Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 45/XXXIII/03 - 9 Januari 2005
   
Laporan Utama

Setelah Peta-peta Hanyut

Bangsa ini tidak pernah belajar dari bencana. Tebusan yang teramat mahal mesti dibayar.

Jangan lagi kau tanya di mana Meulaboh
Jangan lagi kau tanya di mana Banda Aceh
Jangan lagi kau tanya di mana Bireuen...
Peta-peta telah lumpuh

Itulah kegalauan yang ditumpahkan oleh Fikar W. Eda, penyair Aceh yang tinggal di Jakarta. Hari-hari ini, titik-titik dalam peta Nanggroe Aceh Darussalam telah menjadi samar. Entah berapa persen kehidupan tinggal tersisa dari Banda Aceh, Meulaboh, Lhok Seumawe, Lhok Nga, juga Pulau Simeulue. "Peta-peta telah hanyut," kata Fikar. Kidung duka Aceh dia lantunkan dengan suara menyayat.

Bencana gempa dan tsunami, Ahad pagi 26 Desember itu, sungguh mengentak. Gedung-gedung tinggi, rumah tinggal, jembatan batu, terempas dalam kepingan seringan kapas. Jutaan orang lintang-pukang mencari selamat. Puluhan ribu jiwa di antaranya telah binasa.

Yang muncul kemudian adalah kepanikan. Seluruh negeri seperti tersengat syok massal. Kepanikan merembet sampai jauh ke luar wilayah Aceh. Bantuan kemanusiaan yang menumpuk tak terurus, terutama makanan dan obat-obatan, termasuk sumber pemicu rasa panik. Ratusan truk pengangkut bantuan terjebak di Bandara Halim Perdana Kusuma, juga di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Pesawat-pesawat yang ditumpangi relawan pun terpaksa berputar-putar di udara, mengantre giliran mendarat di Bandara Polonia, Medan.

Sementara itu, jutaan pengungsi Aceh hanya bisa menjerit. "Dua hari saya belum makan," kata Fatiah Usman, 30-an tahun. Pengungsi-pengungsi ini harus berjalan puluhan kilometer demi menyelamatkan diri dari terjangan tsunami. Begitu sampai di tempat aman, mereka belum juga mendapatkan makanan yang layak. Padahal, dengan kondisi begitu rentan, orang-orang malang inilah mangsa empuk bagi parasit malaria, virus demam berdarah, dan kuman penyebab infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Pemerintah pun dituding lalai dan kurang sigap. "Koordinasi amat kurang," kata Dr Jose Rizal Jurnalis yang tergabung dalam tim medis Mer-C, lembaga swadaya masyarakat yang khusus memberikan bantuan medis di daerah konflik dan bencana.

Jose Rizal mengisahkan pengalamannya. Sehari setelah gempa menggebrak, tim Mer-C terbang dari Jakarta ke Aceh. Ketika sampai di Banda Aceh, mereka terperangah. "Masya Allah, kota ini seperti lautan bangkai," kata Jose Rizal. Bau anyir menyelimuti udara Banda Aceh. Sejauh mata memandang, yang tampak hanyalah mayat, mayat, dan mayat, yang sebagian besar sudah dalam kondisi rusak.

Di jalanan, orang-orang tampak muram dan linglung. Sebagian mereka mendadak telah menjadi sebatang kara, kehilangan anak, ayah, ibu, keponakan, dan sepupu sekaligus. Seperti dilaporkan wartawan Tempo Yuswardi Suud, tak sedikit orang yang berusaha membolak-balik jenazah yang teronggok di jalanan. Kelesuan langsung membayang begitu tahu bahwa si mayat yang diamati bukanlah sanak-familinya.

Bantuan pangan baru mulai mengalir ke Banda Aceh pada hari ketiga setelah gempa. Itu pun jumlahnya jauh dari memadai. "Klinik Mer-C sempat saya tutup sementara karena tak sanggup melayani serbuan penduduk," kata Jose Rizal.

Banda Aceh, sebuah ibu kota provinsi, ternyata begitu jauh dari standar penanganan pascabencana yang memadai. Entahlah, apa pula yang terjadi di wilayah yang masih terisolasi semisal Meulaboh dan Pulau Simeulue.

Namun Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Alwi Shihab, menolak bila disebut pemerintah tidak sigap menangani situasi Aceh. Situasi yang begitu ruwet membuat tangan-kaki pemerintah seperti terbelenggu.

Skala musibah kali ini memang sungguh luar biasa. Jumlah korban meninggal di Aceh dan Sumatera Utara diperkirakan mencapai 80 ribu. "Merinding kita melihat mayat-mayat yang, maaf kata, seperti ikan-ikan terapung," kata Alwi tentang kondisi di Banda Aceh. Kondisi ini diperparah dengan runtuhnya moral tentara, polisi, pegawai pemerintah, lantaran mereka juga banyak yang kehilangan anggota keluarga.

