|
Yordania
Bekas Jaksa Agung AS Bela Saddam
TIM penasihat hukum bekas Presiden Irak Saddam Hussein mendapat energi baru. Datangnya dari bekas Jaksa Agung Amerika Serikat Ramsey Clark. Ziad Khasawna, juru bicara tim pembela Saddam, Rabu pekan lalu mengumumkan Clark telah memberikan ”kehormatan dan inspirasi kepada tim hukum pembela Saddam: dia turut bergabung dalam tim tersebut.
Clark, bekas bos Departemen Kehakiman era Presiden Lyndon Johnson, sehari sebelumnya tiba di Amman, Yordania, tempat para pembela bekas diktator Irak itu bermarkas. Saat itu, ia menyatakan bahwa kepedulian utamanya adalah melindungi hak-hak sang bekas presiden. ”Dalam undang-undang internasional, siapa pun yang dituduh melakukan kejahatan berhak diadili di pengadilan yang adil, independen, dan tepercaya, dan tak akan ada pengadilan yang adil tanpa kualitas-kualitas itu,” katanya.
Sejak tidak menjabat, Clark dikenal sebagai pengacara garis kiri dan pengkritik pedas kebijakan luar negeri AS. Dia pernah mengunjungi Saddam di Bagdad, Februari 2003, sebelum invasi Amerika. Clark juga terlibat dalam pembelaan bekas pemimpin Yugoslavia Slobodan Milosevic di pengadilan kejahatan perang PBB di Den Haag.
Irak
Polisi Dijebak, 29 Tewas
KAUM militan Irak mengecoh polisi Bagdad dengan memberikan petunjuk palsu persembunyian pemberontak. Ketika polisi sampai ke rumah yang ditunjukkan, ledakan dahsyat terjadi dari dalam, menewaskan 29 orang, termasuk tujuh polisi. Ledakan Selasa malam di Distrik Ghazaliya itu terjadi saat para perwira sudah di pintu. Sepuluh rumah di sekitarnya runtuh akibat ledakan dan beberapa penduduk dilaporkan tertimpa reruntuhan.
Militer AS menaksir ledakan itu menggunakan sekitar 650 kilogram bahan peladak. Brigadir Jenderal Jeferey Hammond, Asisten Komandan Divisi Kavaleri I yang mengendalikan Bagdad, mengatakan rumah itu dipasangi ranjau.
Menurut Hammond, tentara Amerika dan pasukan keamanan Irak melancarkan ofensif ke selatan Bagdad untuk menangkap atau membunuh para pemberontak. Bom mobil dan berbagai serangan lain oleh pemberontak pada hari yang sama menewaskan 54 orang di ibu kota dan segitiga Sunni, termasuk 31 polisi dan satu wakil gubernur.
Pasukan Irak menggelar serangkaian penggerebekan Rabu lalu di perkampungan Azamiya dan Mahmoudiya di utara Bagdad. Dalam operasi itu, 50 tersangka pemberontak ditangkap, termasuk beberapa warga negara Suriah.
Argentina
Klub Malam Terbakar, 174 Tewas
KEBAKARAN hebat melanda klub malam yang tengah menggelar konser musik rock di Buenos Aires, ibu kota Argentina, Kamis malam pekan lalu. Diperkirakan, kebakaran itu menewaskan 174 orang tewas dan mencederai lebih dari 410 orang.
Seorang saksi mata mengatakan kebakaran ini berlangsung cepat. Korban banyak yang tewas karena saling berimpitan saat mereka menyelamatkan diri melalui pintu keluar dan tercekik asap tebal. ”Mereka saling mendorong dan berlompatan untuk menyelamatkan diri, bagaikan gelombang manusia,” kata Jose Maria Godoy, penyelenggara konser tersebut.
Pihak Pemda Buenos Aires belum bisa memastikan sebab-sebab kebakaran. Namun, beberapa saksi mata mengatakan percikan api pertama kali terlihat menyambar lapisan foam di atap klub malam dan mengobarkan api. Beberapa bagian atap kemudian runtuh menimpa sekitar 1.500 muda-mudi yang tengah menonton konser band asal Argentina, Los Cellejeros.
Sudan
Bantuan Makanan ke Darfur Batal
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menarik bantuan makanannya ke Darfur pekan lalu. Bantuan itu berupa konvoi 70 truk berisi 1.300 ton makanan yang tadinya akan dikirim ke Kota El Fasher dan Nyala di Darfur, Sudan.
Pengiriman bantuan itu dihentikan setelah terjadi pertempuran di Ghubyash antara pemerintah Sudan dan kelompok pemberontak, Sudan Liberation Army. Ini pertempuran kedua setelah pemerintah Sudah menghentikan gencatan senjata secara mendadak.
Akibat penundaan bantuan ini, dipastikan 260 ribu penduduk kehilangan ransum akhir tahunnya. Sejauh ini 70 ribu orang tewas karena kelaparan dan wabah penyakit. PBB mengkhawatirkan hal ini akan semakin parah. Apalagi dua pekan sebelumnya, 13 truk beserta muatan bantuan makanan dirampok di tengah perjalanan. Pihak PBB mencurigai ke-13 truk itu kini dipakai sebagai alat tempur. ”Mereka harus segera mengembalikan truk pengangkut bahan makanan itu,” ujar Jan Pronk, pejabat PBB yang menangani program bantuan di Sudan.
Raju Febrian (AP) YM & EWS (NYT, AP, AFP, Reuters)
|