Meramal Gelombang, Menggantang Ancaman Tak seperti gempa, kedatangan gelombang tsunami bisa diprediksi. Sayang, di Aceh penelitian soal ini terhadang darurat militer. |
HINGGA kini tak ada ilmuwan yang berani mengklaim mampu meramal gempa. Tapi tidak demikian dengan meramal gelombang tsunami yang biasanya datang menyusul. Ada jeda 15-20 menit antara gempa dan tsunami yang menghajar Banda Aceh pekan lalu. Air bah juga baru sampai ke Sri Lanka dua jam kemudian, dan pantai timur India satu jam sesudahnya.
Teknologi untuk itu tersedia, dan di belahan bumi lain sudah lama dipakai. Jepang, yang sangat akrab dengan gempa, cukup maju dalam soal ini. Negara-negara yang menghadap Samudra Pasifik, yang tobat dengan hantaman gempa dahsyat di Cile 1960 dan di Alaska pada 1964, pun demikian. Mereka membentengi wilayah dengan sistem peringatan dini yang akan bekerja dan memberi tahu mereka setiap kali gelombang tsunami mengancam.
Jalur-jalur evakuasi pun dibangun, dan masyarakat diberi tahu apa yang mesti mereka perbuat bila ancaman itu datang. Permukiman di pantai tak dilarang, tetapi bangunan mereka disesuaikan agar tahan gempa dan gempuran gelombang. Hasilnya adalah kerusakan dan jatuhnya korban yang bisa diminimalkan dalam 30 tahun terakhir.
Tapi gempa kali ini memilih tempat tanpa alat pendeteksi. Akibatnya kerusakan total terjadi di sepanjang pantai barat Sumatera dan pulau-pulau di depannya hingga jauh ke Sri Lanka, India, Phuket di Thailand, Malaysia, Burma, dan bahkan sampai ke beberapa negara di Afrika (lihat tabel).
Pemerintah India, Malaysia, dan Indonesia yang kapok kali ini langsung memutuskan bergabung dengan negara-negara di Pasifik untuk bekerja sama memasang sensor tsunami. Begitu pula beberapa negara lain yang jadi korban kali ini. Indonesia tak mau ketinggalan.
Menurut Fauzi, Kepala Bidang Seismologi Tektonik dan Tsunami Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), sistem itu akan dibangun dalam satu-dua tahun ke depan. Caranya dengan mengintegrasikan data-data lembaganya dengan yang dimiliki institusi seperti Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) dan Badan Riset Kelautan dan Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan.
Usaha lain sebelumnya sebenarnya bukan tak ada. Salah satunya yang dilakukan oleh peneliti Departemen Geoteknologi LIPI di Bandung, Danny Hilman Natawidjaja, doktor geologi dan gempa bumi. Bekerja sama dengan Kerry Sieh, ilmuwan dari Tectonic Observatory California Institute of Technology (Caltech), sejak 1992 mereka melakukan penelitian di Kepulauan Mentawai di lepas pantai barat Sumatera Barat.
Stasiun-stasiun satelit penentu lokasi global (GPS) dipasang di Pulau Siberut, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan, dan membentuk apa yang mereka namakan SuGAr (Sumatera GPS Array). SuGAr merupakan jaringan stasiun GPS permanen di wilayah Sumatera yang akan memonitor deformasi batas lempeng atau pergerakan kerak bumi. Nantinya akan ada 34 stasiun dan kini telah terpasang 14 buah di Kepulauan Mentawai.
Rangkaian kepulauan di laut pesisir barat Sumatera yang berada tepat di atas pertemuan lempeng benua, menurut Danny, merupakan fenomena alam langka dan hanya satu-satunya di dunia. Ditambah lagi dengan adanya karang laut mikroatol yang tumbuh di sepanjang pantai kepulauan yang ternyata mencatat naik-turunnya dasar samudra dalam pertumbuhannya. "Itu membuat karang ini seperti perekam periode gempa," katanya. Dari sinilah Danny mempelajari pola berikut siklusnya, untuk membantu memperkirakan datangnya gempa berikut.
Hasilnya penelitian itu membuat Danny tak henti memberikan peringatan sejak dua tahun lalu tentang bahaya dari balik kepulauan kecil di barat Sumatera. Dari seminar ke seminar, bersama peneliti tsunami dari Institut Teknologi Bandung Dr Hamzah Latief, Danny sudah memperkirakan datangnya gempa besar yang akan diikuti bahaya tsunami di sepanjang pesisir barat Sumatera.
Memang tragedi Aceh tak sepenuhnya ada dalam peringatan Danny dkk. Mereka menduga gempa akan terjadi di bawah Mentawai. Tapi kemelesetan ramalan ini bukan tanpa sebab. Menurut Danny, zona Meulaboh hingga Pulau Andaman ini memang belum tersentuh penelitian karena alasan keamanan. Para peneliti belum bisa mencapai wilayah Simeulue karena kawasan itu berlaku status darurat militer. Mereka khawatir konflik yang tengah berlangsung akan mengancam keselamatan tim peneliti. Repot dan terlambat. Kini harga keterlambatan itulah yang harus dibayar mahal warga aceh.
Y. Tomi Aryanto, Ahmad Fikri (Bandung)
Yang Pergi dari Hari ke Hari
| Negara | Korban Tewas | Luka-luka | Hilang | Kehilangan tempat tinggal/mengungsi | | Terkonfirmasi | Perkiraan | | Indonesia | 79.940 | 100 ribu lebih | ? | Ribuan | Seratusan ribu | | Sri Lanka | 27.268 | 30.000+ | 8.200+ | 4.000+ | ~1.5 juta | | India | 12.419 | 15.000+ | - | 8.000 | Seratusan ribu | | Thailand | 2.394 | 6.800 | 9.810 | 6.130 | 29.000+ | | Somalia | 132 | ratusan | - | - | - | | Myanmar (Burma) | 90 | - | 45 | 14 | 788 | | Maladewa | 75 | - | - | 29 | 7.162 | | Malaysia | 66 | - | 183 | 6 | 5000 | | Tanzania | 10 | - | - | - | - | | Seychelles | 3 | - | - | 7 | - | | Bangladesh | 2 | - | - | - | - | | Kenya | 2 | - | - | - | - | | Afrika Selatan | 2 | - | - | - | - | | Madagaskar | 0 | - | - | - | 1200 | | Total | 122.403 | 152.000+ | 510.000 | 40.000+ | 3 jutaan |
|