Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 45/XXXIII/03 - 9 Januari 2005
   
Kolom

Rekonstruksi Aceh: Membangun Rumah dan Kota

Marco Kusumawijaya

  • Arsitek tata kota

    Selagi menunggu berlangsungnya bantuan darurat, dan menanti tibanya saat konstruksi besar-besaran, sesungguhnya proses rekonstruksi fisik sudah dapat dimulai dengan menyiapkan rencana dan pilihan-pilihan strategis. Rekonstruksi yang seharusnya tidak hanya berarti membangun kembali seperti sedia kala, apalagi seadanya, melainkan membangun lebih baik. Yang dimaksud lebih baik tidak berarti lebih mahal, melainkan mengeluar-kan lebih banyak pikiran untuk memperbaiki apa yang telah salah sebelum bencana, dan sekaligus lebih siap menghadapi bencana yang akan datang. Di sinilah perlunya mengerahkan bukan hanya dana, tetapi juga tenaga dan gagasan dengan persiapan yang baik.

    Dalam menyediakan atap untuk Aceh sesudah bencana, setidaknya, ada tiga kategori yang harus dilakukan: membangun naungan darurat, membangun rumah cepat-bangun, dan terakhir membangun kota. Naungan sementara harus segera didirikan, naungan yang dapat bertahan hingga sekitar tiga bulan. Ini dapat berupa tenda yang didatangkan dalam keadaan siap rakit, ataupun yang dibangun secara darurat dengan apa saja yang ada di tempat. Selain itu, harus dicari bangunan-bangunan yang tersisa, lalu dibersihkan, dilengkapi, disiapkan menjadi penampungan sementara. Ini harus dilengkapi terutama sekali dengan sarana sanitasi seperti jamban dan lainnya. Yang tidak boleh dilupakan adalah tempat dan sarana bermain anak-anak. Sarana sementara ini mutlak harus ada untuk menghindari stres pada jiwa-jiwa muda itu, dan menyembuhkan mereka dari trauma. Ini sering dilupakan karena bermain bagi anak tidak dianggap sebagai kebutuhan dasar.

    Tiga hingga enam bulan berselang, hendaknya sudah siap rumah-rumah bangun-cepat yang bisa bersifat permanen di kawasan pedesaan, dan bersifat sementara (sanggup bertahan satu hingga satu setengah tahun) di kawasan perkotaan. Bersama ini, selayaknya telah diupayakan prasarana dasar bagi masyarakat untuk mulai membangun kembali penghasilan dan kehidupannya. Penting untuk mengupayakan supaya masyarakat bisa segera bekerja kembali, karena ini akan membangun semangat dan memberdayakan mereka dalam proses selanjutnya.

    Kategori ketiga adalah membangun yang bersifat jangka panjang?sesuatu yang juga perlu dimulai sedini mungkin. Ini berarti membangun keseluruhan kota, desa, atau aglomerasi permukiman berbentuk lainnya sebagai suatu sistem. Pada saat bersamaan, dibutuhkan penumbuhan suatu sikap budaya yang realistis dan tanggap terhadap ekologi setempat, termasuk kandungan bencananya, yang tak lagi boleh dianggap sebagai sesuatu yang ad hoc, tapi rutin.

    Memang, yang mau ditekankan adalah bahwa membangun kembali Aceh bukan hanya berarti membangun kembali rumah-rumah (berapa pun jumlahnya), tapi juga membangun kota-kota. Sebuah kota tidak sama dengan penjumlahan kuantitatif rumah-rumah itu. Kota itu merekam, dan merupakan wujud material masyarakatnya. Meskipun apa yang di atas permukaannya telah hancur, denahnya yang tersisa adalah sebuah jejak yang mengandung kenangan, struktur, hubungan dengan alam dan sejarah, dengan geografi dan biografi. Dan semua itu mendekam dalam kenangan-bersama masyarakat. Kini waktunya untuk menambah di atas jejak itu, ke dalam sistem itu, suatu unsur yang menanggapi bencana alam sebagai sesuatu yang niscaya, seperti flu atau hujan, kendati dengan frekuensi yang lebih jarang.