Situasi makin rumit karena nyaris seluruh infrastruktur lumpuh. Hampir tak tersedia aliran listrik, air bersih, juga bahan bakar. Dengan kondisi semacam ini, Alwi seolah meminta permakluman, "Jangan dianggap pemerintah lalai."

Hening Parlan, aktivis lingkungan, membenarkan bahwa skala musibah yang demikian besar menjadi kendala utama. Tak ada satu pun negara yang siap menghadapi bencana sedahsyat ini. Namun, kekacauan di tengah penanganan tragedi Aceh kali ini meninggalkan satu bukti. "Bahwa kita tak pernah menganggap serius bencana," kata Hening, yang pernah bergiat di Wahana Lingkungan Hidup Indonesia. Bencana gempa, banjir, angin topan kerap dianggap sebagai bagian dari takdir yang mesti dijalani dengan pasrah.

Ratusan bencana yang pernah terjadi, di Bengkulu, Nabire, Alor, Sumatera Barat, di Purworejo, selama ini hanya menjadi keprihatinan sekilas. Begitu usai, kita kembali lagi lalai. Bahkan, setiap kali bencana usai, pemerintah pun kehilangan berbagai peralatan. Tenda, perlengkapan medis, dan fasilitas pengungsian lainnya lazim dibuat "bancakan" oleh pemimpin dan pejabat lokal. Akibatnya, ketika muncul musibah lain, pemerintah kembali kelabakan menyediakan fasilitas.

Sebagai negeri yang rawan sejuta bencana, menurut Hening, Indonesia mutlak membutuhkan sistem penanggulangan bencana terpadu. Sistem ini mengatur dengan rinci apa saja yang harus dilakukan pemerintah dan masyarakat, baik di masa normal maupun ketika terjadi bencana. Pemerintah pun wajib menyediakan berbagai perangkat, termasuk menyiagakan tenaga terlatih dalam jumlah memadai.

Jose Rizal Jurnalis mencontohkan gempa bumi di Kota Bam, Iran, akhir tahun 2003, yang menelan korban 40 ribu jiwa. Ketika itu penanggulangan bencana dilakukan dengan manajemen rapi. Pertama, tim perintis kecil diterjunkan untuk mengkaji situasi keseluruhan. Lalu, diturunkanlah tentara yang bertugas mengevakuasi penduduk yang terjebak di tengah gempa. Berikutnya, diturunkan tentara dengan anjing pelacak untuk mencari mayat-mayat yang tertimbun tanah.

Sementara itu, secara simultan dibangun dapur umum dan rumah sakit lapangan. Setiap sektor dikerjakan secara konsisten oleh tim-tim khusus. "Ada tim yang kerjanya cuma masak, yang lain cuma cari air bersih, lainnya lagi cuma cari mayat. Tidak serabutan seperti di sini," kata Jose Rizal. Hanya, lagi-lagi mesti dicatat bahwa gempa di Kota Bam ini terpusat pada satu wilayah. Lain halnya dengan gempa plus tsunami di Aceh yang melanda berbagai titik yang susah dijangkau.

Sistem terpadu juga mesti ditujukan untuk masyarakat. Pelatihan tentang cara menghadapi situasi darurat diadakan secara luas. Sagegayo Mako, perempuan Jepang yang tinggal di Malang, Jawa Timur, berbagi cerita. "Di Jepang, pada saat gema terjadi, televisi berulang-ulang menampilkan ilustrasi grafis yang disertai manga (kartun) tentang cara-cara menyelamatkan diri," katanya. Jadi, "TV tidak cuma menayangkan gambar-gambar sedih sepanjang hari," katanya.

Masyarakat Jepang, Sagegayo melanjutkan, juga wajib mengikuti latihan menghadapi berbagai bencana. Kota Shizuoka, misalnya, diramalkan terkena gempa sejak 25 tahun lalu. "Walau sampai sekarang ramalan itu belum terbukti, kami tetap wajib ikut latihan," katanya.

Tsunami pernah melanda Pulau Okushiri, di selatan Pulau Hokkaido, pada 1993 dan menyebabkan sekitar 200 nyawa melayang. Peristiwa ini langsung dijadikan pelajaran berharga oleh pemerintah Jepang. Berbagai program digelar. Sistem pemantau gempa disempurnakan, museum tsunami didirikan, penduduk dilatih menghadapi tsunami, dan buku-buku pedoman mengenali tsunami dirilis. Rute penyelamatan menuju area yang lebih tinggi pun dibangun. Pokoknya, mereka kapok tak mau ada tragedi Okushiri lagi.

Seperti Jepang, negeri ini juga wajib belajar dari masa lalu. Agar bencana tidak selalu berulang dengan dampak yang terus membengkak tanpa bisa dibendung. Toh, jeweran dan peringatan keras, menurut Jose Rizal, sudah datang untuk kita. Peringatan yang dibayar dengan puluhan ribu jiwa. Peringatan yang mesti ditebus dengan hanyutnya peta-peta.

Mardiyah Chamim, Sita Planasari, Abdi Purmono, Yuswardi Suud (Banda Aceh)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data