Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 45/XXXIII/03 - 9 Januari 2005
   
Laporan Utama

Berkah Petuah Nenek Moyang

Simeulue merupakan pulau terdekat dari pusat gempa, dengan korban lima orang. Nasib pulau kecil yang lain masih gelap.

SUARA radio amatir dari Pulau Simeulue di Nanggroe Aceh Darussalam itu terdengar putus-putus. "Air masih naik…, orang-orang… ssrrreek ...," lalu putus. Senyap. Sinyal radio yang dimiliki perusahaan penerbangan Sabang Merauke Air Charter di Simeulue itu hanya terdengar kurang dari lima menit sepanjang Senin sore pekan lalu.

Suara radio yang putus-putus itu didengar Dewi Phoenna William, yang sedang berada di Medan. Dewi adalah pemilik sebuah resor di Simeulue. Dia coba mengontak Simeulue berkali-kali, tapi gagal. Namun, suara radio itu meyakinkan Dewi, masih ada kehidupan di pulau yang jaraknya 176 kilometer dari lepas pantai barat Kota Meulaboh itu. Ia heran. Televisi berkali-kali menayangkan kerusakan akibat terjangan gelombang pasang tsunami yang terjadi sehari sebelumnya di Lhok Seumawe, Banda Aceh, Meulaboh, hingga Sri Lanka dan Thailand—yang ratusan bahkan ribuan kilometer dari pusat gempa. Namun, tidak satu pun televisi menayangkan gambar kondisi Simeulue, daratan berpenghuni paling dekat dengan pusat gempa di Samudra Hindia itu.

Dewi gelisah. Nasib tiga karyawannya yang bertugas menjaga resor itu, yang baru dibukanya 20 bulan lalu, belum jelas. Ia menduga Pulau Simeulue, yang besarnya hanya separuh Pulau Madura dan berpenduduk 70 ribu jiwa, hancur atau setidaknya amblas ke dalam laut. "Saya ingin pergi ke Simeulue, tetapi tak ada kapal yang berani pergi ke sana," katanya.

Artinya, pulau itu tak terjamah. Namun tanda-tanda adanya kehidupan di Simeulue tertangkap oleh Kantor Pusat Bank Syariah Mandiri di Jakarta, Senin pekan lalu. Yazid, karyawan bagian teknologi informasi bank itu, melihat ada 12 kali transaksi penarikan uang dari mesin pembayar uang segar atau ATM di kantor cabang Sinabang, ibu kota pulau itu. Jumlahnya beragam dari Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta. Kantor Pusat Bank Syariah Mandiri mencoba menghubungi beberapa nomor telepon genggam karyawan di Simeulue, namun gagal. Melihat koneksi Internet yang masih online, kantor Jakarta mencoba menghubungi Simeulue melalui telepon via Internet (voice over Internet protocol).

Suara pertama yang terdengar adalah suara Yudiansyah Saleh, Manajer Operasi Bank Syariah Mandiri cabang Simeulue. Suaranya terdengar jelas ketika mengabarkan 12 karyawan bank itu semuanya selamat. Itulah kontak pertama Simeulue dengan dunia luar. Setiap hari kontak terjadi, tapi hanya dibatasi lima jam demi menghemat bahan bakar yang menghidupi generator. Rupanya, pemerintah Kabupaten Simeulue juga memanfaatkan hubungan ini dan mendatangkan 30 liter solar setiap hari. Hubungan ini pun terancam mengingat cadangan bahan bakar di pulau itu hanya cukup untuk beberapa hari.

Tempo mencoba menghubungi Yudiansyah Saleh, Kamis pekan lalu. Berhasil. Menurut Yudi, mereka masih bisa beroperasi karena generator diletakkan di lantai dua sehingga tak tersentuh air. Lantai satu kantor mereka rusak parah, tinggal tembok yang berdiri menopang. Kondisi Kota Sinabang, yang terletak di bagian selatan Simeulue, sebagian besar hancur. Persediaan bahan makanan dan minuman hanya cukup untuk waktu kurang dari seminggu.

