Putaran Pertama untuk Hamas Meski baru pertama kali memasuki arena politik Palestina, kelompok radikal Hamas menangguk sukses. Bukan berarti Palestina ke arah garis keras. |
WAJAH Atef Rabaya terlihat dingin. Sambil menghangatkan diri di dekat alat pemanas di kantor Wali Kota Ubeidiyah, manajer kampanye Partai Fatah itu seperti kehilangan gairah. "Saya sedang berusaha bangun dari guncangan ini. Para imam di masjid pasti telah membujuk masyarakat agar bersimpati ke kaum Islamis," kata Rabaya, Senin pekan lalu, sehari setelah pengumuman hasil pemilihan anggota Dewan Kota, Palestina.
Yang bikin gundah Rabaya adalah keberhasilan Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) pada putaran pertama pemilihan lokal Palestinauntuk memilih anggota Dewan Kota. Dari 26 Dewan Kota di Tepi Barat yang anggotanya dipilih serentak 23 Desember lalu, Hamas merebut sembilan, termasuk di Ubeidiyah, kota kecil dekat Bethlehem. Padahal, baru pertama kali ini Hamas "turun gunung" ke arena politik resmi Palestina.
Meskipun begitu, secara matematis Partai Fatah, yang menguasai badan legislatif lokalDewan Kotamaupun pusat sejak Otoritas Palestina menjalankan otonomi pada 1994, tetap unggul. Mereka merebut sedikitnya 12 Dewan Kota pada pemilihan kali ini. Sedangkan sisanya direbut partai-partai kecil.
Sekalipun masih unggul, sejumlah kota yang selama ini terbilang basis Fatah lepas ke Hamas. Di Ubeidiyah, misalnya, Hamas meraih tujuh dari sebelas kursi. Sisanya untuk Fatah. Kekalahan paling telak dialami Fatah di Shoyuch, kota dekat Hebron, dengan hanya merebut satu kursi dari sebelas yang ada.
"Apa yang terjadi di Tepi Barattempat yang semula menjadi basis Fatahadalah petunjuk surutnya dukungan bagi gerakan Fatah," kata Bassem Abu Somaya, pengamat politik yang tinggal di Tepi Barat.
Putaran pertama masih menyisakan pemilihan dewan di 10 kota di Jalur Gaza, yang akan digelar pada 27 Januari. Jalur Gaza selama ini dikenal sebagai "rumah" bagi para aktivis Hamas, baik jalur politik maupun sukarelawan bom bunuh diri. Jika di "kandang lawan" Hamas bisa memetik kemenangan, mereka yakin akan menangguk kemenangan pula di kandang sendiri.
Namun, peta kekuatan politik lokal baru akan lengkap setelah putaran kedua digelar April nanti untuk sekitar 30-an Dewan Kota lainnya. Toh, sinyal putaran perdana ini cukup membuat gusar petinggi Fatah. Sukses Hamas ini bisa menjadi kampanye buruk bagi Mahmud Abbas, calon terkuat pengganti mendiang Yasser Arafat dari Fatah, pada pemilihan Presiden Otoritas Palestina, Ahad nanti.
Namun, sebagai penyelenggara pemerintah, Fatah membanggakan diri mampu melaksanakan pemilihan Dewan Kota di Tepi Barat secara aman dan optimaldari 145 ribu pemilih terdaftar, 81 persennya turun ke bilik-bilik suara. Dan mereka berharap sukses tersebut berakibat positif buat calon mereka.
Lebih-lebih, menurut para analis, pemilihan presiden kali ini mirip balap kuda tunggal. Selain boikot Hamas, kandidat favorit Fatah yang kini mendekam di penjara Israel, Marwan Barghouti, tak jadi turun akibat tekanan para koleganya di Fatah. Praktis, Abbas tak punya lawan sepadan untuk pemilihan itu.
Abbas bisa saja menang. Tapi Hamas pun tengah mengukir sejarah. Adakah popularitas Hamas belakangan ini menunjukkan Palestina bergeser ke garis keras? Tidak juga, kata Hafez al-Barghouti, editor surat kabar Hayat Al-Jadida milik Otoritas Palestina. "Ini bukan soal Perjanjian Oslo atau Peta Jalan. Ini soal siapa yang memberikan pelayanan kepada rakyat," kata Hafez. Di mata Hafez, aksi-aksi sosial Hamas mendekatkannya dengan pemilih Palestina.
Yanto Musthofa (Christian Science Monitor/Ha'aretz/Al-Jazeera)
|