Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 45/XXXIII/03 - 9 Januari 2005
   
Laporan Utama

Mayat pun Dikubur tanpa Nama

Ribuan mayat yang tak dikenali dan sudah membusuk langsung dikubur. Kondisi lapangan menyulitkan untuk proses identifikasi.

Nasib merana dialami Hatthariq. Ia datang dari Lhok Seumawe ke Banda Aceh untuk mencari kakaknya, Husna. "Tapi belum ketemu," katanya. Berbagai lokasi telah ia telusuri. Tapi lagi-lagi nihil. Mengenali jenazah kerabat di Aceh ibarat mencari jarum di tumpukan jerami: semua jasad sama bentuk dan sulit dibedakan.

Mengidentifikasi jenazah korban memang bukan pekerjaan gampang. Apalagi semua jenazah sudah menggembung. Wajah mereka tak bisa dikenali. "Sebab mereka tewas karena air," kata Khalid Wardana, Sekretaris PMI Banda Aceh. Identifikasi yang bisa dilakukan pihak keluarga hanyalah mengenali ciri-ciri pakaian dan perhiasan yang dikenakan terakhir korban saat peristiwa nahas itu menerjang.

Sulitnya, mayat itu ada ribuan, bagaimana memilahnya. Dan itu pun bergelimpangan di jalan-jalan, masjid, atau pendapa. Bau busuk sudah mulai menyengat hidung. "Daripada menimbulkan penyakit, lebih baik kita kubur," kata Khalid.

Khalid benar. Namun masalah nanti akan muncul, bagaimana jika ada sanak keluarga yang ingin mencari tahu apakah saudaranya mati atau hilang. Tak ada sama sekali jejak yang bisa dirunut, baik sidik jari maupun contoh DNA. "Mau berapa lama lagi kita menguburkan jenazah jika identifikasi dilakukan," kata Edward Sy, koordinator Tim Relawan yang juga Sekretaris Jenderal PMI Sumatera Utara.

AKBP dr Agung W., tim forensik Mabes Polri yang diterbangkan ke Banda Aceh, juga mengamini Edward. Menurut Agung, dalam situasi seperti ini sangat susah melakukan identifikasi detail. Proses identifikasi, katanya, membutuhkan waktu lama. Sementara para aparat dan relawan yang ada di Aceh harus berpacu dengan waktu agar penyakit susulan tak muncul karena mayat sudah mulai membusuk. "Identifikasi hanya dilakukan dengan mengenali jenis kelaminnya, laki-laki atau perempuan," katanya.

Dr Jose Rizal dari Mer-C juga senada. Menurut Rizal, situasi lapangan dan banyaknya jumlah korban tidak memungkinkan hal itu. "Pemotongan jari atau sidik jari hanya memungkinkan untuk korban bom," ujarnya. Saat ini yang paling penting dilakukan adalah membuat posko pusat orang hilang. "Ini yang tak ada di sana," katanya.

Rusaknya sarana dan prasarana juga menjadi faktor penghambat identifikasi korban. Lihatlah, hingga Rabu pekan lalu, data terakhir yang ada di Media Center Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dari Departemen Kesehatan pada pukul 09.53 WIB, jumlah korban meninggal sudah mencapai 45.268 di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sumatera Utara. Korban hilang di kedua provinsi itu tercatat 1.240, dan sekitar 2.093 korban masih dirawat di beberapa rumah sakit. Jumlah ini diperkirakan masih akan terus bertambah.

Dari jumlah itu, hingga hari keempat, sekitar 5.000 orang dari sekitar 50.000 orang tewas sudah dikebumikan massal. Di lahan Pemda Aceh seluas 3 hektare di dekat jalan menuju Bandara Iskandar Muda, buldoser siap menggaruk tanah untuk mengebumikan korban yang sudah mulai membusuk itu.

Penanganan mayat ini berbeda dengan yang dilakukan di Thailand. Segera setelah tsunami melanda, pemerintah Thailand langsung membuka situs yang berisi foto-foto korban tewas. Tim medis internasional yang datang ke negara itu juga melakukan upaya mengambil contoh rambut dan gigi dari korban tewas.

Di Nanggroe Aceh Darussalam, entah ke mana sanak famili yang keluarganya menjadi korban ini harus mencari tahu kubur para syuhada. Tentulah mereka hanya bisa pasrah.

Fajar W.H., Nezar Patria, Nurlis E. Meuko, Edy Can, Yuswardi S. (Banda Aceh)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data