|
Penari dan Anoreksia
Perempuan yang mulai menari sejak masa kanak-kanak sebaiknya waspada dengan gangguan makan. Soalnya, riset membuktikan bahwa mereka lebih berisiko mengalami anoreksia ketika tumbuh dewasa. Para psikiater dari Universitas Minnesota, Amerika Serikat, mempublikasikan temuan ini pada Journal of Sleep Research, pekan silam.
Dalam penelitian itu, para psikiater merekrut 546 perempuan berusia 17 sampai 55 tahun sebagai responden. Mereka harus menjawab beberapa pertanyaan. Mereka juga diminta untuk menyelesaikan kuesioner khusus yang dibuat untuk menunjukkan perilaku gangguan makan, gangguan tubuh, dan tanda-tanda depresi.
Hasilnya, perempuan yang belajar menari sedari masa kanak-kanak cenderung mengalami perilaku anorek-sia dan juga bulimia saat mereka tumbuh dewasa. Ini adalah kebiasaan makan yang berlebihan untuk kemudian dimuntahkan kembali demi menjaga tubuh agar tetap langsing.
Kecenderungan tersebut muncul karena sejak kecil para penari, terutama penari balet, sudah memiliki hasrat yang besar untuk tampil dengan fisik sempurna. Mereka juga dituntut untuk menjaga berat badan secara ketat agar terlihat indah saat tampil di panggung. "Karena itulah mereka cenderung terkena anoreksia ketika mereka dewasa," kata Bloomfield, juru bicara Asosiasi Kelainan Makan.
Buah Ceri Melawan Diabetes
Para penderita diabetes, cobalah banyak menyantap buah ceri. Menurut para peneliti dari Michigan State University, Amerika Serikat, buah ceri sangat berguna untuk melawan diabetes. Unsur kimia yang ada pada buah kecil mungil itu sanggup menekan tingkat gula darah pada pengidap diabetes.
Dalam penelitian ini, Muralee Nair, pemimpin tim periset, mengamati sel pankreas tikus setelah diberi sari buah ceri. Hasilnya, para peneliti menemukan bahwa unsur kimia dalam ceri yang bernama anthocyanin mampu meningkatkan produksi insulin sampai 50 persen. Uji pada manusia juga membuktikan bahwa produksi insulin meningkat secara signifikan setelah pemberian anthocyanin.
Anthocyanin adalah senyawa aktif yang memberi warna pada banyak buah-buahan, termasuk anggur, ceri, dan beri. Antioksidan tinggi yang ada dalam zat warna ini sanggup mengusir radikal bebas sehingga bagus untuk pencegahan gangguan jantung dan kanker. Walau demikian, bagaimana persisnya anthocyanin bekerja menggenjot produksi insulin belum diketahui dengan gamblang. "Masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut," kata Nair.
Ekstasi untuk Pasien Kanker
Pil ekstasi tak selamanya berdampak buruk membikin teler bin mabuk. Para penderita kanker stadium lanjut yang sudah divonis mati juga bisa ditolong oleh ekstasi. Soalnya, riset membuktikan bahwa pil ini efektif mengurangi kegelisahan saat pasien menanti ajal.
Dengan ekstasi, seseorang dapat merasakan halusinasi yang segar dan nyaman di dalam tubuh. Ekstasi juga menimbulkan perasaan gembira seolah ada energi berlebih yang mengaliri tubuh. Perasaan-perasaan inilah yang dapat membantu mengurangi rasa takut dan putus asa yang selama ini dirasakan pasien. "Dengan begitu, mereka lebih lapang menghadapi hari kematian," kata Dr. John Halpern. Psikiater dari Universitas Harvard, Amerika Serikat, ini selama empat bulan meneliti penggunaan ekstasi pada 12 pasien kanker di Lahey Clinic Medical Center, Boston.
Ekstasi, menurut Halpern, membuat pasien lebih santai dan mampu berbicara kepada keluarga dan teman-teman dekatnya. Pasien pun menjadi lebih terbuka, mau membicarakan banyak hal yang tak pernah mereka bicarakan sebelumnya. Mudah-mudahan, dengan begini, beban yang menghimpit dada pasien bisa terangkat dan mereka pun tenang menghadapi kematian.
United Press International, BBC, Associated Press
|