Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 45/XXXIII/03 - 9 Januari 2005
   
Luar Negeri

Bola Panas Menjelang Pemilu

Thailand menuduh militan muslim dilatih di Malaysia. Apa buktinya?

AKHIR 2004 adalah tutup tahun yang dihiasi kerikil tajam dalam hubungan Malaysia dan Thailand. Pasalnya, Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra melempar bola panas yang memberangkan negara tetangganya. Dalam pidato mingguannya lewat radio, 18 Desember, Thaksin menyatakan kelompok milisi muslim Thailand memperoleh pelatihan militer di hutan Malaysia. "Mereka merekrut anak muda dan melatihnya di hutan. Beberapa di antaranya di Kelantan dan lainnya di Thailand," katanya.

Thaksin juga menuding Indonesia mencuci otak militan muslim itu. "Mereka memperoleh gagasan radikal ketika belajar (Islam) di Indonesia, dan kemudian dilatih di Indonesia dan Malaysia," imbuhnya. Daerah selatan Thailand memang memanas sejak Januari tahun silam. Serangan militan muslim membuat aparat pemerintah Bangkok hingga pendeta Buddha setempat terganggu tidurnya. Sekitar 500 orang tewas akibat konflik bersenjata sepanjang 2004 antara militer Thailand dan milisi muslim yang memperjuangkan negara merdeka.

Dugaan bahwa perjuangan warga muslim Thailand dipasok dana oleh Malaysia adalah cerita lawas. Khususnya bantuan dari Kelantan yang berbatasan tiga provinsi selatan Thailand (Narathiwat, Pattani, dan Yala). Maklum, Kelantan adalah negara bagian yang diperintah partai Islam PAS. Bahkan ada kabar organisasi pembebasan Pattani pernah menerima dana 120 ribu ringgit (Rp 31 juta) dari Organisasi Kesejahteraan Islam Malaysia cabang Kelantan. Kini Thaksin secara terbuka mengukuhkan dugaan itu.

Perdana Menteri Abdullah Ahmad Badawi kaget bukan main mendengar tuduhan Thaksin saat ia mengunjungi Dubai. "Jika Thaksin Shinawatra memiliki informasi, ia seharusnya menyampaikan lewat saluran diplomatik," katanya.

Pernyataan Badawi disambut kompak pejabat Malaysia. Ketua Pemuda UMNO, Hishamuddin Tun Hussein, menilai pernyataan Thaksin sebagai tuduhan liar yang berbahaya. "Jangan menggunakan Malaysia untuk tindakan Anda (menindas penduduk muslim Thailand) yang dikutuk seluruh dunia," katanya. Bahkan pemimpin oposisi Malaysia, Lim Kit Siang, ikut menuntut Thaksin membuktikannya.

Di Jakarta, Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono juga bereaksi. Ia menyatakan pemerintah akan mengajukan nota keberatan pada Thailand jika tidak dilengkapi dengan bukti yang mendukung.

Malaysia dan Indonesia pantas berang. "Thaksin menabrak etika diplomasi," ujar Phuwadol Songprasert, pengamat hubungan regional Universitas Kasetsart di Bangkok. Seharusnya, katanya, Thaksin tak membuat pernyataan terbuka semacam itu, yang membuat pemerintah kedua negara jengkel.

Namun Bangkok mengaku punya bukti kuat berupa foto separatis muslim yang berlatih di Malaysia. "Kami siap menyerahkan foto itu kepada Malaysia jika mereka menginginkan," kata Wakil Menteri Dalam Negeri Thailand, Sutham Saengprathum. Tapi Suthan ogah menunjukkan foto itu ke wartawan. Kata Suthan, foto itu hasil jepretan aparat intelijen Thailand dengan bantuan intelijen Malaysia, awal tahun lalu.

Meski Suthan menyebut keterlibatan intelijen Malaysia, bukti foto tak cukup bagi pihak sini, yang keasliannya diragukan Menteri Dalam Negeri Malaysia Azmi Khalid. "Tak mudah membuktikan foto itu diambil di Malaysia atau di tempat lain di dunia. Bisa saja itu di Thailand," katanya. Anehnya, Thailand mengaku memperoleh foto itu pada awal 2004, tapi negara ini tak pernah memberitahukannya pada Malaysia. "Kami mempertanyakan motif pernyataan itu," ujar Badawi.

Membalas serangan balik Badawi, Thaksin menuduh pers memelintir pernyataannya. "Saya juga mengatakan (dalam pidato radio) bahwa kamp pelatihan di hutan di wilayah Malaysia mustahil ditemukan. Itulah sebabnya kami memohon kerja sama Malaysia," kilah Thaksin.

Kenapa ia nekat melempar bola panas? Ada analis menganggap tuduhan Thaksin itu sekadar jualan menjelang pemilihan umum, awal Februari nanti—yang dinilai tak akan mengganggu hubungan bilateral dua negara. "Ketegangan hubungan dengan Thailand hanya cegukan sesaat," kata P. Ramasamy, pengamat dari Universitas Nasional Malaysia.

Raihul Fadjri (AFP, Bangkok Post, Bernama)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data