Ganasnya Demam Kura-kura Malaria yang menyerang lagi warga Riau menyebabkan belasan orang meninggal. Pemakaian obat yang berlebihan justru berbahaya. |
TIADA terdengar lagi suara riang anak-anak yang sedang bermain di halaman sekolah atau belajar di kelas. Siswa-siswi Sekolah Dasar Negeri 011 Batangsari, Kecamatan Mandah, Indragiri Hilir, Riau, seolah menikmati libur akhir tahun lebih awal. Sejak November lalu, praktis tidak ada kegiatan belajar-mengajar di sekolah gara-gara dua guru mereka sakit secara bergantian.
Penyakitnya? Apalagi kalau bukan malaria. Penyakit menular ini sekarang memang sedang mewabah di Kabupaten Indragiri Hilir. Hingga Desember lalu tercatat 772 orang telah terinfeksi penyakit malaria dan 13 orang meninggal.
Orang yang terserang penyakit ini akan mengalami gejala yang hampir seragam. Mereka merasakan demam berulang kali, suhu badan meningkat sampai lebih dari 40 derajat Celsius, perut mual, dan persendian terasa mau copot. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi protozoa dari genus Plasmodium. Penyebarannya terutama lewat nyamuk anopheles betina. Ketika si nyamuk menggigit dan mengisap darah manusia, ia akan menyuntikkan bibit penyakit malaria ke dalam tubuh manusia.
Menurut Kepala Dinas Kesehatan Riau, Ekmal Rusdy, ada dua jenis malaria yang menyerang warga di sana, yakni malaria tertiana dan tropika. Malaria tertiana disebabkan oleh Plasmodium vivax, dan malaria tropika muncul karena Plasmodium falciparum. Dari 373 sampel darah yang diambil oleh Dinas Kesehatan, sebanyak 127 sampel mengandung Plasmodium falciparum, 118 terkena Plasmodium vivax dan 52 campuran keduanya.
Berbeda dengan malaria tertiana yang relatif lebih gampang diatasi, malaria tropika alias demam rimba dikenal amat ganas dan mematikan. Jika tak segera ditolong, orang yang terkena penyakit ini akan mengalami infeksi pada otak dan menyebabkan pendarahan luar biasa.
Sebagian besar korban berasal dari Desa Belaras, Kecamatan Mandah, dan Desa Kuala Selat, Kecamatan Kateman, Indragiri Hilir. Kedua desa ini berawa-rawa dan amat terpencil. Desa Kuala Selat, misalnya, berjarak 80 kilometer dari kota Tembilahan, ibu kota Indragiri Hilir. Lokasi yang jauh dari kota membuat sejumlah korban tidak bisa segera dibawa ke rumah sakit. Padahal, diduga mereka telah terinfeksi malaria tak lama setelah Lebaran yang lalu.
Departemen Kesehatan RI sebenarnya telah mengumumkan tiga provinsi yang berstatus Kejadian Luar Biasa untuk penyakit malaria sejak Juni lalu, yakni Jawa Barat, Riau, dan Nanggroe Aceh Darussalam. Daerah endemik di Jawa Barat terutama meliputi wilayah Kabupaten Sukabumi. Adapun daerah yang terancam bahaya malaria di Aceh terutama di wilayah Aceh bagian barat.
Khusus untuk Aceh, diperkirakan penyebaran malaria justru akan surut untuk sementara setelah dilanda tsunami. Paling tidak, inilah analisis Triyunis Miko Wahyono dari Program Studi Epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia. Soalnya, sarang-sarang nyamuk ikut tersapu oleh gelombang tsunami. Namun, situasi aman ini tidak akan berlangsung lama. Jika kondisi lingkungan masih porak-poranda seperti saat ini, nyamuk bisa kembali bersarang. Itu sebabnya, katanya, "Dalam waktu 3-6 bulan mendatang, ancaman bahaya malaria di Aceh perlu mendapat perhatian juga."
Di Riau? Mungkin pemerintah perlu segera menangani secara lebih serius. Apalagi, korban telah berjatuhan. Perlu dicatat pula, tahun lalu Kabupaten Indragiri Hilir juga telah diserang malaria dan menyebabkan 27 orang meninggal.
Gubernur Riau Rusli Zainal sudah berjanji akan segera membangun kanal-kanal untuk menyalurkan air di rawa-rawa, terutama di Desa Belaras, Indragiri Hilir. Tujuannya tentu untuk melenyapkan sarang nyamuk.