Penyaluran bantuan memang masalah besar. Ada begitu banyak pihak yang mengulurkan tangan, tapi sedikit yang bekerja di lokasi untuk menolong korban. Sampai lima hari setelah bencana datang, belum ada bantuan yang diterima penduduk Simeulue. Landas pacu pesawat retak. Bantuan diharapkan datang melalui jalur laut. "Tolong, ini harus segera. Kalau tidak, kita bisa kehausan dan kelaparan di sini," kata Yudi dengan suara cemas.

Pulau itu luluh-lantak. Seperti dikutip The Age, koran di Australia yang mengirim wartawannya untuk terbang di atas Simeulue, Rabu pekan lalu, sekitar 90 persen bangunan di pulau ini roboh. Kerusakan paling parah terdapat di pantai utara Simeulue, yang berhadapan langsung dengan pusat gempa. Tapi Darmili, Bupati Simeulue, dalam wawancara dengan koran itu menyebut korban yang meninggal hanya lima orang. Mukjizat?

Bisa jadi. Gempa berkekuatan 9 pada skala magnitudo (6,8 skala Richter) yang disusul tsunami kali ini bukanlah musuh baru bagi orang-orang Simeulue. Gempa sudah menjadi langganan penduduk di gugusan 41 pulau yang berdiri di atas pertemuan dua lempeng benua ini. Gempa besar disusul tsunami terakhir mereka alami pada November 2002. Gempa berkekuatan 5,3 pada skala Richter itu getarannya terasa hingga pantai Sumatera Utara dan Aceh. Saat itu tsunami menggerus 207 bangunan, plus 800 bangunan lainnya rusak. Korban: 127 orang luka-luka, dan dua nyawa tak terselamatkan.

Apa rahasianya? "Nenek moyang kami berpesan, saat ada gempa, larilah ke bukit kalau ingin selamat," kata Darmili. Nasihat itu telah menjadi mantra bagi setiap penduduk Simeulue. Mereka belajar dari pengalaman paling pahit yang terjadi pada 1907. Saat itu tsunami menyeret dan menewaskan ribuan penduduk. Peristiwa itu menjadi cerita horor yang diwariskan turun-temurun.

Cerita itu bahkan mereka ingat ketika memilih ladang mata pencaharian. Meski potensi perikanan cukup besar, penduduk yang memilih menjadi nelayan jumlahnya kurang dari lima persen. Lebih dari setengah jumlah penduduk hidup dari berkebun cengkeh dan kelapa. Sebagian lagi bergiat di usaha peternakan kerbau dan ayam buras.

Hingga akhir pekan lalu, lebih dari setengah jumlah penduduk masih mengungsi di puncak-puncak bukit yang berjarak beberapa kilometer dari pantai. "Mereka takut terjadi tsunami susulan," kata Darmili.

Masalahnya, bukan hanya Pulau Simeulue yang berhadapan dengan pusat gempa. Di kawasan pantai barat Sumatera terdapat puluhan pulau kecil. Hingga kini belum jelas nasib penghuninya. Gugusan pulau itu tersebar dari Simeulue, Pulau Tuangku, Pulau Babi, hingga ke selatan di sekitar Pulau Nias.

Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Laksamana Bernard Ken Sondakh, mengkhawatirkan nasib penduduk desa-desa di kepulauan tersebut. Laksamana Bernard memerintahkan armadanya agar mengutamakan pemberian bantuan ke wilayah Meulaboh dan desa-desa di sepanjang pantai barat Sumatera.

"Banyak desa di wilayah tersebut yang sampai saat ini belum kelihatan," kata Bernard di Pusat Komando Lintas Laut Militer Jakarta, Selasa pekan lalu. TNI Angkatan Laut memberangkatkan kapal KRI Teluk Sabang yang mengangkut bantuan pangan dan obat-obatan ke kawasan kepulauan itu, Selasa pekan lalu. Kapal-kapal itu diperkirakan sampai di tujuan tiga atau empat hari kemudian.

Artinya, kapal-kapal bantuan itu berpacu dengan waktu, mengingat pasokan makanan mulai tipis di pulau-pulau korban itu. Jalur laut itulah satu-satunya peluang mengingat Meulaboh, kota induk tempat pasokan makanan selama ini, telah lumpuh. Kota itu sudah menjadi kota mayat.…

Agung Rulianto, Amal Ihsan, Sunariah, Bambang Soed (Medan)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data