Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 45/XXXIII/03 - 9 Januari 2005
   
Film

Saya Tidak Menyindir Siapa-Siapa

Inilah wilayah lowong dalam perfilman Indonesia kontemporer: komedi hitam. Sebuah genre yang paling pelik dan luar biasa susah. Maklum, urat lucu penonton Indonesia berbeda-beda. Di masa lalu, pasangan sutradara Nyak Abbas Akup atau penulis skenario Asrul Sani, yang mampu membuat penonton menertawakan kebodohannya sendiri, serta aktor Deddy Mizwar setia mengisi kawasan lowong itu. Kini Deddy Mizwar, aktor-sutradara peraih empat Piala Citra dan dua Piala Vidya (untuk sinetron), ingin menghidupkan lagi semangat itu melalui film Ketika. Kepada Akmal Nasery Basral dari Tempo, Deddy bercerita.

Sebenarnya apa yang ingin Anda sampaikan lewat Ketika?

Sederhana saja. Saya setuju dengan penegakan hukum, tetapi apakah infrastrukturnya sudah siap? Orang tidak boleh menyeberang jalan sembarangan, setuju saya. Tapi bagaimana dengan orang-orang tua atau pe-nyandang cacat? Apakah ada elevator atau sarana yang lebih memudahkan bagi mereka untuk menyeberang jalan? Masyarakat tidak boleh buang sampah sembarangan, oke. Sayangnya, tempat sampah di wilayah publik sering sulit ditemukan. Kalaupun ada, sudah rusak. Ini problem riil yang kita temui sehari-hari.


Mengapa memilih bentuk black comedy?

Saya lebih suka menyebutnya komedi fantasi. Ini sebuah fantasi tentang negeri antah berantah ketika hukum tegak. Jadi, saya tidak menyindir siapa-siapa. Warna seragam aparatnya saja berbeda (tertawa). Kalau di beberapa adegan penonton tertawa, barangkali penonton juga ingin hal tersebut terjadi di masyarakat kita. Yang lebih penting, saya ingin menyodorkan bentuk yang berbeda dari film-film Indonesia sekarang yang cuma menggambarkan remaja yang ngebet ciuman, atau film-film setan. Kalau momen menggeliatnya film Indonesia ini tidak dimanfaatkan dengan baik, perfilman Indonesia akhirnya cuma berkutat di tema itu-itu saja.


Anda memakai aktor-aktor besar seperti Rano Karno dan Didi Petet hanya untuk satu scene dengan dialog yang singkat pula. Apakah ini trik dagang untuk mendongkrak popularitas film?

Boleh juga dibilang begitu (tertawa). Tapi sebenarnya peran Rano dan Didi di film ini memang hanya bisa dihidupkan oleh mereka berdua. Akan kurang bagus bila dimainkan aktor lain.


Adegan Tajir menggendong putrinya, Mutiara, mengingatkan pada Nagabonar yang menggendong emaknya. Apakah memang ini didedikasikan sebagai penghormatan visual untuk Nagabonar?

Di skenario tidak begitu. Tajir hanya meletakkan Mutiara, yang tertidur, ke atas jok bajaj yang ia bawa. Selama menyetir bajaj, Tajir menangis melihat hidupnya yang susah. Tapi, karena terjadi pergantian pemeran utama, ada juga hikmahnya. Karena Teteh (Senandung Nacita—Red) adalah anak saya sendiri, tidak ada masalah bagi saya untuk menggendongnya sekaligus menggambarkan beratnya beban Tajir sebagai seorang ayah. Mereka jatuh miskin bukan karena gaya hidup sang anak, melainkan akibat ambisi Tajir sang ayah yang lepas kontrol sehingga seluruh keluarga menderita.


Tentang Nagabonar, ada rencana membuat re-make film ini?

Sebenarnya saya dan Pak Asrul (Sani, penulis skenario Nagabonar) akan membuat sekuelnya. Pak Asrul sudah mulai menulis beberapa bagian, termasuk tokoh Bujang yang "hidup kembali". Sebetulnya bukan hidup, itu kembarannya yang selama ini dianggap sudah meninggal. Wallahualam, Pak Asrul mendahului kita. Hamid Jabbar kemudian bilang ingin melanjutkan pointers yang sudah ditulis Pak Asrul. Tapi Hamid juga meninggal tak lama kemudian. Saya berpikir mungkin Tabah Penemuan bisa melanjutkan, karena setting sosial dan kultural Sumatera Utara dikuasainya dengan baik.


Anda turun ke kampus-kampus untuk mempromosikan Ketika, bahkan melakukan pemutaran film. Mengapa?

Kunjungan itu hanya untuk beberapa kampus. Yang lebih diutamakan adalah anak-anak SMA. Saya memberikan 10 tiket ke satu SMA, dan mengundang beberapa SMA di satu kawasan untuk menonton Ketika di bioskop terdekat dengan sekolah mereka. Misalnya, untuk SMA-SMA di Jakarta Pusat, mereka menonton di Atrium Senen. Kiat ini lebih efektif ketimbang mendatangi SMA satu per satu. Saya ingin film ini ditonton sebanyak mungkin pelajar dan mahasiswa.


Rencana setelah ini?

Untuk layar lebar, insya Allah judulnya Alangkah Lucunya Negeri Kami. Atau saya akan memfilmkan skenario Sepatu Biru-nya Garin Nugroho. Kami sudah membicarakan tentang ini sejak sekitar 10 tahun lalu, tapi sama-sama sibuk. Mungkin sekarang sudah waktunya. Skenarionya dahsyat.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data