Geliat Monster Laut Gempa berskala besar memicu gelombang ribuan kilometer kubik air laut. Dalam kurun waktu 1600-1998 terjadi 105 kali tsunami. |
Makna dua kata itu biasa saja, sama sekali tidak menakutkan. Berasal dari bahasa Jepang, ?tsunami? berarti ?gelombang (nami) yang menyentuh pelabuhan (tsu)?. Tapi jangan pernah membayangkan ini hanya kecipak air di pantai tempat bocah-bocah bermain pasir. Saat menuju daratan, kecipak itu bisa berubah wujud menjadi tembok air setinggi 10-30 meter, menerjang dengan kecepatan tinggi, lalu melumatkan apa saja yang dilaluinya.
Itulah yang terjadi di Aceh, pantai Malaysia, Thailand, Sri Lanka, India, bahkan Maladewa dan Somalia, pekan lalu. Berawal dari rangkaian gempa besar di lepas pantai 148 kilometer selatan Meulaboh, Aceh, laut yang semula nyenyak tiba-tiba bergolak. Empasan ombak makin dahsyat karena pusat gempa hanya 10 kilometer di bawah permukaan laut. ?Tsunami terjadi jika pusat gempa berada kurang dari 100 kilometer dari permukaan laut,? kata Hamzah Latief, ahli tsunami yang juga pengajar di Departemen Geofisika dan Meteorologi dan Geofisika Institut Teknologi Bandung (ITB).
Gempa terbesar di dunia selama 40 tahun terakhir ini terjadi akibat tumbukan lempengan Indo-Australia dengan lempeng Eurasia. Saking kuatnya, gempa ini membuat patahan baru yang memicu dua gempa lainnya di Kepulauan Andaman dan Kepulauan Nikobar dua jam kemudian. Ini berarti, selama empat jam sejak gempa pertama, terjadi 10 gempa dengan magnitudo dari 5,8 hingga 9,0. Guncangan inilah yang mengakibatkan perubahan tiba-tiba dasar laut. Ibarat monster naga raksasa yang menggeliat, gerakan bumi itu menyebabkan ratusan kilometer kubik air laut bergolak membentuk gelombang tsunami.
Dibandingkan ombak biasa, gelombang tsunami merambat jauh lebih cepat. Dari titik pusat gempa, tingginya bisa hanya beberapa sentimeter. Namun desakan energi raksasa membuat ia mampu merambat dengan kecepatan pesawat jet?sampai 900 kilometer per jam. Makin mendekati pantai, kecepatannya akan menurun. Tapi dari sinilah bencana bermula. Karena laut makin dangkal, terjadi efek menahan laju kecepatan ombak. Hasilnya adalah gelombang terangkat ke atas, membentuk tembok air raksasa berketinggian 30 meter lebih.
Menurut Kepala Bidang Seismologi Teknik dan Tsunami Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), Fauzi, besar-kecilnya tsunami dipengaruhi kekuatan gempa, lokasi gempa di laut yang dangkal, dan jarak dari pusat gempa. Tsunami yang menghantam pantai Aceh, kata dia, ketinggiannya bervariasi antara 5 dan 10 meter dengan kecepatan 100-200 kilometer per jam. ?Tapi gempa Aceh menimbulkan tsunami dahsyat, menerpa hingga Somalia di pantai timur Afrika, yang berjarak 4.480 kilometer," katanya.
Menurut catatan Hamzah Latief dalam kurun 1600-1998 di Indonesia terjadi 105 kali tsunami; 98 karena gempa bumi, 9 disebabkan letusan gunung berapi, dan 1 kali karena tanah longsor. Kesemuanya memakan korban 54.147 jiwa.
Ia membagi zona aktifitas tsunami menjadi enam bagian; zona Busur Sunda bagian barat (16 kali), Busur Sunda bagian timur (10), Busur Banda (38), Selatan Makassar (9), Selat maluku (32), dan Irian Jaya bagian barat (3).
Tanda-tanda bakal terjadinya tsunami sebenarnya bisa diprediksi setelah gempa. Biasanya, 3-5 menit setelah gempa, permukaan air laut mendadak surut atau tersedot ke tengah dengan cepat, ?Sekitar 5-15 menit kemudian baru gelombang besar menerjang,? kata Danny T. Natawidjaja, pakar geologi gempa bumi lulusan California Institute of Technology.
Sayang, Indonesia tidak memiliki radar atau sonar pendeteksi gelombang yang berpotensi menjadi tsunami. Alhasil, tak ada cara untuk mengetahui dan menentukan arah tujuan tsunami. Padahal karena berada di pertemuan tiga batas lempeng tektonik, Indonesia adalah salah satu pusat gempa di dunia. Daerah lintasan gempa ini menyebar di sepanjang Sumatera bagian barat, Jawa bagian selatan, Nusa Tenggara bagian selatan, Sulawesi bagian selatan dan tengah, Banda bagian utara, Maluku dan Irian bagian utara dan tengah. ?Potensi terbesar ada di Sumatera,? katanya.
Artinya, kita sebenarnya bisa mengira-ngira kapan lagi monster laut ini datang.
Raju Febrian, Burhan Sholihin, Ahmad Fikri, Rini Srihartini (Bandung)
|