba-tiba. Anak-anak berteriak: sibuk mencari ikan atau kerang.

Itu tak lama. Dari laut, dari kejauhan, angkara itu tiba bergulung-gulung. ?Gelombang yang tinggi, setinggi pohon kelapa,? kata seorang saksi mata. Tak banyak waktu untuk hengkang dari kejaran gemuruh tsunami akibat gempa 8,9 pada skala Richter. Kemudian apa yang ditulis Amir Hamzah dalam sajaknya itu pun terjadi:

Manusia kecil
lintang pukang
Lari terbang jatuh duduk
Air naik tetap terus
Tumbang bungkar
pokok purba

Semua idiom yang manis tentang laut?pasir putih, bau laut, tanah basah, semilir angin?berubah rasa: air cokelat bernoda, pohon merampang, laut menggada.

Para korban yang selamat berjalan gontai dari sisi jalan yang satu ke sisi jalan lainnya mencari kerabat yang hilang. Tenaga raib: bahkan untuk memindahkan jenazah dari selokan mereka tak mampu.

Yang terlihat kemudian adalah Banda Aceh menjadi kota berserak mayat. Di Meulaboh, Pidie, Bireun, Nias, Aceh Barat, Timur, dan Utara bergelimang tubuh tanpa nyawa. Juga di negara-negara sepanjang Samudra Indonesia: Bangladesh, Pakistan, India, Maladewa, Sri Lanka, dan Thailand. Di mana-mana: bersusun, bertimbun. Ketika satu orang dalam kerumunan yang selamat itu berteriak, ?Air, air!? yang lain berhamburan mencari selamat. Trauma mencekam.

Tak ada yang tersisa dari provinsi itu kecuali luka, luka, dan luka. Anak meninggalkan orang tua, istri meninggalkan suami, orang tua meninggalkan anak-anak. Dari Beranda Mekah, mereka pergi ke langit. Dari langit, mereka mengirim sajak:

Terbang hujan, ungkai badai
Terendam karam
Runtuh ripuk tamanmu rampak

Teks: Arif Zulkifli


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data