    Pada kota bersejarah seperti Banda Aceh, perhatian khu-sus harus diberikan pada beberapa bangunan khusus seperti Masjid Raya Baiturrahman, salah satu masjid terindah di Indonesia. Ia memang berdiri tegak di tengah-tengah reruntuh-an, tapi demi kehati-hatian, kiranya perlu ada pemeriksaan yang teliti tentang kerusakan yang mungkin telah terjadi. Pelestariannya harus segera dilakukan dengan memperbaiki apa yang rusak, supaya tidak makin parah, untuk kemudian mengambil langkah-langkah yang pada akhirnya akan melindunginya terhadap kemungkinan bencana di masa depan.

    Rumah dan bangunan lain yang (lebih) tahan gempa relatif mudah dibangun. Bahkan dalam kearifan arsitektur tradisional telah terdapat teknik-teknik yang memadai. Rumah panggung dari kayu yang menumpang di atas umpak, misalnya, akan bergoyang bersama gempa tanpa mengalami keruntuhan. Struktur beton juga dapat diperkuat untuk tahan gempa. Yang mendasar di sini adalah membuat standar teknis yang rasional dan dipatuhi melalui proses good governance. Namun, bagaimanapun, dalam menghadapi kekuatan alam, ciptaan-ciptaan manusia selalu ada batasnya. Konsep "tahan gempa" haruslah dimengerti sebagai "tahan dalam waktu yang cukup" agar makhluk hidup sempat menyelamatkan diri.

    Tsunami adalah hal lain. Sementara solusi untuk gempa bisa dicari antara lain pada masing-masing bangunan itu sendiri secara individual, solusi untuk menghadapi tsunami jelas haruslah memiliki proyeksi pada tatanan seluruh kota atau permukiman dekat pantai.

    Beberapa pilihan yang tidak saling bertentangan dan dapat dikombinasikan satu sama lain, antara lain:

    • Menjauhkan permukiman dari pantai rawan tsunami, misalnya dengan menerapkan garis sempadan pantai secara ketat, yang?sekali lagi?hanya dapat diterapkan melalui proses good governance.

    • Membangun pemecah ombak alamiah secara berlapis: hutan bakau, hutan kelapa dan bambu, bukit pasir, ditambah dengan balung-balung penerima limpahan air pasang.

    • Membangun tembok-beton pelindung (seperti dilakukan kota Taro di Jepang) sepanjang garis pantai.

    Yang wajib untuk dimulai sekarang pada semua kota dan pusat permukiman pantai rawan tsunami adalah: menyiapkan dataran-dataran tinggi di dalam atau di dekat kota/permukiman sebagai tempat pengungsian yang dapat dicapai dengan cepat dan mudah, serta jalur-jalur yang lancar dan mudah dicapai seluruh penduduk. Bukit-bukit yang telah ada di dalam dekat kota atau pusat permukiman perlu diidentifikasi dan dilembagakan sebagai tempat pengungsian, misalnya dengan peraturan daerah. Ia perlu dilengkapi dengan sarana secukupnya yang dipelihara secara berkala sehingga senantiasa siap sedia.

    Akhirnya, semuanya tak berguna bila tak dilandasi sistem peringatan dini yang efektif. Itu pun masih harus dilengkapi dengan sistem mobilisasi, baik untuk mengungsi maupun untuk menyalurkan bantuan segera, yang sigap dan gesit. Satu sikap mendasar yang diperlukan: menerima kenyataan ekologis setempat dan mengembangkan budaya yang sesuai dengan itu. Bencana alam harus diterima sebagai sesuatu yang niscaya terjadi lagi dan lagi, seperti flu, atau hujan, jadi bukan hukuman Tuhan atau murka bumi. Yang penting adalah, seperti pepatah lama, "sedia payung sebelum hujan" dan kepala harus dingin. Refleksi mistik boleh saja untuk memperkaya batin, tetapi solusi hanya dapat dicari dan dilaksanakan melalui kerja tekun dan ilmiah.


  •  
    buatan Radja|endro
    Majalah Tempo
    30/XXXVII/15 - 21 September 2008

     

    Berita lainnya

    Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
    Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
    Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
    Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
    Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
    Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
    Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
    BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
    Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
    Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
    >

    index berita

    buatan danendro | Registrasi | Help | About us
      copyright TEMPO 2003

    Kembali ke atas
    Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
    Majalah | Koran Tempo | Pusat Data