Selain memperbaiki lingkungan, perlu juga ditingkatkan kualitas hidup warga. Soalnya, penularan penyakit ini juga amat tergantung pada daya tahan tubuh seseorang. Hal ini diungkapkan Budi Setiawan, ahli penyakit tropis dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. "Kurangnya gizi juga bisa membuat daya tahan tubuh orang melemah," ujarnya.
Budi Setiawan menduga mengganasnya malaria disebabkan oleh perilaku warga dalam minum obat antimalaria berupa klorokuin maupun pil kina. Aturannya, orang cukup menelan satu tablet sebanyak 3-4 kali sehari. Tapi warga di daerah endemik sering mengkonsumsi tiga tablet sekaligus dalam sekali telan. "Dosis yang berlebihan ini justru akan membuat penyakitnya jadi kebal," kata Budi. Yang kemudian terjadi adalah, penyakit itu semakin sulit disembuhkan dan akhirnya merenggut nyawa.
Kerap kali pula warga di Indragiri Hilir tidak menyadari betapa bahayanya malaria. Mereka menyebut penyakit ini demam kura-kura. Celakanya, sebagian warga masih percaya pada hal-hal yang berbau takhayul. Mereka menganggap demam kura-kura berasal dari kutukan dewa penjaga laut di wilayah Kabupaten Indragiri Hilir. Itu sebabnya, mereka lebih suka datang ke dukun daripada berobat ke dokter. Warga baru datang ke rumah sakit atau puskesmas apabila sudah kondisinya sudah parah.
Yang lebih memprihatinkan, para dokter juga masih sering salah diagnosis. Karena gejalanya mual dan demam, mereka terkadang menduganya terkena penyakit demam berdarah. Menurut Budi Setiawan, hal ini bisa dihindari jika si dokter menanyakan lebih dulu apakah pasien tinggal atau pernah datang ke daerah endemik malaria.
Jatuhnya korban di Riau mungkin sebuah pelajaran agar kita selalu waspada terhadap ancaman malaria. Menurut Budi, sudah waktunya pula diadakan penyegaran kembali perihal penanggulangan malaria. "Bukan hanya di masyarakat, tapi juga di dunia medis," katanya.
Utami Widowati, Evalisa Siregar
Asal-muasal Malaria *)
Malaria adalah penyakit yang menyerang manusia, burung, kera dan primata lain, hewan melata, dan pengerat, yang disebabkan oleh infeksi protozoa dari genus Plasmodium. Penyebarannya terutama lewat nyamuk anopheles betina. Ketika si nyamuk menggigit dan mengisap darah manusia, ia menyuntikkan bibit penyakit ini ke dalam tubuh manusia.
Jenis Penyakit
Penyakit malaria memiliki 4 jenis, masing-masing disebabkan oleh parasit yang berbeda. Gejala tiap-tiap jenis biasanya berupa meriang, panas dingin menggigil, dan keringat dingin. Dalam beberapa kasus yang tidak disertai pengobatan, gejala-gejala ini muncul kembali secara berkala.
- Malaria Tertiana
Disebabkan oleh Plasmodium vivax, jenis ini bisa dibilang paling gampang diatasi. Gejala demam mulai muncul dua pekan setelah infeksi dan setelah itu dapat terjadi dua hari sekali.
- Malaria Tropika (Malaria Aestivo-autumnal)
Malaria jenis ini disebabkan oleh Plasmodium falciparum dan dikenal cukup ganas karena sering membawa kematian.
- Malaria Kuartana
Disebabkan oleh Plasmodium malariae. Masa inkubasinya lebih lama daripada malaria tertiana maupun tropika. Gejala baru muncul setelah lebih dari 40 hari terkena infeksi.
- Malaria Plasmodium Ovale
Malaria yang disebabkan oleh Plasmodium ovale ini termasuk yang paling jarang ditemui.
Penanganan
Sejak 1638, malaria telah diatasi dengan getah dari batang pohon cinchona, yang lebih dikenal dengan nama kina. Obat ini berfungsi untuk menekan pertumbuhan protozoa dalam jaringan darah. Lalu, pada 1930, ahli obat-obatan Jerman berhasil menemukan atabrine (quinacrine hydrochloride) yang lebih efektif daripada quinine dan kadar racunnya lebih rendah. Pada akhir Perang Dunia II, ditemukan lagi klorokuin, yang dianggap lebih ampuh menangkal dan menyembuhkan malaria.
*) Sumber: Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular, Departemen Kesehatan
|