Malapetaka yang Menyatukan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa menggalang operasi kemanusiaan terbesar dalam sejarahnya untuk membantu korban gempa dan tsunami di Asia. |
AMAT jarang Kofi Annan memangkas liburan akhir tahunnya. Namun, pekan lalu, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu tak punya pilihan lain. Amukan badai tsunami yang dilihatnya di layar televisi begitu mengerikan. Puluhan ribu nyawa melayang di belasan negara. Mulai dari Indonesia, Sri Lanka, Maladewa, Malaysia, Thailand, Myanmar, India, Bangladesh, Seychelles, Madagaskar, hingga Somalia, Kenya, dan Tanzania di Afrika. Palang Merah Internasional memprediksi total jumlah korban tewas bisa menembus angka 100 ribu jiwa, dengan jutaan lainnya luka-luka.
Annan segera terbang ke kantornya di New York, Rabu lalu. Ia bertemu Jan Egeland, koordinator pemulihan bencana PBB, dan menyetujui proposal untuk pengucuran dana US$ 130 juta (Rp 1,17 triliun), sebagai langkah awal. Jumlah dana yang lebih besar akan diputuskan saat negara-negara donor bertemu pada 6 Januari 2005. "Kebutuhannya luar biasa besar. Para korban butuh makanan, air bersih, tempat tinggal, pengobatan," kata Annan dalam wawancaranya dengan CNN. "Yang lebih mengkhawatirkan adalah kemungkinan berkembangnya epidemi pascabencana," lanjutnya.
Dana US$ 130 juta tahap pertama akan diberikan untuk tiga negara dengan kerusakan terparah, yakni Indonesia, Sri Lanka, dan Maladewa. Indonesia mendapatkan US$ 40 juta (Rp 360 miliar). Sisanya untuk Sri Lanka US$ 70 juta, dan Maladewa US$ 20 juta. Dari Jenewa, Asisten Koordinator Pemulihan Keadaan Darurat, Yvette Stevens, memperkirakan jumlah dana yang dibutuhkan akan melebihi biaya pemulihan Irak pascaperang yang besarnya US$ 1,6 miliar (Rp 14,4 triliun).
Tak kurang dari sembilan lembaga PBB terlibat dalam salah satu operasi kemanusiaan terbesar dalam sejarah ini, mulai dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), Bank Dunia, sampai UNICEF, yang mengurusi anak-anak. Dalam tragedi ini disinyalir sepertiga korban adalah anak-anak. "Ini bencana dahsyat yang menghapus sebuah generasi," ujar Direktur Eksekutif UNICEF, Carol Bellamy.
Adapun Program Pangan Dunia (WFP) langsung mengirimkan 4.000 ton beras, tepung, kacang-kacangan, dan gula untuk 12 distrik di Sri Lanka. Suplai itu diperkirakan cukup untuk 500 ribu jiwa selama dua pekan, sampai bantuan berikutnya datang. Di Indonesia, UNICEF langsung menyuplai kebutuhan untuk 200 ribu anak, juga selama dua pekan.
Pengumpulan dana tampaknya tak menjadi beban berat, jika melihat antusiasme masyarakat di berbagai negara dalam memberikan donasi. Lihatlah kiprah Komite Darurat Bencana (DEC) yang menjadi payung sejumlah lembaga amal di Inggris. Hanya dalam sekejap, DEC mengumpulkan £ 15 juta (Rp 255 miliar). Tewasnya 26 warga Inggris?termasuk Lucy (14 tahun), cucu sutradara kondang Lord Richard Attenborough?yang sedang berlibur di Phuket, Thailand, ikut mempermudah penggalangan dana ini.
Namun yang membuat puyeng para relawan di lapangan justru soal koordinasi. "Banyaknya organisasi yang terlibat dalam pendistribusian bantuan justru menimbulkan situasi yang amat membingungkan," ujar Peter Rees, Kepala Bantuan Operasional Federasi Internasional Palang Merah dan Masyarakat Bulan Sabit (IFRC), yang akan melakukan sinkronisasi dengan PBB. Namun, menurut dia, "Itu normal terjadi, apalagi dengan bencana yang begini besar."
Melihat luasnya wilayah kerusakan yang terbentang dari Asia Tenggara sampai Afrika Timur, dan ancaman penyakit-penyakit pascabencana yang menakutkan, Kofi Annan harus berpacu dengan waktu untuk bisa membuat semua proses koordinasi dan distribusi menjadi efektif.
Akmal Nasery Basral
|