Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 45/XXXIII/03 - 9 Januari 2005
   
Luar Negeri

Malam Kudus dalam Asap Mesiu

Natal di Irak praktis tak berbeda dengan hari-hari biasa: api lilin berlatar asap mesiu.

"Syukur" adalah refrain yang terucap berulang-ulang dari mulut para prajurit Amerika Serikat di Afganistan pada Natal 2004. Ucapan syukur itu tetap dimadahkan, kendati mereka bernatal di tengah perang dan jauh dari rumah. Ternyata ini dia sebabnya: serdadu Amerika Serikat (AS) di Afganistan merasa masih jauh lebih beruntung ketimbang rekan-rekan mereka di Irak. "Kami bersyukur berada di Afganistan yang kondisinya semakin kondusif. Kami berdoa untuk keselamatan dan keberhasilan misi teman-teman di Irak," kata Letnan Kolonel Susan Meisner.

Irak memang "neraka" bagi para prajurit AS dan tentara koalisi lain yang merayakan Natal: setiap detik nyawa mereka bisa dilalap oleh bom-bom bunuh diri yang kian ramai saja meletus di Irak. Dalam kunjungan singkatnya pada malam Natal ke Bagdad, Mosul, Tikrit, dan Fallujah, Menteri Pertahanan AS Donald Rumsfeld pun hanya mampu menjadi sinterklas sesaat.

Selebihnya, dia harus mengakui kondisi yang amat berat di Irak. Hampir 1.300 prajurit Amerika telah tewas. Sekitar 200 bom mobil menghancurkan setiap upaya ketertiban yang dibangun sejak setahun lalu. Selasa lalu, 22 prajurit Amerika yang sedang makan siang menjadi korban bom bunuh diri di dalam tenda di kamp mereka sendiri.

Tidak ada Natal bersalju (white Christmas), dan lupakan saja pohon cemara dengan gelantungan kado-kado di bawahnya. Yang harus mereka hadapi justru hujan lebat dan jalanan berlumpur serta, tentu saja, desing peluru yang bisa menyambar nyawa setiap saat. Berikut beberapa ilustrasi suasana Natal dari berbagai penjuru negeri itu: tiga jip Humvee tergelincir dan terguling ke dalam parit. Peleton ke-3 dari Kompi A, Batalion I, Resimen Infanteri ke-69 terjebak dalam aksi tembak-menembak. Delapan orang tewas karena bom mobil dan ledakan lain, belum termasuk belasan yang luka-luka.

Di beberapa kamp memang tersaji lobster dan kalkun panggang. Kostum-kostum sinterklas juga menghiasi sejumlah tenda. Toh, bagi sebagian besar prajurit AS di Irak, hari Natal tetap tak ada bedanya dengan hari-hari lain: mereka harus bertaruh nyawa dalam patroli dan mesti bersiap setiap saat dengan senjata di tangan.

Prajurit Bryan Heffinger, 25 tahun, dari Youngstown, Ohio, bahkan mengaku lebih senang melupakan Natal. Dia menghabiskan hari 25 Desember itu dengan duduk di atas menara spiral yang menghadap ke Kota Samarra di Irak Tengah. Senapannya siap merespons setiap serangan gerilyawan yang bisa muncul sewaktu-waktu: "Seseorang mengatakan sinterklas datang ke Samarra tahun ini, tapi dia akan melemparkan mortir-mortir," ujar Heffinger. Dari menara itu dia terus menatap ke arah ruas-ruas jalan yang biasa diwarnai ledakan bom dan suasana baku tembak.

Ada juga prajurit yang mencoba merayakan Natal dengan khusyuk, tapi sulitnya bukan main karena perlengkapan tempur tetap melekat di tubuh mereka untuk berjaga-jaga. "Ini amat sulit," kata Kapten Jennifer Pray, 26 tahun. Dia bertugas di Camp Ohama, Tikrit, Irak. Bersama suami dan ratusan personel lain, perawat asal Biloxi, Mississippi, itu berdoa di hadapan lilin Natal. Di kejauhan, asap hitam yang membubung tinggi akibat ledakan bom dan mortir menciptakan latar yang kelam bagi lilin-lilin Natal.

Suasana Natal di tengah masyarakat Irak juga setali tiga uang. Di Mosul, sekitar 700 ribu umat Kristen Irak merayakan misa Natal dengan penjagaan ekstraketat dari para pemuda bersenjata. Tidak ada polisi ataupun Garda Nasional yang berani membantu, karena mereka sendiri menjadi sasaran tembak. Dua gereja di Mosul rata tanah pada 7 Desember lalu dihajar bom. Bulan Agustus lalu ada 10 orang tewas ketika terjadi serangan pada lima gereja. "Kami berdoa agar Irak dibebaskan dari gelombang kekerasan," kata Nasir Izzo.

Nasir adalah satu di antara segelintir jemaat yang masih bertahan di Mosul. Bersama umat lainnya, mereka berkumpul di gereja pada malam Natal, kendati ledakan bom mengintip dari setiap sudut kota.

Wuragil (AFP, Washington Post, Estripes)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data